in

Cegah Talenta Indonesia Gagal Kuliah karena Biaya, Kemdiktisaintek Minta PTN Lakukan Penelusuran

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto. (Foto : kemdiktisaintek.go.id)

 

HALO SEMARANG – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), meminta seluruh perguruan tinggi negeri (PTN), untuk menelusuri para calon mahasiswa yang telah dinyatakan lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru, namun belum melakukan registrasi ulang.

Langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah, untuk memastikan tidak ada talenta muda Indonesia yang kehilangan kesempatan menempuh pendidikan tinggi, semata-mata karena kendala ekonomi.

Kemdiktisaintek, dalam keterangan yang dirilis kemdiktisaintek.go.id, menyebutkan penelusuran dilakukan untuk memperoleh gambaran lebih utuh, mengenai berbagai faktor yang memengaruhi keputusan calon mahasiswa tidak melanjutkan proses registrasi.

Kemdiktisaintek menghormati sepenuhnya keputusan calon mahasiswa yang memilih perguruan tinggi atau jalur pendidikan lain.

Namun, apabila penyebab utama tidak melakukan registrasi ulang adalah keterbatasan ekonomi, PTN diminta berkomunikasi secara aktif dengan calon mahasiswa tersebut, guna mencari solusi terbaik sesuai ketentuan yang berlaku.

Salah satu langkah yang dapat ditempuh, adalah melakukan peninjauan kembali penetapan kelompok Uang Kuliah Tunggal (UKT), sesuai kondisi ekonomi keluarga, disertai optimalisasi berbagai skema bantuan pendidikan yang dimiliki perguruan tinggi agar mahasiswa yang memiliki potensi akademik tetap dapat melanjutkan pendidikan tinggi.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengapresiasi berbagai terobosan yang telah dilakukan pimpinan PTN dalam membantu mahasiswa yang menghadapi kendala ekonomi agar tetap dapat melanjutkan studi.

Berbagai upaya tersebut antara lain penyesuaian kelompok UKT sesuai kondisi ekonomi mahasiswa, penyediaan beasiswa yang didanai oleh perguruan tinggi, dukungan beasiswa dari alumni dan mitra, hingga program work scholarship yang memungkinkan mahasiswa memperoleh bantuan biaya pendidikan sekaligus pengalaman kerja.

Berbagai praktik baik tersebut kini telah dilakukan oleh banyak PTN di Indonesia. Salah satu contohnya adalah Universitas Mataram (Unram) yang menerapkan kebijakan UKT berdasarkan kemampuan ekonomi mahasiswa.

Berdasarkan data Unram, sekitar 42 persen mahasiswa membayar UKT pada kelompok terendah, yakni antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per semester, belum termasuk sekitar 30 persen mahasiswa lainnya yang berada pada Kelompok UKT III.

Selain itu, 690 mahasiswa memperoleh pembebasan UKT sepenuhnya, termasuk 13 mahasiswa Program Studi Kedokteran, sehingga dapat menempuh pendidikan tanpa membayar biaya kuliah.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi, termasuk pada program studi kedokteran, tetap terbuka bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.

Kemdiktisaintek juga mengapresiasi sejumlah pemerintah daerah yang menunjukkan komitmen dalam memperluas akses pendidikan tinggi melalui penyediaan program beasiswa bagi putra-putri daerah.

Program beasiswa yang dijalankan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kalimantan Timur, dan sejumlah daerah lainnya menjadi contoh nyata sinergi pemerintah daerah dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi putra-putri daerah.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, alumni, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan menunjukkan bahwa perluasan akses pendidikan tinggi merupakan tanggung jawab bersama. Semangat gotong royong tersebut diharapkan semakin memperkecil hambatan ekonomi yang dihadapi calon mahasiswa.

Menteri Brian menegaskan bahwa negara harus hadir memastikan tidak ada anak bangsa yang batal melanjutkan pendidikan tinggi hanya karena persoalan biaya.

“Kami menghormati setiap pilihan calon mahasiswa. Apabila mereka memilih perguruan tinggi lain atau jalur pendidikan lain, tentu itu merupakan hak masing-masing. Namun apabila terdapat calon mahasiswa yang tidak melanjutkan studi karena kendala ekonomi, kami ingin memastikan negara hadir memberikan solusi. Jangan sampai ada anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan akademik dan semangat belajar, tetapi kehilangan kesempatan kuliah hanya karena persoalan biaya,” ujar Menteri Brian.

Menurut Menteri Brian, pendidikan tinggi merupakan investasi strategis bagi masa depan bangsa. Karena itu, setiap talenta terbaik Indonesia harus memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang tanpa dibatasi kondisi ekonomi keluarga.

Langkah penelusuran ini juga menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan terhadap sistem penerimaan mahasiswa baru.

Informasi yang diperoleh dari PTN akan menjadi dasar penyempurnaan berbagai kebijakan, mulai dari mekanisme penerimaan mahasiswa, layanan informasi kepada calon mahasiswa, hingga penguatan berbagai skema afirmasi dan bantuan pendidikan agar semakin tepat sasaran.

Sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, Kemdiktisaintek berkomitmen menghadirkan pendidikan tinggi yang semakin inklusif, bermutu, dan berkeadilan.

Melalui langkah tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa setiap talenta terbaik Indonesia memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi dan mengembangkan potensinya, tanpa terhalang oleh kondisi ekonomi keluarga. (HS-08)

 

 

Gelombang Panas di Eropa, Legislator Minta Kemenlu Segera Ambil Langkah Darurat Jamin Keselamatan WNI

Hadapi Tantangan Masa Depan, Mendiktisaintek Tekankan Mahasiswa Kuasai Teknologi dan Karakter