HALO SEMARANG – Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) Indonesia, terdapat 8.043 kasus pengidap AIDS yang terdeteksi pada 2021. Dari jumlah itu, sebanyak 1.119 kasus pengidap Aids paling banyak di Jawa Tengah.
Berdasarkan wilayahnya, Jawa Tengah menjadi provinsi dengan kasus pengidap Aids terbanyak di Indonesia pada 2021. Tercatat ada 1.119 orang yang terjangkit penyakit tersebut sepanjang tahun lalu.
Posisi kedua ditempati oleh Bali dengan kasus pengidap Aids sebanyak 492 orang. Lalu, ada 394 kasus pengidap Aids yang terdeteksi di Jawa Timur.
Per September 2022, kasus HIV/Aids di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, misalnya, data menunjukkan secara kumulatif ditemukan menjangkiti 1.271 kasus. Data tersebut berdasarkan data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Klaten.
Dari jumlah itu, sekitar 64,2 persen atau 816 kasus yang ditemukan menyerang usia produktif antara umur 25 sampai 45 tahun.
Di Grobogan misalnya, menyebutkan sejak 2002 hingga Oktober 2022 tercatat ada 1.629 kasus HIV/Aids yang ditemukan. Dari jumlah tersebut, kelompok pekerja swasta atau wiraswasta berada di urutan pertama dengan jumlah mencapai 600 kasus, 350 orang di antaranya merupakan ibu rumah tangga, barulah kalangan pekerja seks komersial (PSK) dengan 133 kasus.
Membaca hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko sangat prihatin dengan paparan data yang ada. Heri mengatakan, angka usia produktif seharusnya bisa menjadi kunci pendorong kemajuan perekonomian, justru malah masuk dalam jurang HIV/Aids.
“Kita ini kan sedang dalam upaya survive dari Covid-19 dan ancaman resesi, usia produktif justru terjebak dalam problem berbahaya ini. Bagaimana nasib bangsa ini ke depan?,” ungkapnya.
Heri Londo, sapaan akrab Wakil Ketua DPRD Jateng itu, meminta pemerintah untuk melakukan penanganan serius terkait kasus HIV/Aids ini. Ia meminta agar sosialisasi dan konseling pada usia produktif agar lebih masif.
“Harus lebih masif lagi, karena ini tentang masa depan Jawa Tengah,” ungkapnya.
Heri menambahkan, ia mendorong agar pemerintah membuat program pendampingan yang lebih matang dan inovatif, sehingga bisa diterima oleh kalangan usia produktif.
“Itu dimulai dari bawah, sehingga memang kita harus menyadarkan kepada masyarakat untuk berperilaku hidup yang baik, meninggalkan narkoba, seks bebas, dan seterusnya,” pungkas politisi Partai Gerinrda tersebut.(HS)