ANGIN laut berembus cukup kencang di Pulau Tirang, Kampung Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Minggu (20/9/2026).
Di tepian pesisir, daratan yang terus berhadapan dengan gerusan ombak menjadi pengingat bahwa ancaman abrasi bukan lagi sekadar cerita tentang masa depan.
Di kawasan itulah sekitar 200 bibit mangrove ditanam. Satu per satu bibit ditancapkan ke tanah berlumpur, dengan harapan kelak tumbuh menjadi benteng hijau yang mampu menjaga pesisir dari semakin derasnya gerusan air laut.
Penanaman tersebut dilakukan Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Jawa Tengah bersama Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kota Semarang dan 16 Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kota Semarang.
Kegiatan bertajuk Pemuda Pancasila Peduli Lingkungan: “Menanam Hari Ini, Menjaga Pesisir untuk Generasi Nanti” itu diikuti sekitar 500 peserta. Mereka berasal dari unsur pemerintah setempat, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, TNI-Polri, pengurus Pemuda Pancasila Jawa Tengah, hingga masyarakat sekitar.
Ketua MPC Pemuda Pancasila Kota Semarang, M Imron, mengatakan penanaman mangrove tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Majelis Pimpinan Nasional (MPN) Pemuda Pancasila Nomor 1739/A4/MPL/PP/2026 yang menginstruksikan jajaran organisasi di daerah untuk melakukan kegiatan penghijauan.
“Alhamdulillah hari ini bisa dilakukan bersama kegiatan penanaman pohon mangrove bekerja sama dengan MPW Jawa Tengah, MPC Kota Semarang, PAC Kecamatan Tugu serta seluruh PAC se-Kota Semarang,” kata Imron seusai kegiatan.
Namun, 200 bibit yang ditanam hari itu baru sebagian dari target yang telah ditetapkan.
Menurut Imron, Pemuda Pancasila menargetkan penanaman sebanyak 1.000 bibit mangrove di kawasan tersebut.
“Dari target penanaman sebanyak 1.000 pohon mangrove, baru bisa dilaksanakan 200 pohon mangrove. Semoga kegiatan ini bisa menjadi motivasi Pemuda Pancasila Kota Semarang untuk terus melakukan gerakan penghijauan dan bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan, terutama di wilayah pesisir dari ancaman abrasi laut yang semakin parah,” ujarnya.
Bagi Imron, kegiatan tersebut tidak berhenti pada seremoni menanam pohon. Penghijauan diharapkan memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pesisir.
Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi agenda rutin setiap tahun, berdampingan dengan berbagai kegiatan sosial lain yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ketua PAC Tugu, Adam, mengatakan Pulau Tirang dipilih karena kondisi pesisirnya menghadapi tekanan abrasi yang cukup serius.
Dulu, kawasan tersebut dikenal memiliki hamparan hutan mangrove. Namun, perubahan kondisi alam membuat keberadaan vegetasi pesisir itu terus menghadapi tantangan.
“Padahal dari dulu, Pulau Tirang dipenuhi hutan mangrove. Namun karena perubahan iklim membuat arus laut makin kuat, daratan di Pulau Tirang terus terkikis,” ujarnya.
Upaya mengembalikan mangrove ke pesisir Pulau Tirang kini dilakukan oleh berbagai pihak. Selain aktivis lingkungan, penanaman juga mendapat dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dari sejumlah BUMN serta masyarakat.
Mangrove memang bukan sekadar tanaman yang berdiri di antara lumpur dan air laut.
Di balik akar-akarnya yang menjalar, ada ekosistem yang menjadi tempat hidup berbagai jenis biota. Kawasan mangrove menjadi habitat burung, sekaligus tempat ikan dan kepiting berkembang biak.
Karena itu, ketika mangrove berkurang, persoalannya bukan sekadar hilangnya pepohonan. Ada ekosistem pesisir yang ikut kehilangan salah satu penyangganya.
“Memang saat ini salah satu tantangan adalah faktor alam. Perubahan iklim berdampak pada lingkungan yang membuat pohon mangrove banyak yang mati dan berkurang drastis,” kata Adam.
Penanaman ratusan bibit mangrove di Pulau Tirang juga menyimpan harapan lain.
Kawasan yang selama ini berhadapan langsung dengan persoalan abrasi tersebut diharapkan suatu hari bukan hanya menjadi benteng alami bagi pesisir Semarang, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata sekaligus ruang edukasi lingkungan.
Menurut Adam, keberadaan hutan mangrove yang terawat dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat fungsi ekosistem pesisir.
Anak-anak dapat belajar bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, cukup dari sebatang bibit yang ditanam di lumpur, kemudian dirawat agar tumbuh.
Hari itu, 200 bibit mangrove memang baru langkah kecil dari target 1.000 pohon.
Tetapi di pesisir Pulau Tirang, setiap bibit yang ditanam membawa pesan yang lebih panjang: bahwa menjaga pantai bukan pekerjaan sehari, dan menyelamatkan lingkungan bukan urusan satu kelompok saja.
Mangrove-mangrove kecil itu kini berdiri menghadapi laut.
Mereka mungkin belum cukup kuat menahan ombak. Namun jika tumbuh dan dirawat bersama, akar-akarnya kelak bisa menjadi pagar hijau yang menjaga daratan tetap bertahan.
Sebab generasi berikutnya mungkin tidak akan mengingat siapa yang pertama menanamnya.
Tetapi mereka akan merasakan manfaat dari pohon-pohon yang hari ini ditanam.(HS)


