in

25.800 Warga Padati Simpang Lima Ikuti Festival Tari Dug Dug Der,  Polrestabes Semarang Pastikan Berlangsung Aman

Sekitar 25.800 warga dari berbagai unsur, memadati lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Minggu (9/8/2026), untuk mengikuti Festival Tari Dug Dug Der Semarangan, yang digelar Pemerintah Kota Semarang, sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. (Foto : Humas.polri.go.id)

 

HALO SEMARANG – Sekitar 25.800 warga dari berbagai unsur, memadati lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Minggu (9/8/2026), untuk mengikuti Festival Tari Dug Dug Der Semarangan, yang digelar Pemerintah Kota Semarang, sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di tengah antusiasme puluhan ribu peserta tersebut, Polrestabes Semarang menyiagakan personel untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan lancar. Pengamanan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan unsur TNI, pemerintah daerah, panitia penyelenggara, serta berbagai stakeholder terkait.

Festival yang berlangsung mulai pukul 06.30 hingga 09.00 WIB tersebut diikuti pelajar SMP dan SMA/SMK, aparatur pemerintah, komunitas, sanggar seni, organisasi masyarakat, Pramuka, perwakilan perusahaan, hingga masyarakat umum.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Heri Wahyudi turut hadir bersama Wali Kota Semarang,  Agustina Wilujeng Pramestuti, Danlanal Semarang Kolonel Marinir Sabprowanto, unsur Forkopimda, jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, komunitas seni, serta tamu undangan lainnya.

Kasihumas Polrestabes Semarang Kompol Riki Fahmi Mubarok mengatakan, besarnya jumlah peserta menjadi perhatian kepolisian dalam menentukan pola pengamanan.

Personel disiapkan untuk melakukan pengamanan kegiatan sekaligus mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas dan kepadatan masyarakat di kawasan Simpang Lima.

“Festival ini diikuti sekitar 25.800 peserta. Karena melibatkan massa dalam jumlah besar dan berlangsung di ruang publik, Polrestabes Semarang bersama seluruh unsur terkait melakukan pengamanan secara terpadu untuk memastikan kegiatan berjalan aman, tertib, dan lancar,” ujar Kompol Riki.

Menurutnya, pengamanan tidak hanya berorientasi pada kegiatan di dalam Lapangan Pancasila, tetapi juga mencakup pengawasan situasi di sekitar lokasi, pengaturan pergerakan massa, serta koordinasi dengan panitia dan instansi terkait.

“Kami mengedepankan pengamanan yang humanis dan persuasif. Personel hadir untuk memberikan pelayanan, membantu masyarakat, serta memastikan seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman. Koordinasi dengan panitia juga terus dilakukan agar pergerakan peserta dan rangkaian acara dapat berlangsung sesuai dengan rencana,” jelasnya.

Festival Tari Dug Dug Der Semarangan bukan sekadar pertunjukan massal. Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai lapisan masyarakat sekaligus bagian dari upaya memperkenalkan karya budaya yang terinspirasi dari tradisi Dugderan sebagai salah satu identitas budaya Kota Semarang.

Rangkaian kegiatan diawali dengan persiapan tim dan gladi resik, kemudian dilanjutkan bumper opening, pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan Wali Kota Semarang, pembentukan formasi Merah Putih, prosesi pelepasan 81 burung merpati, Tari Dug Dug Der Semarangan, TikTok Tari Semut, Tari Maumere, Tabola Bale dan Kicau Mania, Mars MTQ hingga penutupan.

Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyampaikan bahwa Lapangan Pancasila pada pagi itu menjadi ruang perjumpaan bagi lebih dari 25 ribu warga. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, aparatur, seniman, komunitas, hingga masyarakat dari berbagai kecamatan dan kelurahan.

Semangat kebersamaan tersebut kemudian diwujudkan melalui satu irama, yakni Tari Dug Dug Der Semarangan.

Tarian tersebut terinspirasi dari tradisi Dugderan yang telah menjadi bagian dari identitas budaya Kota Semarang dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Tradisi tersebut merepresentasikan Semarang sebagai kota yang tumbuh dari perjumpaan berbagai budaya.

“Di dalam Dugderan, kita menemukan wajah Semarang: budaya yang tumbuh dari perjumpaan,” demikian pesan yang disampaikan Wali Kota Semarang dalam sambutannya.

Semangat tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam gerak Tari Dug Dug Der Semarangan. Ribuan warga menari bersama, memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat dipertemukan dalam satu irama dan kebersamaan.

Momentum pelepasan 81 burung merpati juga menjadi simbol peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Prosesi tersebut sekaligus menjadi pesan tentang kemerdekaan yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk bergerak, tumbuh, berkarya, dan menjaga warisan budaya.

Penasihat MGW Group, Kombes Pol Tri Suhartanto serta Paulus Pangka turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Paulus menilai keterlibatan ribuan masyarakat dalam festival tari menjadi capaian positif dalam upaya menjaga budaya daerah agar tetap hidup dan lestari.

“Pada hari ini kita menyaksikan ribuan massa yang akan menari Dug Dug Der. Ini merupakan sebuah prestasi dalam hal budaya dan menjadi bagian dari upaya mempertahankan budaya daerah agar tetap lestari,” ujarnya.

Bagi kepolisian, kegiatan kebudayaan dengan melibatkan masyarakat dalam jumlah besar juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara aparat keamanan dengan masyarakat. Kehadiran polisi tidak hanya dalam konteks pengamanan, tetapi juga memastikan masyarakat dapat menikmati ruang publik dengan aman dan nyaman.

Kompol Riki menambahkan, situasi yang kondusif selama kegiatan merupakan hasil dari sinergi seluruh pihak, termasuk kesadaran masyarakat dalam mengikuti arahan petugas.

“Apresiasi kami sampaikan kepada seluruh peserta, panitia, pemerintah daerah, TNI, komunitas, dan masyarakat yang bersama-sama menjaga ketertiban. Dengan kolaborasi seperti ini, kegiatan masyarakat dapat berlangsung meriah tanpa mengesampingkan aspek keamanan,” pungkasnya.

Festival Tari Dug Dug Der Semarangan pun menjadi gambaran bagaimana semangat kemerdekaan dapat dirayakan melalui kebersamaan dan pelestarian budaya.

Dari Simpang Lima, ribuan warga bergerak dalam satu irama, membawa pesan bahwa budaya akan tetap hidup ketika masyarakat mengenal, mempraktikkan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. (HS-08)

 

 

Peternakan Ayam di Slogohimo Wonogiri Terbakar, 7.000 Anak Ayam Mati

Polres Brebes Terjunkan Meriam Air Bantu Pemadaman Kebakaran Gudang di Slatri Larangan