in

Waspadai Penularan PMK, Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Ada Pengawasan Ketat

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko saat menjadi pembicara diskusi "Peningkatan Partisipasi Perempuan Dalam Proses Pengambilan Keputusan" yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah di Kantor Bapeda Kabupaten Semarang, Senin (21/3/2022).

HALO SEMARANG – Untuk mencegah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) menyerang ternak sapi di Jateng, Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko berharap ada pengawasan ketat dalam lalu lintas hewan. Selain itu pihak Dinas Peternakan Jawa Tengah juga diharapkan memantau kondisi para peternak di daerah, dan melakukan pendampingan jika diketahui ada gejala penularan di tingkat peternakan.

“Perlu kerja sama lintas sektoral, dalam hal ini Dinas Peternakan, Dinas Perhubungan, dan Dinas Kesehatan. Siapkan juga dokter kesehatan hewan untuk pendampingan di tingkat peternak. Kalau memang ada indikasi kasus yang sifatnya fluktuatif, harus benar-benar dikawal agar tak menjadi wabah di Jateng,” jelas dia, Minggu (15/5/2022).

PMK adalah penyakit yang menyerang hewan ternak yang paling menular. PMK umumnya menjangkit hewan dengan kuku terbelah seperti sapi, kerbau, unta, domba, kambing, rusa, dan babi. PMK sebelumnya telah menyerang hewan ternak di Daerah Istimewa Aceh, NTB, dan Jawa Timur.

Meski begitu, dirinya mengimbau agar peternak di Jateng tidak panik terhadap adanya penyakit ini. Masyarakat perlu melaporkan, apabila ada indikasi penyakit yang terdapat pada bagian mulut dan kuku hewan ternak. Apalagi kalau hewan ternak tersebut baru dibeli dari luar wilayah Jateng.

“Kalau bisa, sebelum dibawa ke Jateng dikarantina dulu, diperiksa dulu kesehatannya. Kalau memang terjangkit segera ditracing dan langkah antisipasi lainnya, supaya tidak ada penularan,” katanya.

Ditambahkan, menjelang Idul Adha tahun, perlu ada pengecekan ke beberapa peternakan dan Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Hal itu diperlukan untuk memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat.

“Pemerintah daerah harus aktif untuk mengatasi masalah ini, agar tak menjadi keresahan masyarakat, khususnya peternak. Antisipasi perlu dilakukan, dengan pengawasan ketat, karantina ternak yang masuk ke Jateng, isolasi jika ada temuan, dan upaya lainnya,” katanya.

Sementara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membentuk tim unit reaksi cepat guna mencegah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang saat ini menjangkit ribuan ternak sapi di Jawa Timur.

“Tim ini bertugas melakukan penyekatan lalu lintas hewan di perbatasan dan melakukan penanganan kasus PMK di Jateng,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jateng Agus Wariyanto di Semarang, Kamis (12/5/2022).

Ia menjelaskan, pembentukan tim Unit Reaksi Cepat PMK itu atas instruksi Kementerian Pertanian dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Menurut dia, wilayah yang berbatasan dengan Provinsi Jatim akan dilakukan pengawasan secara ketat dan jika ditemui hewan ternak bergejala PMK di perbatasan akan dilakukan penghentian dan pemulangan.

“Tim URC PMK dibentuk untuk memantau terkait lalu lintas ternak yang masuk di perbatasan. Kami pernah memulangkan dua truk hewan ternak dari Probolinggo (Jatim) yang hendak ke Tasikmalaya (Jabar) karena menunjukkan gejala PKM, kami juga melakukan informasi dan edukasi, bahwa PMK ini bisa disembuhkan,” ujarnya.

Ia menyebut pada perbatasan Jateng-Jatim terdapat beberapa pos pantau yang disiagakan, di antaranya, cek poin Lasem, Cepu, Banaran, Selogiri (Wonogiri), dan Cemoro Sewu-Tawangmangu (Karanganyar).

“Jawa Tengah sendiri telah bebas dari PMK sejak 1990, adapun episentrum PMK yang menyerang di 2022 berasal dari empat wilayah di Jatim yakni, Gresik, Mojokerto, Lamongan, dan Sidoarjo,” katanya.

Kendati demikian, Agus tidak menampik ada temuan kasus PMK di Jateng, namun memastikan telah menerapkan pola isolasi dan penyembuhan agar tidak menular. Sedangkan tingkat kematian PMK tergolong rendah dan pada kasus yang pernah melanda Jateng pada 1980-an, tingkat kematiannya hanya 5-10 persen.

Ia menegaskan PMK yang menyerang sapi, kambing, domba bisa disembuhkan dan produk daging dari hewan-hewan ternak tersebut masih bisa dikonsumsi.

“Meski pun dagingnya bisa dikonsumsi, tapi PMK bisa menurunkan harga jual hewan maupun produk hewan berkuku belah ini karena jika terserang PMK nafsu makan hewan, yang akan menurunkan bobot atau produksi susu. Hati-hati pada bagian moncongnya yang mengalami luka lepuh atau berliur serta saluran cerna (jangan dimakan). Virus ini tidak menular ke manusia, jangan khawatir ini tidak seperti covid-19,” ujarnya.(Advetorial-HS)

Akan Tampil di Yogyakarta, Konser Kangen Band Akan Obati Kerinduan Masyarakat dan Fans

Oktafianus Fernando Resmi Gabung PSIS