in

Lakukan Survei Saat KKN di Desa Jrakahpayung Batang, Mahasiswa Undip Ini Temukan Mayoritas Warga Masih Bakar Sampah

Pemasangan X-banner berisi materi sosialisasi pengelolaan sampah, di aula balai Desa Jrakahpayung. (Foto : batangkab.go.id)

 

HALO BATANG – Mayoritas penduduk di Desa Jrakahpayung, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, ternyata masih membakar sampah rumah tangga, bukan mengelolanya untuk dimanfaatkan atau dibuang ke tempat penampungan akhir.

Hal itu terungkap dari hasil survei dan analisis deskriptif oleh Dian Nurmalasari, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro Semarang Fakultas Sains dan Matematika, Program Studi Statistika.

Dalam survei itu, dia melakukan riset tentang perilaku pengelolaan sampah rumah tangga, terkait perilaku warga dalam mengelola sampah rumah tangga, di Desa Jrakahpayung, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang.

Hasil survei tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk x-banner edukasi yang dipasang di aula balai Desa Jrakahpayung.

Dari survei yang dilaksanakannya, diketahui sebanyak 75 persen warga masih membakar sampah rumah tangga.

Kebiasaan tersebut dilakukan dengan frekuensi yang cukup tinggi, dengan 50 persen warga membakar sampah 2–3 kali dalam seminggu, sementara 41,7 persen warga melakukannya setiap hari.

Dalam hal pemilahan, hanya 29,2 persen warga yang selalu memilah sampah berdasarkan jenisnya, sedangkan 37,5 persen hanya sesekali memilah dan 33,3 persen tidak pernah memilah sampah.

“Hasil survei juga menunjukkan bahwa 62,5 persen warga menyatakan tidak tersedia fasilitas khusus untuk pembakaran sampah di sekitar tempat tinggal mereka,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id, Selasa (18/8/2026).

Selain itu, 54,2 persen warga menyebutkan tidak tersedianya tempat atau fasilitas pembakaran sebagai salah satu kendala dalam pengelolaan sampah, sementara 75 persen warga menilai diperlukan fasilitas pembakaran sampah di lokasi tertentu.

Lebih lanjut disampaikan, kebiasaan tersebut turut berkaitan dengan pernah munculnya wabah chikungunya di beberapa RT setempat, karena genangan air dan lingkungan yang kurang terkelola dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Kondisi tersebut diperparah dengan belum tersedianya data yang menggambarkan secara jelas bagaimana pola pengelolaan, pemilahan, dan kendala yang dihadapi warga dalam mengelola sampah rumah tangga mereka, sehingga penyusunan media edukasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat sulit dilakukan.

“Pelaksanaan program diawali dengan penyusunan instrumen survei mengenai perilaku pengelolaan sampah rumah tangga. Instrumen ini dirancang untuk menggali informasi mengenai kebiasaan warga dalam membuang dan memilah sampah, ketersediaan fasilitas pendukung, serta kendala yang dihadapi sehari-hari,” jelasnya.

Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner digital Google Form, yang difasilitasi oleh perangkat desa kepada masyarakat, serta wawancara langsung dari rumah ke rumah (door-to-door) kepada warga yang ditemui selama pelaksanaan KKN.

Seluruh jawaban yang terkumpul kemudian direkap untuk memudahkan proses pengolahan data.

“Data hasil survei tersebut kemudian diolah menggunakan analisis statistik deskriptif dan disajikan secara visual dalam bentuk diagram batang dan diagram lingkaran,” kata dia.

Pengolahan data tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Jrakahpayung, mulai dari kebiasaan warga dalam memilah dan membuang sampah hingga berbagai kendala yang dihadapi dalam pengelolaannya.

“Temuan tersebut selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam penyusunan materi edukasi pada banner agar informasi yang disampaikan sesuai dengan kondisi masyarakat di lapangan,” terangnya.

Media edukasi berupa x-banner, dipilih agar dapat dipasang secara permanen di lokasi yang lebih tepat, sehingga informasinya dapat mudah dijangkau oleh warga, yaitu di aula balai Desa Jrakahpayung.

Banner tersebut menampilkan visualisasi hasil survei perilaku pengelolaan sampah rumah tangga dalam bentuk diagram, sehingga masyarakat dapat memahami kondisi pengelolaan sampah di lingkungannya secara sekilas dan mudah dibaca, tanpa perlu membaca laporan yang panjang.

Sekretaris Desa Jrakahpayung Udin Setiawan menyambut baik penyusunan media edukasi berbasis data ini.

“Banner ini sangat membantu, karena datanya diambil langsung dari warga kami sendiri,” kata dia.

Jadi ketika dipasang, warga bisa lebih mudah merasa terhubung dan tergerak untuk memperbaiki cara mengelola sampah di rumah masing-masing.

“Banner tersebut menampilkan visualisasi hasil survei perilaku pengelolaan sampah rumah tangga dalam bentuk diagram, sehingga masyarakat dapat memahami kondisi pengelolaan sampah di lingkungannya secara sekilas dan mudah dibaca, tanpa perlu membaca laporan yang panjang,” ujar dia.

Program ini diharapkan dapat menjadi dasar pendukung bagi implementasi program pengelolaan sampah lain yang dijalankan tim KKN di Desa Jrakahpayung, sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kontribusi mahasiswa KKN terhadap capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). (HS-08)

 

Dinkes Batang Gelar Cek Kesehatan Gratis untuk ASN dan Masyarakat Halo Batang, Cek Kesehatan Gratis

Mahasiswa KKN Undip Serahkan Booklet Hasil Uji Kualitas Mata Air ke Pemerintah Desa Jrakahpayung