HALO BREBES – Di tengah kesibukan tim Palang Merah Indonesia (PMI) memberikan bantuan untuk warga terdampak banjir dan longsor di Sumatera, ada satu petugas yang menarik perhatian anak-anak.
Namanya Safa’atulloh (30), staf PMI Brebes yang juga seorang ventriloquist atau seni berbicara dengan menggerakkan boneka.
Safa’atulloh atau yang biasa disapa Safaat, tidak pernah berangkat sendiri. Ia selalu membawa satu rekan khusus: boneka kecil berwajah lucu yang diberi nama Dodo.
Bersama “rekan” kecilnya itu, Safaat memberikan edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), terutama tentang cara cuci tangan pakai sabun.
Tidak Biasa
Dalam respons bencana di Sumatera, pria pehobi fotografi ini, ditugaskan di Padang, Sumatera Barat, bersama tim air dan sanitasi PMI.
Selama 10 hari, dia bertugas di dua lokasi, yaitu Koto Panjang, Ikua Koto, Koto Tangah, Kota Padang dan Batipuh Panjang, Koto Tangah, Kota Padang.
Tugas utama tim ini adalah memproduksi air bersih dan memberikan hygiene promotion atau promosi kebersihan, mulai dari cara mencuci tangan yang benar hingga menjaga kebersihan lingkungan.
Safaat mengaku mulai belajar ventriloquist pada tahun 2020, saat pandemi Covid-19.
Saat itu dia melihat bahwa metode edukasi kebersihan sering dilakukan dengan cara yang sama dan kurang menarik bagi anak-anak. Dari situ dia mencoba menggabungkan keahliannya dengan tugasnya di PMI.
“Saya ingin cari cara yang lebih menarik untuk edukasi PHBS. Waktu pandemi saya belajar ventriloquist, lalu coba bawa Dodo saat tugas. Ternyata anak-anak lebih mudah diajak bicara dan lebih cepat menangkap pesan,” kata dia, seperti dirilis laman resmi Palang Merah Indonesia, pmi.or.id.
Nama “Dodo” diambil dari nama pendiri Palang Merah, Henry Dunant. Menurut pria kelahiran Brebes ini, nama “Dunant” terlalu sulit diucapkan orang Indonesia, sehingga ia memodifikasinya menjadi “Dodo” agar lebih mudah diingat.
Saat tim PMI mendistribusikan air bersih dan mengadakan sesi edukasi cuci tangan di Batipuh Panjang Selasa (9/12/2025) lalu, sekitar 25 anak berkumpul.
Begitu Dodo muncul, perhatian anak-anak langsung tertuju padanya. Mereka tertawa, menjawab pertanyaan, dan mengikuti instruksi mencuci tangan dengan antusias.
“Aku seneng dan gemes sama Dodo, soalnya mukanya lucu!” kata Kuin, bocah berusia 5 tahun yang terlihat paling bersemangat.
Sementara itu, Deni (6 tahun) mengangkat tangan ketika ditanya siapa yang rutin menjaga kebersihan.
“Aku selalu nurut sama orang tua. Aku sikat gigi dan cuci tangan sebelum makan,” ucapnya bangga.
Bagi tim PMI, respons seperti ini menunjukkan edukasi dengan pendekatan kreatif bisa membuat pesan kesehatan lebih mudah diterima.
Seperti diketahui, banjir dan longsor menyebabkan banyak warga kehilangan akses air bersih dan meningkatkan risiko penyakit.
Karena itu, edukasi PHBS menjadi sangat penting. Safaat dan Dodo hadir bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga memastikan anak-anak tetap memahami pentingnya kebersihan di situasi darurat.
“Selama ada Dodo, anak-anak lebih fokus dan suasana jadi lebih cair. Mereka lebih berani menjawab dan bertanya,” kata pria yang gemar makan telor mata sapi.
Di tengah kerja teknis tim air dan sanitasi, dari menyalurkan air bersih hingga mengelola air bersih, kehadiran Dodo memberi sentuhan berbeda.
Ia membantu menjembatani komunikasi antara relawan dan anak-anak, yang biasanya rentan secara psikologis setelah bencana.
Kisah Safaat dan Dodo menunjukkan bahwa aksi kemanusiaan tak hanya soal logistik.
Ia juga tentang cara kreatif menjangkau masyarakat, terutama mereka yang paling rentan dan paling membutuhkan perhatian. (HS-08)