in

Lewat Tri Hita Karana, Bimas Hindu Dorong Ekoteologi Jadi Praktik Nyata

Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija (Foto : Kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu Kementerian Agama, menegaskan bahwa ekoteologi dalam ajaran Hindu bukan sekadar wacana.

Ekoteologi telah menjadi praktik nyata yang hidup dalam ritual dan aktivitas keagamaan umat.

Hal ini disampaikan Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija dalam sesi diskusi panel Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenag 2025 di Gading Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (16/12/2025).

Menurut Duija, ekoteologi dalam umat Hindu berakar kuat pada konsep Tri Hita Karana, yakni tiga sumber kebahagiaan yang menjadi landasan kehidupan beragama.

Ketiganya adalah hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan manusia dengan sesama manusia (pawongan), dan hubungan manusia dengan alam (palemahan).

“Sejak awal, ritual Hindu selalu berbasis pada ekoteologi. Dalam setiap upacara, dari yang paling kecil hingga terbesar, selalu ada empat unsur utama: bunga (buspam), buah (phalam), daun (patram), dan air (toyam). Inilah bukti bahwa ekoteologi bukan narasi, tapi implementasi nyata,” ujar Duija, seperti dirilis kemenag.go.id.

Diskusi panel tersebut turut disimak oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi‘i, para pejabat Eselon I dan II, rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), Kepala Kantor Wilayah Kemenag se-Indonesia, serta peserta Rakernas yang mengikuti secara luring maupun daring. (HS-08)

 

 

Ditjen Bimas Katolik Perkuat Layanan Rohani bagi Sekitar 7.000 Warga Binaan Lapas

Separuh Anak Indonesia Alami Kekerasan, Kemen PPPA Serukan Kolaborasi Nasional