in

Dari Solo untuk UMKM Indonesia: Ketika MR.D.I.Y., BEDO, dan Pemerintah Daerah Menumbuhkan Usaha Bersama

(Kedua dari Kanan) Rika Juniaty Tanzil, Chief Financial Officer MR.D.I.Y. Indonesia dan (ketiga dari kiri) Ir. Eko Nugroho Isbandijarso, M.Si., Staf Ahli Wali Kota Surakarta Bidang Keuangan dan Pembangunan melihat produk-produk dari pelaku UMKM kota Surakarta.

DI sebuah ruang pertemuan di Kota Surakarta, Senin (22/12/2025), puluhan pelaku UMKM berkumpul dengan wajah yang berbeda dari beberapa bulan lalu. Ada rasa percaya diri yang tumbuh, ada optimisme yang menguat. Empat bulan perjalanan belajar, berdiskusi, dan beradaptasi dengan perubahan zaman akhirnya mencapai titik akhir melalui penutupan Program UMKM Tumbuh Bersama 2025.

Program ini merupakan hasil kolaborasi PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MR.D.I.Y. Indonesia), peritel perlengkapan rumah tangga terbesar di Indonesia, bersama Yayasan BEDO (Business & Export Development Organization) serta Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Perindustrian Kota Surakarta. Sejak Agustus hingga Desember 2025, inisiatif ini menjadi ruang tumbuh bagi ratusan UMKM untuk memperkuat fondasi usaha mereka di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.

Bagi para pelaku UMKM, program ini bukan sekadar pelatihan teknis. Selama empat bulan, mereka dibekali pengetahuan mulai dari perencanaan bisnis, penguatan kapasitas digital, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), hingga praktik bisnis berkelanjutan berbasis prinsip Environment, Social, and Governance (ESG). Tingginya antusiasme peserta menjadi cerminan nyata kebutuhan UMKM terhadap pendampingan yang terstruktur dan relevan dengan tantangan masa kini.

Direktur Utama MR.D.I.Y. Indonesia, Edwin Cheah, menyebutkan bahwa kekuatan UMKM adalah fondasi penting bagi ekonomi daerah. Karena itu, MR.D.I.Y. memilih hadir tidak hanya sebagai pelaku bisnis ritel, tetapi juga mitra pertumbuhan.

“Kami sangat mengapresiasi para pelaku UMKM di Surakarta, Sumatera Barat, dan Banyuwangi yang berpartisipasi aktif. Program ini kami rancang bukan hanya untuk berbagi pengetahuan teknis, tetapi juga membuka peluang baru melalui praktik usaha berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi modern. Kami percaya, UMKM yang kuat akan memperkuat ekonomi daerah,” ujar Edwin.

Semangat kolaborasi juga menjadi benang merah dalam program ini. Ketua Yayasan BEDO, Jeff Iskandarsjah, menilai UMKM Tumbuh Bersama sebagai bukti nyata bahwa sinergi lintas sektor mampu menciptakan dampak yang lebih luas.

“Kami melihat langsung bagaimana UMKM di Surakarta membuka diri terhadap inovasi dan menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Harapan kami, pembelajaran ini tidak berhenti di sini, tetapi terus diterapkan agar UMKM semakin tangguh, berkelanjutan, dan mampu menembus pasar yang lebih luas,” ungkapnya.

Secara nasional, program UMKM Tumbuh Bersama 2025 mencatat capaian signifikan. Sebanyak 316 UMKM, termasuk 20 pelaku usaha penyandang disabilitas, mengikuti rangkaian pelatihan intensif di berbagai daerah seperti Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Banyuwangi, dan Surakarta. Dari jumlah tersebut, 109 UMKM berasal dari Kota Solo, yang bergerak di sektor Food & Beverage, Fashion, dan Craft.

Sebanyak 150 UMKM terpilih mengikuti pelatihan lanjutan, dan 90 UMKM berhasil menyusun draf awal Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)—sebuah capaian yang menunjukkan meningkatnya kesadaran UMKM terhadap praktik bisnis berkelanjutan. Selain itu, peserta juga mengalami peningkatan kapasitas dalam pemanfaatan teknologi, termasuk penggunaan AI untuk efisiensi operasional, serta terbentuknya jejaring usaha yang lebih solid antara UMKM, pemerintah daerah, dan pelaku industri.

Penutupan program di Surakarta turut dihadiri oleh Staf Ahli Wali Kota Surakarta Bidang Keuangan dan Pembangunan, Ir. Eko Nugroho Isbandijarso, yang mewakili Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto, serta Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Kota Surakarta, Agung Riyadi.

Dalam sambutannya, Wali Kota Surakarta menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini. Menurutnya, program UMKM Tumbuh Bersama bukan hanya meningkatkan kapasitas teknis, tetapi juga mendorong transformasi pola pikir pelaku usaha agar lebih profesional dan adaptif.

“Kami melihat program ini sebagai inisiatif strategis dalam membangun ekosistem kolaboratif antara dunia usaha, lembaga pengembangan, pemerintah daerah, dan UMKM. Ke depan, kolaborasi seperti ini perlu terus diperkuat untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi Surakarta yang inklusif dan berdaya saing,” ujarnya.

Rangkaian penutupan yang digelar selama dua hari juga diisi dengan sesi interaktif, mulai dari pemaparan capaian program, lokakarya penyusunan Sustainability Report bersama Global Reporting Initiative (GRI) Indonesia, hingga cerita langsung dari UMKM terpilih tentang perubahan nyata yang mereka rasakan—dari cara berpikir, mengelola usaha, hingga melihat peluang pasar.

Bagi MR.D.I.Y. Indonesia, program ini menjadi cerminan komitmen jangka panjang untuk tumbuh bersama masyarakat. “Semoga keterampilan dan wawasan yang dipelajari selama empat bulan ini dapat membantu UMKM meningkatkan daya saing dan memperluas peluang usaha ke depan,” tutup Edwin.

Di Solo, perjalanan UMKM Tumbuh Bersama memang telah berakhir. Namun bagi para pelaku usaha, inilah justru awal babak baru—saat ilmu, jejaring, dan kepercayaan diri menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh di panggung ekonomi yang lebih luas.(HS)

Jaga Inflasi dan Tumbuhkan Ekonomi, Pemprov Jateng Tingkatkan Kolaborasi dengan BI

Gubernur Ahmad Luthfi: Pembangunan Jawa Tengah Butuh Kesinambungan