HALO SEMARANG – Anggota Komisi E DPRD Jateng, HM Dipa Yustia Pasa, mengajak para penyintas lupus, termasuk yang menjadi anggota komunitas Panggon Kupu, untuk aktif bersuara di media sosial, agar lebih mendapat perhatian dari pemerintah.
Hal itu dia sampaikan, seusai memberikan sambutan dalam acara memperingati Hari Lupus Sedunia, yang diselenggarakan oleh “Panggon Kupu”, sebuah Komunitas penyintas penyakit autoimun dan Lupus di Semarang, Minggu (7/6/2026) di Grha Prodia Semarang yang berlokasi, di Jl MT Haryono No 902.
Kegiatan bertema Make Lupus Visible tersebut, juga mendapat dukungan dari Prodia Semarang dan Perhimpunan Reumatologi Indonesia.
Lebih lanjut Dipa Yustia Pasa, mengatakan pihaknya mendukung dan mengapresiasi penyelenggaraan acara tersebut.
Dia pun mengajak agar Panggon Kupu lebih aktif menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi para penyintas Lupus, termasuk di antaranya tentang penyandang “disabilitas taktampak”, agar lebih mendapat perhatian dari pemerintah.
“Mulailah menulis, lewat media sosial,” kata dia.
Dia juga mengungkapkan kesediaannya, untuk suatu saat memfasilitasi audiensi Panggon Kupu dengan pemerintah dan rumah sakit mitra Komisi E DPRD Jawa Tengah.
Sementara itu, Winti Windrati SPsi SM MM, psikolog yang hadir dan memberikan motivasi dalam acara tersebut, mengatakan orang yang hidup dengan lupus, menghadapi berbagai tantangan, bukan hanya tentang menghadapi penyakitnya, tetapi juga perjuangan emosional, mental, dan sosial.
Banyak penyintas lupus mengalami rasa lelah berkepanjangan, perubahan tubuh, kekhawatiran akan masa depan, bahkan merasa “berbeda” dari orang lain.
“Namun penting untuk dipahami, penyakit bukan identitas diri. Seseorang tetap berharga, dicintai, dan memiliki makna hidup meskipun sedang sakit,” kata dia memberikan motivasi.
Sementara itu, dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialis reumatologi, Dr dr Bantar Suntoko Sp PD-KR FINASIM, menyampaikan gambaran tentang lupus dan autoimun dari sisi medis.
Menurut dia, ada sejumlah orang yang terkena lupus, umumnya mengalami peradangan pada beberapa bagian tubuh.
Gejalanya bisa berupa nyeri sendi, demam berkepanjangan, sering merasa cepat lelah, ruam pada kulit, kurang darah (anemia), dan kebocoran ginjal, di mana protein banyak terbuang melalui urine.
Selain itu sakit di dada bila menghirup napas dalam, bercak merah pada wajah, sensitif pada sinar matahari, rambut rontok, ujung jari kebiruan, stroke berat badan turun, sakit kepala, kejang, sariawan, hingga ibu hamil keguguran.
Namun demikian untuk dapat menentukan diagnosis, tetap perlu dilakukan serangkaian pemeriksaan, termasuk pemeriksaan darah dan urine di laboratorioum.
Sementara untuk pengobatan yang dilakukan oleh dokter, antara lain untuk mengendalikan peradangan, mencegah kerusakan organ, dan menekan aktivitas penyakitnya.
Adapun untuk obat yang diberikan, antara lain untuk mengatasi nyeri, obat kortikosteroid, hingga pemberian suplemen kalsium, dan vitamin D.
Bantar Suntoko juga menganjurkan penyandang lupus untuk disiplin melaksanakan hidup sehat, termasuk berolahraga secara rutin, tidak merokok maupun mengonsumsi alkohol, menjaga pola makan yang sehat dan teratur, mengelola stres, dan menghindari paparan matahari langsung.,
Sementara untuk kebiasaan hidup sehari-hari, dia menyarankan untuk tetap melaksanakan hidup sehat, dan menghindari paparan langsung sinar matahari. (HS-08)

