SUARA deru mesin berpadu dengan gemerisik kain kebaya yang tertiup angin pagi. Pemandangan tak biasa itu hadir di jalanan Surakarta akhir pekan lalu.
Ratusan perempuan melaju beriringan dalam gelaran Kartini Ride Surakarta bertema “Ride With Grace, Move with Classy”. Bukan sekadar touring biasa, kegiatan ini menghadirkan sesuatu yang jarang terjadi, perjalanan lintas generasi dalam satu irama.
Dari remaja berseragam sekolah, perempuan muda pekerja, hingga ibu-ibu berusia 40-an, semua menyatu di atas roda dua. Mereka berangkat dari Yamaha Panggung Jebres, menyusuri denyut kota: Pasar Kliwon yang sibuk, Jalan Slamet Riyadi yang legendaris, hingga megahnya kawasan Masjid Raya Sheikh Zayed.
Namun yang membuat suasana semakin istimewa bukan hanya rutenya, melainkan apa yang mereka kenakan. Kebaya dan batik.
Busana yang biasanya lekat dengan seremoni, kini hadir di atas jok sepeda motor, bergerak lincah di antara lalu lintas kota.
“Awalnya sempat ragu, naik motor pakai kebaya pasti ribet,” ujar Nadya Sekar, remaja asal Solo, sambil tersenyum mengingat pengalamannya.
Bagi Nadya, mengenakan kebaya bukan hal baru. Namun mengendarai motor dengan balutan busana tradisional adalah cerita yang berbeda.
“Biasanya cuma dipakai waktu Hari Kartini di sekolah. Ini pertama kalinya dipakai buat riding,” katanya.
Keraguan itu perlahan berubah menjadi kebanggaan. Setiap putaran roda seolah menjadi cara baru untuk merayakan semangat Raden Ajeng Kartini, tentang keberanian, tentang ruang yang terus diperluas.
Hal serupa dirasakan Uci, warga Banyuanyar, yang datang bersama ibu dan adiknya. Bagi mereka, perjalanan ini bukan sekadar touring, melainkan momen kebersamaan yang langka.
“Bisa riding bareng lintas generasi dalam satu keluarga itu pengalaman yang istimewa,” ujarnya.
Di balik kegiatan ini, Yamaha Indonesia Motor Manufacturing mencoba menghadirkan ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas.
“Kartini Ride ini adalah bentuk apresiasi terhadap perjuangan Kartini, kami wujudkan lewat kegiatan yang melibatkan perempuan dari berbagai generasi,” ujar M. Nindyarto Laksamana Praja, Area Promosi Yamaha.
Di sisi lain, jalanan Solo hari itu juga menjadi panggung bagi gaya hidup baru. Deretan skutik Classy Series seperti Fazzio Hybrid dan Grand Filano Hybrid tampil mencuri perhatian.
Desainnya yang modern berpadu dengan sentuhan personal para pengendaranya, seolah menjadi kanvas berjalan di tengah kota. Teknologi ramah lingkungan dan fitur praktis yang dibawa pun menjadi bagian dari narasi perubahan: bahwa gaya dan kesadaran bisa berjalan beriringan.
Namun, lebih dari sekadar produk atau perjalanan, Kartini Ride menghadirkan sesuatu yang lebih dalam.
Di antara tawa, keraguan, dan keberanian yang tumbuh di sepanjang jalan, tersimpan pesan sederhana, bahwa semangat Kartini tak lagi hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga di jalanan, dalam gerak, dan dalam pilihan perempuan hari ini.
Di Kota Solo, kebaya tak lagi diam. Ia melaju.(HS)


