in

Chacha Tak Ingin Ada Lagi Kasus Stunting Di Kendal

Ketua TP PKK Kabupaten Kendal, Wynne Frederica Dico Ganinduto saat bercanda dengan ibu-ibu dan anak-anak di RT 5 RW 4 Kelurahan Bandengan, Kecamatan Kendal, Kamis (6/5/2021).

 

HALO KENDAL – Stunting adalah kondisi anak yang megalami pertumbuhan kurang baik. Kondisi ini diakibatkan oleh asupan ibu selama kehamilan yang kurang berkualitas, sehingga nutrisi yang diterima janin sedikit.

Hal tersebut disampaikan Ketua TP PKK Kabupaten Kendal, Wynne Frederica Dico Ganinduto, saat mengunjungi anak yang berisiko stunting dan anak stunting di Kelurahan Bandengan, Kecamatan Kendal, Kamis (6/5/2021).

Istri Bupati Kendal, Dico M Ganinduto yang akrab disapa Chacha tersebut hadir didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kendal, Ferinando Rad Bonay, Kepala UPTD Puskesmas Kendal II, drg Sahadatin, dan Kepala Kelurahan Bandengan, Sutarjo dan perwakilan dari BKKBN.

Menurut Chacha, dengan asupan gizi ibu yang kurang berkualitas, sehingga nutrisi yang diterima janin menjadi sedikit dan pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat, terus berlanjut hingga setelah kelahiran.

Tidak hanya itu stunting juga dapat terjadi pada anak masih di bawah umur dua tahun, yang tidak diberikan ASI eksklusif maupun makanan pengganti ASI yang diberikan kurang mengandung zat gizi yang berkualitas.

Chacha menambahkan, berbagai upaya terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Kendal, melalui program penanggulangan stunting.

Di antaranya telah dicanangkan oleh setiap instansi terkait, seperti pemberian pangan gratis, kampanye Gemarikan (Gerakan Makan Ikan) dan minum susu untuk anak sekolah, hingga Pemberian Makanan Tambahan (PMT), penyuluhan gizi, penyedian rumah sehat dan air bersih.

Ia menegaskan, sosialisasi stunting dan gizi anak tersebut bertujuan dalam meningkatkan informasi dan edukasi kepada seluruh kader posyandu mengenai stunting dan gizi anak.

“Sosialisasi ini merupakan langkah serius dalam mengedepankan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Kendal, terutama kita fokuskan perkembangan pada generasi penerus bangsa,” kata Chacha.

Untuk itu, lanjutnya, dalam rangka program barunya, para kader-kader posyandu secara jemput bola akan mendatangi ke masing-masing rumah warga untuk mendata dan memeriksa para balita. Jadi posyandu keliling.

“Marilah kita berkomitmen bersama untuk melakukan penanggulangan dan pencegahan stunting, agar dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi,” ajak Chacha.

Dengan demikian, diharapkan para kader nantinya dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Sehingga diharapkan peningkatan gizi anak dan penurunan angka anak stunting dapat menurun di wilayah Kabupaten Kendal.

“Tentunya sudah jelas, kita harapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas dan kapasitas para kader posyandu dalam memberikan pelayanan bagi seluruh masyarakat,” imbuh Chacha.

Artinya, lanjut Chacha, ini serius, dan terlihat adanya peran aktif dari masyarakat dan sektor terkait.

“Khusunya peran serta kader PKK untuk menjadi ujung tombak dalam penanganan stunting. Ini harus terus digelorakan dan getoktularkan informasi stunting dan gizi pada kader lainya,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Kendal II, Drg Sahadatin menambahkan, dari sembilan kelurahan di Kecamatan Kendal, jumlah stunting ada 176 anak per bulan april. Dan untuk Kelurahan Bandengan ada 34 anak.

“Angka tersebut sembilan persen dari total stunting 1.900 di Kabupaten Kendal. Hal ini bukan hanya dipicu karena miskin tapi ada juga yang mampu tapi makannya susah. Untuk itu, dibutuhkan kreatifitas ibu agar anaknya mau makan,” jelasnya.

Sementara pemerhati dan pendamping anak stunting dari Amerika Serikat, Zack Petersen mengatakan, ada hal yang dapat dilakukan untuk mencegah peningkatan stunting di Kabupaten Kendal.

“Ada tiga kata kunci dalam mencegah stunting, ibu hamil harus tahu apa itu stunting, kenapa itu penting, terus kalau jaga stunting seperti apa. Jadi kalau anak saya ingin sehat saya harus berbuat apa, saya harus periksa berapa kali dan apa saja yang harus dilalukan,” tandasnya.

Selain itu ASI berpotensi mengurangi peluang stunting pada anak berkat kandungan gizi mikro dan makro.

“Oleh karena itu, ibu disarankan untuk tetap memberikan ASI Eksklusif selama enam bulan kepada sang buah hati. Protein whey dan kolostrum yang terdapat pada susu ibu pun dinilai mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi yang terbilang rentan,” pungkas Mr Zack. (HS)

Soal Peniadaan Mudik, Doni Monardo: Pembawa Covid-19 Adalah Manusia

Inilah 5 Menu “Indonesia Banget” Yang Bikin Kangen Kampung Halaman