
CHELSEA memastikan lolos ke final Liga Champions setelah sukses mengandaskan Real Madrid dua gol tanpa balas dalam partai leg kedua semifinal Liga Champions 2020/21 yang digelar di Stamford Bridge, Kamis (6/5/2021) dini hari WIB.
Dua gol kemenangan Chelsea masing-masing diciptakan oleh Timo Werner dan Mason Mount. Berkat hasil ini, The Blues berhak lolos ke final dengan kemenangan agregat 3-1.
Keberhasilan itu membuat sang Pelatih, Thomas Tuchel, mencatatkan rekor unik di Liga Champions.
Menurut laporan William Hill, Tuchel menjadi juru taktik pertama yang lolos ke final Liga Champions dua kali beruntun bersama dua klub berbeda. Sayangnya, pada kesempatan pertama, Tuchel gagal menjadi juara.
Sebagaimana diketahui, Tuchel hampir menjadi juara Liga Champions bersama Paris Saint-Germain (PSG) pada musim lalu. PSG asuhan Tuchel tampil luar biasa sepanjang kompetisi terelite Benua Biru itu.
Namun, PSG gagal membawa pulang trofi Liga Champions. Les Parisiens (julukan PSG) kalah 0-1 dari Bayern Munich di partai puncak. Padahal, jika juara pada musim lalu, Tuchel dan PSG akan meraih trofi Liga Champions pertama mereka.
Namun, Tuchel berkesempatan untuk membayar lunas kegagalan sebelumnya pada musim ini. Kesempatan itu hadir bersama Chelsea yang merekrut Tuchel usai dipecat PSG pada pertengahan musim ini.
Tuchel meneruskan pekerjaan yang ditinggalkan Frank Lampard di Chelsea. Juru taktik asal Inggris itu mampu membangkitkan semangat Chelsea yang sempat terpuruk bersama Lampard.
Setelah Madrid, tantangan berikutnya bagi Chelsea adalah Manchester City di final.
Chelsea dan Man City punya tekad kuat untuk menjadi juara Liga Champions. Chelsea berhasrat meraih trofi Si Kuping Besar kedua mereka, sedangkan Man City bertekad menjadi juara Liga Champions untuk pertama kalinya.
Final akan berlangsung di Stadion Olimpiade Ataturk, Turki, Sabtu 29 Mei 2021. Chelsea dan Man City diprediksi akan tampil maksimal demi jadi tim terbaik di Eropa.
Gagal Sebagai Pemain
Berbicara keberhasilan Chelsea yang lolos ke partai final Liga Champions, tentu tak lepas dari kecerdasan sang pelatih, Thomas Tuchel. Pria yang lahir di Krumbach, 29 Agustus 1973 (47 tahun) adalah seorang manajer genius.
Dirinya memiliki pengetahuan taktis dan gaya permainannya yang apik. Karier kepelatihan Tuchel juga dicirikan oleh hubungan yang tak harmonis dengan atasannya.
Namun siapa sangka, jika kesuksesannya sebagai pelatih tak berbanding lurus dengan kariernya sebagai pemain sepak bola. Karier bermain Tuchel berakhir pada usia 25 tahun akibat cedera tulang rawan lutut kronis.
Tuchel memulai kaeier sebagai pemain di klub lokal Jerman, TSV Krumbach, kemudian pindah ke akademi di FC Augsburg pada tahun 1988.
Namun, ia tidak pernah muncul untuk tim utama, dan baru dimainkan segera setelah ia berusia 19 tahun. Kemudian tahun 1992 dia bermain untuk Stuttgarter Kickers. Thomas Tuchel memainkan delapan pertandingan selama musim 1992–1993.
Setelah musim 1993–1994, ia dikeluarkan dari tim utama Kickers, dan bergabung dengan SSV Ulm.
Bermain sebagai bek tengah, Tuchel membuat 69 penampilan untuk klub tersebut sampai terpaksa pensiun pada tahun 1998, pada usia 25 tahun. Hal itu setelah Tuchel menderita cedera tulang rawan lutut.
Dan pada tahun 2000, ia memulai karier kepelatihannya, bekerja untuk tim junior di VfB Stuttgart selama lima tahun.
Pada tahun 2009, setelah periode satu tahun yang sukses di FC Augsburg II, ia direkrut oleh klub Bundesliga yang baru dipromosikan Mainz 05.
Pada tahun 2018 Tuchel melatih tim asal Prancis Paris Saint-Germain, Tuchel berhasil memenangkan 2 gelar Liga Prancis, termasuk meraih domestic quadruple pada musim kedua dan berhasil mencapai final Liga Champions yang pertama untuk Paris Saint-Germain.
Namun, pada tahun 2020 Tuchel dipecat PSG, dan kemudian direkrut sebagai pelatih Chelsea pada tahun 2021.(HS)