in

15 Santri Hafiz 30 Juz Terima Bisyarah dari Pemprov Jateng, Tangis Haru Iringi Haflah di Kudus

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen saat menyerahkan bisyarah atau tali asih kepada siswa dalam acara Haflatul Hidzaq Khotmil Qur'an dan Muwadaah Pondok Pesantren Al Fattah Raudhatul Qur'an, Jekulo, Kudus, Selasa (9/6/2026).

SUASANA haru dan bahagia menyelimuti acara Haflatul Hidzaq Khotmil Qur’an dan Muwadaah Pondok Pesantren Al Fattah Raudhatul Qur’an, Jekulo, Kudus, Selasa (9/6/2026). Momen wisuda hafiz Al-Qur’an tahun ini terasa semakin istimewa setelah 15 santri penghafal 30 juz menerima bisyarah atau tali asih langsung dari Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen.

Program bisyarah tersebut merupakan bentuk apresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kepada para penghafal Al-Qur’an sekaligus upaya mendorong lahirnya generasi Qurani di daerah.

Bagi para santri dan keluarga, penghargaan itu memiliki makna lebih dari sekadar bantuan materi. Siti Aisyah (53), salah seorang wali santri, mengaku terharu melihat putranya menerima penghargaan tersebut.

“Alhamdulillah, syukur sekali putra saya bisa haflah hari ini. Semoga mendapat barokah. Matur suwun sanget Bapak Taj Yasin sudah memberikan bisyarah kepada putra saya,” ujarnya.

Ia berharap program itu dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak santri termotivasi untuk menghafal Al-Qur’an.

Rasa bahagia juga dirasakan para santri penerima bisyarah. Mauliya Aisyah Nilam Amira mengaku senang mendapat apresiasi langsung dari orang nomor dua di Jawa Tengah tersebut.

“Senang, terima kasih Bapak Wagub,” ucapnya singkat.

Sementara itu, Muhammad Luliyan Hafiz menyebut pertemuannya dengan Taj Yasin menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakannya.

“Senang banget rasanya bisa ketemu Wakil Gubernur. Ini pengalaman pertama kali. Harapannya bisa bertemu kembali dan program ini terus dilanjutkan,” katanya.

Dalam sambutannya, Taj Yasin menegaskan bahwa wisuda hafiz bukanlah akhir perjalanan seorang penghafal Al-Qur’an. Menurutnya, setelah menyelesaikan hafalan 30 juz, para santri justru memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menjaga, mengulang, dan memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an.

“Adik-adik yang sudah hafal Al-Qur’an jangan berhenti sampai di sini. Hafalannya harus terus dijaga, dibaca, dan diulang. Semakin hafal Al-Qur’an, seharusnya semakin banyak pula interaksinya dengan Al-Qur’an,” ujar Taj Yasin.

Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memiliki program pemberian tali asih kepada para penghafal kitab suci sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang mendedikasikan diri dalam menjaga wahyu Allah SWT.

Taj Yasin juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendampingi proses belajar Al-Qur’an. Menurutnya, keberhasilan seorang santri menghafal Al-Qur’an tidak lepas dari dukungan dan pengawasan orang tua.

“Jangan setelah diwisuda lalu dianggap selesai. Perjalanan masih panjang. Hafalan harus terus dijaga dan diperdalam. Orang tua juga perlu terus mendampingi dan memperhatikan perkembangan anak-anaknya,” pesannya.

Melalui program bisyarah tersebut, Pemprov Jawa Tengah berharap semakin banyak generasi muda yang mencintai Al-Qur’an dan menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.(HS)

Lima Daerah di Jateng Jadi Pilot Project Program Idaman

Konten Viral Tak Selalu Edukatif, Pakar Psikologi Digital Ingatkan Bahaya Clickbait