HALO KENDAL – Wisata Pantai Ngebum, di Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal menunjukkan wajah baru Pantai Ngebum yang kian molek. Dengan gapura masuk yang tertata rapi dan artistik, ornamen baru ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Hal itu nampak saat akhir pekan, Minggu (3/5/2026), ribuan pengunjung dari dalam dan luar daerah, seperti Semarang dan sekitarnya, tampak memadati bibir pantai untuk menikmati panorama laut utara Jawa tersebut.
Namun, di balik keramaian tersebut, sejumlah persoalan infrastruktur dan manajemen fasilitas mulai menuai sorotan.
Seorang warga Kaliwungu mengaku bernama Tika saat berkunjung bersama keluarganya, mengungkapkan kekecewaan terkait dualisme pengelolaan sewa tempat duduk pengunjung. Ia menceritakan pengalamannya saat menyewa tikar seharga Rp10.000 di sore hari menjelang pulang.
”Awalnya diminta pindah ke kursi atau gazebo karena dibilang gratis lantaran pemiliknya sudah pulang. Namun ternyata, tak lama kemudian ada orang berbeda yang tetap menagih biaya sewa. Sebenarnya anak-anak senang sekali di sini, bisa berenang dan kulinernya enak, tapi sistem seperti ini harusnya dibenahi agar pengunjung nyaman,” ungkapnya kepada awak media.
Kritik serupa muncul dari pengunjung lainnya, terkait minimnya fasilitas publik gratis. Wisatawan asal Semarang yang enggan disebut namanya menyarankan, agar pihak pengelola memperbanyak gazebo yang sudah termasuk dalam harga tiket masuk.
“Jadi para pengunjung itu tidak merasa terbebani dengan biaya tambahan berkali-kali di dalam area wisata,” ujarnya, sambil berjalan.
Selain masalah fasilitas, kondisi alam Pantai Ngebum juga menjadi rapor merah yang perlu segera ditangani. Isu abrasi bukan lagi sekadar isapan jempol. Pantauan di sepanjang garis pantai menunjukkan penurunan elevasi bibir pantai yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Di sisi lain, Pantai Ngebum tetap layak mendapat pujian dalam hal pemberdayaan ekonomi lokal. Lapak-lapak UMKM yang menjajakan makanan, pakaian, hingga aksesoris tetap mempertahankan harga yang sangat terjangkau bagi kantong masyarakat menengah ke bawah.
Seperti diungkapkan Vano, pengunjung asal Ngaliyan Kota Semarang yang rutin berkunjung setiap satu hingga dua bulan sekali. Ia mengakui adanya perubahan drastis Pantai Ngebum.
“Kami selalu kangen dengan kuliner lautnya. Tapi jujur, kebersihan dan kondisi bibir pantai yang semakin tergerus abrasi ini perlu perhatian serius. Akses jalan menuju lokasi pun sebagian masih ada yang rusak, cukup mengganggu kenyamanan perjalanan,” ungkapnya.
Harmonisasi antara pedagang lokal dan wisatawan yang sudah lama berjalan inilah, yang membuat Pantai Ngebum tetap hidup meski dihantam isu lingkungan.
Kini, bola panas ada di tangan pihak terkait dan pengelola. Perbaikan akses jalan, ketegasan regulasi penyewaan fasilitas, serta langkah konkret penanggulangan abrasi menjadi kunci agar Pantai Ngebum tidak sekadar menjadi kenangan yang tergerus ombak. (HS-06)


