in

Konten Viral Bisa Dongkrak Pariwisata, Tapi Narasi Keliru Berpotensi Merugikan

Wisatawan menikmati bangunan Heritage Museum Lawang Sewu, Semarang.

DI era digital yang serba cepat, media sosial telah menjadi salah satu kanal paling berpengaruh dalam membentuk opini publik. Kehadiran influencer dengan jutaan pengikut mampu mengangkat popularitas sebuah destinasi wisata, hotel, hingga pelaku usaha hanya dalam hitungan jam. Namun di balik kekuatan tersebut, tersimpan risiko besar ketika informasi yang disampaikan tidak sepenuhnya sesuai fakta.

Fenomena konten yang mengejar viralitas tanpa didukung data yang akurat dinilai dapat menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat, bahkan berdampak langsung terhadap sektor pariwisata dan industri pendukungnya.

Hal itu dirasakan oleh Event Manager Hotel Rooms Inc Semarang, Sherly Tamoly. Menurutnya, konten-konten lifestyle yang dibuat influencer terbukti membantu meningkatkan okupansi hotel sekaligus memperkuat promosi wisata Kota Semarang. Namun, tidak sedikit pula konten yang dinilai menghadirkan narasi berlebihan hingga menimbulkan persepsi yang keliru di kalangan calon tamu.

“Namanya juga influencer sekarang banyak sekali. Apakah memang sesuai ahlinya atau ikut-ikutan membuat konten. Yang disayangkan ketika penyampaiannya menjadi misleading,” ujar Sherly.

Ia mencontohkan sejumlah ulasan mengenai fasilitas hotel yang terkadang dibumbui narasi berlebihan. Padahal ukuran kamar, kualitas tempat tidur, hingga fasilitas pendukung lainnya telah mengikuti standar manajemen yang berlaku.

Akibatnya, ekspektasi publik yang terbentuk melalui media sosial sering kali tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, muncul komentar-komentar negatif yang justru merugikan pelaku usaha.

Dampak yang lebih nyata pernah dirasakan saat proses pembangunan DP Mall yang terintegrasi dengan Hotel Rooms Inc Semarang berlangsung. Sebuah konten di media sosial yang membahas proyek tersebut memicu kesalahpahaman di masyarakat.

“Ada konten tentang pembangunan DP Mall yang menyebabkan beberapa tamu membatalkan reservasi. Mungkin mereka mengira hotel tutup, akses parkir sulit, atau operasional terganggu. Padahal hotel tetap beroperasi normal,” jelasnya.

Karena itu, Sherly berharap para influencer dapat membuat konten sesuai bidang yang dikuasai sehingga memiliki pemahaman yang cukup terhadap produk atau layanan yang diulas.

“Kalau sesuai passion dan keahliannya, mereka akan menguasai materi serta product knowledge. Penyampaiannya pun menjadi lebih tepat dan tidak menimbulkan persepsi negatif di kalangan pengikutnya,” katanya.

Kasus serupa juga pernah terjadi di kawasan wisata heritage Lawang Sewu. Pada pertengahan Mei 2026, beredar konten viral di Instagram yang menyebut pengelola Lawang Sewu bersikap “anti kucing”, akan membuang kucing liar yang berada di kawasan tersebut, bahkan memecat petugas yang memberi makan hewan-hewan tersebut.

Informasi tersebut segera mendapat klarifikasi dari PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata) selaku pengelola.

Manager of Asset Operation KAI Wisata, Moedji Setiono, menegaskan bahwa tidak pernah ada kebijakan untuk membuang kucing maupun memberhentikan petugas karena memberi makan satwa tersebut.

“Kucing di Lawang Sewu bukan sekadar hewan liar. Mereka adalah bagian dari ekosistem kawasan dan menghadirkan suasana yang hangat bagi pengunjung. Bahkan ada wisatawan yang datang karena menyukai keberadaan mereka,” kata Moedji saat berdialog dengan komunitas Cat Lovers Semarang pada 17 Mei 2026.

Sebagai tindak lanjut, pengelola Lawang Sewu bersama komunitas pecinta kucing sepakat menggelar berbagai kegiatan edukasi terkait perawatan kucing serta kontes kucing. Program tersebut diharapkan mampu menjaga kesejahteraan hewan sekaligus mendukung pelestarian bangunan bersejarah.

Menurut Moedji, keterbukaan informasi dan komunikasi yang baik menjadi kunci agar pesan yang beredar di media sosial tidak menimbulkan asumsi liar di tengah masyarakat.

“Intinya komunikasi dan keterbukaan. Dengan begitu informasi yang disampaikan influencer bisa lebih faktual sehingga masyarakat tidak salah menafsirkan pesan yang diterima,” imbuhnya.

Ketua Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Kota Semarang sekaligus pelaku usaha tour and travel serta umrah, Andy Sigit Prabowo, mengakui peran influencer sangat membantu promosi pariwisata melalui berbagai platform seperti YouTube, Instagram, X, hingga TikTok.

Menurutnya, banyak destinasi wisata, pelaku ekonomi kreatif, hingga sektor kuliner yang mendapatkan manfaat dari eksposur media sosial.

Meski demikian, Andy mengingatkan agar para kreator konten tetap mengedepankan objektivitas dan akurasi informasi ketika membuat ulasan.

“Ketika narasi yang disampaikan tidak sesuai fakta, audiens bisa salah memahami. Jangan sampai sebuah konten justru merugikan pihak lain atau berdampak pada pekerjaan banyak orang,” ujarnya.

Ia menambahkan, baik konten berbayar maupun tidak, semangat utama yang harus dijaga adalah memberikan informasi yang membangun dan bermanfaat bagi perkembangan industri, mulai dari sektor kuliner, destinasi wisata, hingga ekonomi kreatif.

Di tengah derasnya arus informasi digital, para pelaku pariwisata berharap influencer tidak hanya mengejar jumlah tayangan dan viralitas semata. Sebab, satu narasi yang tidak akurat dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih besar dibanding sekadar jumlah likes dan viewers.

Di era ketika media sosial menjadi etalase utama pariwisata, akurasi informasi bukan lagi pilihan, melainkan tanggung jawab bersama.(HS)

Ratusan Guru PAUD Jateng Dilatih “Coding” dan “Robotic”, Nawal Yasin Dorong Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran