HALO BLORA – Sejumlah siswa dari tiga sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kabupaten Blora, yang sedang melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Blora, berziarah ke makam pejuang wanita asal Aceh, Pocut Meurah Intan, di Desa Temurejo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jumat (6/3/2026).
Para siswa dari jurusan DKV dan TKJ asal SMKN 1 Blora, SMK Muhammadiyah 1 Blora, dan SMK Nurul Huda Ngawen ini, diarahkan oleh pembimbing untuk memberikan penghormatan pada sang pejuang dalam melawan penjajah Belanda.
“Senang bisa berziarah ke makam pejuang perempuan yang dijuluki ‘Singa Betina’ dari Aceh. Kami juga membuat konten video dan foto untuk media sosial, karena ini pertama kalinya saya mengenal sosok beliau,” kata Siti Alviah, siswa SMK Nurul Huda Ngawen, seperti dirilis blorakab.go.id.
Pendapat serupa disampaikan Siti, Dyah Aprilia Widyastuti dari SMKN 1 Blora merasa kegiatan ini mempertebal rasa nasionalismenya.
“Ziarah ini menumbuhkan cinta tanah air dan mengajarkan kami untuk meneladani kegigihan pahlawan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Sementara itu Teguh, selaku pembimbing siswa PKL menambahkan, dari ziarah itu para siswa tidak hanya datang untuk berkunjung, tetapi juga mempelajari dan menyerap nilai-nilai luhur dari Pocut Meurah Intan, pejuang wanita asal Aceh yang diasingkan Belanda ke Blora.
“Nilai yang diambil meliputi keberanian, keteguhan prinsip, dan cinta tanah air. Pada momen Ramadan, bahwa kegiatan ini dilakukan dalam suasana bulan puasa, di mana nilai-nilai spiritual, kesabaran, dan kebaikan ditekankan pada mereka,” jelasnya.
Mengenal Sosok Pocut Meurah Intan
Pocut Meurah Intan merupakan putri bangsawan dari Kerajaan Aceh, yang dikenal sangat anti-Belanda.
Bersama suaminya, Tuanku Abdul Majid, dia memimpin perlawanan sengit pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Sejarah mencatat keberaniannya yang luar biasa. Pada 11 November 1902, meski terkepung dan menderita luka parah di sekujur tubuh, dia menolak menyerah dengan rencong yang tetap tergenggam kuat.
Keteguhan ini bahkan membuat pihak Belanda menyematkan gelar Heldhafting atau “Yang Gagah Berani” kepadanya.
Akibat perlawanan tersebut, berdasarkan keputusan pemerintah Hindia Belanda tahun 1905, dia diasingkan ke Blora bersama putranya.
Pocut Meurah Intan wafat pada 19 September 1937 dan dimakamkan sekitar 5 kilometer ke arah utara dari Alun-alun Blora kota.
Kini, selain dikenang sebagai pahlawan di Blora, namanya juga diabadikan sebagai nama Taman Hutan Raya (Tahura) di Seulawah, Aceh Besar. (HS-08).