HALO KENDAL – Melonjaknya harga telur di pasaran yang mencapai Rp 33 ribu per Kilogram, membuat Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah, Suwardi angkat bicara.
Menurutnya kenaikan harga telur di pasaran, dikarenanakan para peternak menyesuaikan harga pakan ternak yang sudah melambung tinggi sebelumnya.
“Kalau harga dari kami Rp 27 ribu per kilogram. Kalau di pasaran jadi Rp 33 ribu, mungkin karena natal dan tahun baru,” ungkapnya kepada awak media, Rabu (29/12/2021).
Suwardi mengungkapkan, kenaikan harga pakan ternak mencapai 20 persen.
“Sesuai Permendagri Nomor 7 tahun 2020, seharusnya harga pakan ternak ayam paling tinggi Rp 5.700 per kilogram. Tapi ternyata naik sampai Rp 7.200 per kilogram,” ungkapnya.
Menurut Suwardi, perhitungan harga, jika dikonversi dengan Harga Pokok Produksi atau HPP, yaitu harga pakan Rp 7.200 dikalikan 3,5 maka akan ketemu angka Rp 24.500.
“Dengan mengambil keuntungan sedikit, maka koperasi menjual hanya dengan harga Rp 27 ribu per kilogram,” imbuhnya.
Jadi, lanjut Suwardi, harga telur di pasaran yang mencapai harga di atas Rp 30 ribu tersebut, bukan dari peternak penyebabnya.
“Memang ada kenaikan sepuluh persen dari peternak. Sehingga harga yang ditetapkan oleh peternak adalah Rp 27 ribu. Seandainya naik, paling di angka Rp 1.000 atau Rp 1.500. Jadi masih di bawah harga Rp 30 ribu per kilogramnya,” imbuh Suwardi.
Dirinya juga mengungkapkan, pada bulan September – November lalu, hampir 20 persen peternak di Kendal mengurangi populasi.
“Bahkan sebagian peternak ada yang sampai koleb atau bangkrut. Akibat harga telur waktu itu di tingkat peternak atau koperasi anjlok sampai harga Rp 12 ribu per kilogram, sedangkan harga pakan ternak ayam naik. Sehingga para peternak mengalami kerugian Rp 7 ribu sampai Rp 9 ribu per kilogram dari jumlah produksi,” ungkapnya lagi.
Untuk menekan kerugian yang cukup tinggi tersebut, para peternak mengurangi populasi ayam ternaknya, sehingga produksi telur pun turun.
“Dari yang awalnya 320 ton per hari, menjadi 260 ton per hari,” pungkas Suwardi.
Sementara itu, Sekretaris Koperasi Ternak Unggas Sukorejo Kendal, Lukman Efendi mengaku, kenaikan harga telur yang sangat tinggi saat ini, dikarenakan aksi borong untuk program bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).
“Sehingga di mana-mana, banyak yang memborong telur untuk bantuan PKH tersebut,” jelas Lukman.
Di sisi lain, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kendal, Ferinando Rad Bonay mengatakan, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Paguyuban Pedagang Telur dan Peternak Ayam.
“Ya mereka mengaku sebagian besar menurunkan populasi ternak dan sebagian lagi banyak ternak yang terserang penyakit. Sehingga mempengaruhi produksi telur,” terangnya. (HS-06).