in

Sarpras Gedung Ki Narto Sabdo Belum Lengkap, Begini Tanggapan Ketua Dekase Kota Semarang

Gedung Ki Narto Sabdo di Komplek Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) di Jalan Sriwijaya, Kota Semarang, baru-baru ini.

HALO SEMARANG – Pembangunan gedung pertunjukan Ki Narto Sabdo, di kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jalan Sriwijaya kini telah rampung. Namun gedung ini belum bisa digunakan, karena fasilitas pendukung dan sarana prasarana (Sarpras) di dalamnya belum lengkap.

Ketua Dewan Kesenian Kota Semarang (Dekase), Adhitia Armitrianto mengatakan, dengan kondisi tersebut sehingga seniman harus kembali bersabar. Menurutnya, gedung megah ini dikonsep untuk pertunjukan seni budaya, musik, dan lainnya dengan fasilitas atau standar internasional. Fisik gedung memang sudah terbangun, namun perlengkapan seperti sound, layar, lighting yang ada saat ini masih standar pertujukan lokal.

“Fisiknya memang sudah jadi, tapi informasinya belum sesuai harapan, karena masih ada kekurangan untuk sarana pertunjukan,” terangnya, Selasa (28/2/2023).

Adhit, sapaannya, menjelaskan, belum lama ini pihaknya sudah bertemu dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Wing Wiyarso. Menurut Adhit, dari pertemuan tersebut diketahui fisik gedung Ki Narto Sabdo belum diserahkan.

“Disbudpar belum bersedia menerima karena dirasa masih kurang. Misalnya masalah lighting, background yang harusnya LED masih yang lama,” imbuhnya

Pembangunan gedung dan fasilitas yang ada, diketahui dilakukan oleh Dinas Penataan Ruang (Distaru). Penganggaran gedung dan fasilitasnya pun dilakukan secara multi years, serta menghabiskan dana APBD belasan miliar.

Saat pembangunan, kata dia, Dekase memang diajak berembuk. Pihaknya pun mengapresiasi gedung yang dibangun saat ini sudah jadi, dan bisa dibilang sangat megah.

“Secara pribadi, saya mendukung agar perlengkapan untuk penampil ini harus dilengkapi. Di Semarang, memang ada Gedung Radjawali, dengan fasilitas internasional. Tapi kan ini milik swasta,” ungkap dia.

Untuk Gedung Ki Narto Sabdo, lanjut dia, memang konsepnya bisa digunakan untuk konser maupun teater. Wayang orang Ngesti Pandawa, pun bisa memakai gedung tersebut.

“Kalau Ngesti Pandawa idealnya harus ada gedung khusus, mereka punya ciri khas geber dan kostum yang cukup banyak. Bisa difokuskan di wilayah TBRS,” harapnya.

Menurut dia, sebelum dibuka memang fasilitas dan infrastruktur pertunjukan harus dilengkapi terlebih dahulu. Nantinya, tinggal pengelolaan yang dilakukan Disbudpar harus dilakukan secara profesional jika memang fasilitas gedung sudah lengkap dan sudah bisa menggunakan gedung tersebut untuk seni pertunjukan.

“Sembari menunggu lengkap, kita harus bersabar. Tapi harapan saya tahun ini bisa dilengkapi dan bisa digunakan,” pungkasnya.

Kepala Disbudpar Kota Semarang, Wing Wiyarso menjelaskan, gedung Ki Narto Sabdo belum siap sepenuhnya untuk dioperasionalkan, karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dari segi sarpras.

“Fisiknya memang sudah jadi, tapi belum diserahkan. Bu Ita (Wali Kota,red) minta Distaru untuk mengisi kekurangannya dulu,” ujarnya.

Mantan Kabag Humas Pemkot Semarang ini menuturkan, kekurangan sarpras memang harus dipenuhi. Misalnya, lighting, brijing, ruang rias, pintu pendingin ruangan, dan sound system.

Menurutnya, jika dipaksakan dengan menyewa alat untuk menambal kekurangan, juga tidak maksimal dan akan membebani anggaran. Apalagi gedung ini di setting sebagai tempat pertunjukan dengan skala internasional.

“Dari pada nggak maksimal, harus dilengkapi dulu kekurangan sarprasnya. Memang ada soundnya tapi untuk gedung pertemuan bukan untuk pertunjukan, tentu harus propper dari segi kualitas dan spesifikasi,” imbuhnya.

Meski masih banyak perbaikan dari segi sarpras, Wing optimis tahun ini Ki Narto Sabdo bisa digunakan. Apalagi, informasinya kekurangan yang ada akan dianggarkan pada tahun ini juga. (HS-06)

Bank Jateng Resmikan KUR Super Mikro dengan Bunga Tiga Persen

Komisi A Soroti Beroperasinya Truk Tambang Galian C di Luar Jam yang Disepakati