SUASANA Atrium Mal Ciputra Semarang tampak berbeda pada Selasa (6/10/2026). Di salah satu sudut atrium, sedikitnya 50 perempuan bergantian masuk ke bilik pemeriksaan USG mamae.
Tak ada panggung besar atau seremoni panjang. Para peserta datang dengan satu tujuan: memeriksakan kesehatan payudara sekaligus mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menjaga tubuh tetap sehat.
Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Mal Ciputra Semarang bertajuk “Be Aware, Take Action”, yang digelar dalam rangkaian Breast Cancer Awareness Month 2026. Kegiatan itu menggandeng RS Columbia Asia Semarang.
Di lokasi yang sama, pengunjung dan karyawan mal juga mengikuti kegiatan donor darah. Sementara di panggung utama, perhatian pengunjung diarahkan pada talkshow mengenai pentingnya memenuhi kebutuhan nutrisi melalui pola makan seimbang dan menjaga tubuh tetap aktif.
Dokter spesialis gizi RS Columbia Asia Semarang, dr. Enny Probosari, yang menjadi narasumber, mengingatkan bahwa menjaga kesehatan tidak cukup hanya dilakukan ketika tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan.
Menurutnya, asupan makanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh agar massa otot tetap terjaga dan tidak mengalami penurunan akibat kekurangan gizi.
“Penting untuk mengetahui pola hidup sehat dan berkualitas, salah satunya dengan mengonsumsi makanan yang bernilai gizi dan seimbang,” ujar Enny.
Pesan tersebut menjadi semakin penting bagi orang yang sedang menjalani pengobatan kanker. Sebab, proses pengobatan dapat membawa perubahan pada kondisi tubuh, mulai dari hilangnya nafsu makan, mual, gangguan tidur hingga rambut rontok.
Karena itu, kebutuhan nutrisi tetap perlu diperhatikan agar kondisi tubuh dapat bertahan selama menjalani pengobatan.
Namun, Enny menekankan bahwa upaya menjaga kesehatan sebaiknya dilakukan jauh sebelum penyakit berkembang.
“Harus menjaga daya tahan tubuh dan pentingnya pemeriksaan dini, sebelum kanker tumbuh besar dan mulai terasa nyeri, munculnya benjolan makin besar. Pemeriksaan penting di atas 40 tahun, atau dengan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) sebagai deteksi awal kanker payudara di rumah agar bisa tertangani sejak dini,” jelasnya.
Bukan cuma makanan, cara mengolah makanan pun perlu diperhatikan. Enny mengingatkan agar masyarakat memperhatikan kebersihan dan proses memasak, termasuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan yang diolah dengan cara dibakar maupun makanan yang mengandung bahan pengawet.
Begitu pula dengan minuman manis dan kopi dengan berbagai campurannya.
“Kopi dengan segala macam variannya sesekali boleh. Tapi kalau sering diminum kopi yang dicampur cream atau lainnya, jangan dibiasakan. Karena satu gelas saja sehari, seperti makan satu piring, apalagi diminum tiga kali seminggu tentu meningkatkan risiko,” katanya.
Di tengah edukasi tersebut, ada satu cerita yang membuat pesan tentang deteksi dini terasa lebih dekat.
Namanya Indah Jati Susanto. Ia merupakan penyintas kanker yang sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit dan menjalani pengobatan kanker.
Perjalanan itu dimulai pada 2015. Saat itu, Indah didiagnosis mengalami kanker. Ia sempat ditawari kemoterapi, tetapi memilih pengobatan melalui suntikan.
“Saat itu dari dokter kalau pengobatannya boleh kemo atau tidak, saya memilih tidak. Karena saya tahu kalau kemo itu seperti apa, tidak nyaman, harus gundul. Saya akhirnya memutuskan tidak kemo, hanya dengan pengobatan suntik berjalan selama dua tahun,” kenangnya.
Enam tahun kemudian, kanker kembali muncul.
Pada 2021, Indah menemukan benjolan kecil di payudaranya ketika melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI di rumah. Ia kemudian memeriksakannya ke dokter.
Hasil USG menunjukkan benjolan tersebut merupakan kanker.
Kali ini, Indah memilih menjalani kemoterapi. Benjolan diangkat melalui operasi. Dalam proses pengobatan, ia juga sempat mengalami masalah pada bagian pinggang dan mendapatkan pengobatan untuk tulang.
Ia kemudian menjalani infus penguat tulang sebanyak 11 kali, dengan interval tiga bulan sekali. Pada pemeriksaan terakhir, kondisi tersebut dinyatakan sudah membaik.
Namun, perjalanan Indah belum berhenti.
Pada 2024, ia kembali mengalami peradangan pada payudara. Setelah diperiksa, kanker kembali ditemukan, dengan jenis yang berbeda. Ia pun kembali menjalani kemoterapi dan terapi lainnya.
“Sebenarnya ada di titik bosan, namun saya tetap semangat berjuang untuk sembuh,” ujarnya.
Bagi Indah, ada banyak hal di sekelilingnya yang membuatnya kembali menemukan semangat. Pengalaman panjang menjalani pengobatan justru membuatnya ingin berbagi dengan para penyintas kanker lainnya agar tetap memiliki harapan untuk sembuh.
“Saya bersyukur sekarang sampai terus menjalani pengobatan sehingga dalam akhir proses penyembuhan,” sambungnya.
Cerita Indah menunjukkan bahwa perjalanan menghadapi kanker bukan perkara singkat. Ada rasa lelah, takut, bosan, sekaligus harapan yang terus dijaga.
Karena itu, menurut Enny, dukungan keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting selama proses pengobatan.
“Penderita kanker butuh semangat untuk tetap menjalani proses pengobatan yang cukup panjang. Sehingga memang butuh dorongan semangat dari keluarga maupun komunitas dan agar tidak berdiam di rumah saja,” katanya.
Bagi Anggi, salah satu peserta pemeriksaan USG mamae, kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang lebih lengkap. Ia bukan hanya mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara gratis, tetapi juga memperoleh pengetahuan baru mengenai nutrisi dan aktivitas fisik.
“Saya senang bisa ikut kegiatan ini karena bukan hanya mendapatkan pemeriksaan USG mamae secara gratis, tetapi juga mendapat informasi tentang nutrisi dan pentingnya olahraga. Jadi, setelah ikut kegiatan ini saya merasa lebih diingatkan untuk mulai lebih peduli dengan kesehatan diri sendiri,” katanya.
Mal Manager Mal Ciputra Semarang, Ani Suyatni, mengatakan program “Be Aware, Take Action” merupakan bagian dari komitmen Mal Ciputra Semarang menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami ingin program ini tidak hanya hadir sebagai agenda tahunan, tetapi juga membawa manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat. Tahun 2026 ini kami memperluas pesan kesehatan dengan mengajak perempuan memperhatikan pola makan, tetap aktif bergerak, dan tentu saja tidak mengabaikan pentingnya pemeriksaan kesehatan,” ujar Ani.
Menurutnya, pusat perbelanjaan bukan sekadar tempat berbelanja. Ruang publik tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat, termasuk mengenai pentingnya menjaga kesehatan.
Pada akhirnya, pesan yang dibawa dari kegiatan tersebut cukup sederhana: mengenali tubuh sendiri, menjaga pola hidup, dan tidak menunda pemeriksaan ketika menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Sebab, bagi seseorang yang sedang berjuang melawan kanker, waktu bukan sekadar angka. Deteksi lebih awal bisa menjadi awal dari perjalanan pengobatan yang lebih panjang—namun juga membuka kesempatan lebih besar untuk berharap.(HS)

