DI tengah hiruk-pikuk Simpang Lima yang selalu ramai, akhir pekan November lalu menjadi panggung megah untuk Festival Wayang Semesta 2025. Namun hanya sekitar ratusan orang yang menyaksikan pertunjukan tersebut karena hujan turun sebelum kegiatan dimulai.
Acara dua hari, 7-8 November 2025, dirayakan sebagai pesta Hari Wayang Nasional, lengkap dengan lampu sorot dan sorak sorai.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, bahkan bilang ini bakal jadi rutinitas tahunan, sebuah janji manis untuk menjaga warisan budaya tetap kinclong.
Tapi, saat wayang-wayang itu menari dengan siluet sorot lampu, ada yang lain bergoyang tak kalah dramatis di ujung kota: Jalan Silayur di Kecamatan Ngaliyan.
Jalan itu bukan lagi sekadar mitos angkernya, tapi memiliki tanjakan curam yang membahayakan pengendara, khususnya truk dan bus yang sering lewat di jalur tersebut.
Kecelakaan di sana sudah jadi cerita biasa, seperti plot twist dalam sinetron panjang.
Pagi itu, setelah Festival Wayang usai, seorang sopir truk mungkin lagi mengumpat pelan saat turun di tanjakan. “Kenapa jalan ini nggak diperbaiki?” gumamnya, sambil mengelap keringat.
Jawabannya sederhana, tapi bikin dahi berkerut: butuh Rp 60 miliar untuk melandaikan tanjakan dan memperkuat struktur jalan itu.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng sendiri yang bilang begitu, dalam pernyataan ke media baru-baru ini. “Nominalnya terlalu besar untuk APBD kita sekarang,” katanya.
Rp 60 miliar. Angka yang terdengar seperti mimpi buruk bagi kas kota, tapi coba kita hitung ulang dengan santai. Proyeksi APBD Semarang murni 2026 saja mencapai Rp 1.635 triliun, turun sedikit dari Rp 2.078 triliun tahun ini, tapi tetap seperti gunung emas yang bisa dibagi-bagi.
Rp 60 miliar itu cuma tiga nol lebih sedikit dari totalnya, atau kurang lebih 3,7 persen (maaf kalau salah hitung, penulis nilai matematikanya jelek saat sekolah).
Itu pun masih proyeksi APBD murni 2026, mungkin secara total APBD Kota Semarang di tahun 2026 mencapai Rp 5,8 triliun.
Nah, inilah letaknya yang bikin kita tersenyum miris: anggaran kota seolah punya selera pesta yang tak terbendung.
Ambil contoh event-event hiburan semisal Festival Wayang tersebut, anggaran yang dipadai untuk pesta dua hari itu konon mencapai Rp 8 miliar.
Sementara Jalan Silayur? Masih menunggu giliran, seperti tamu undangan yang terlambat karena macet. Ironisnya, tanjakan yang terlalu terjal itu bukan cuma soal estetika, ia berkaitan langsung dengan nyawa-nyawa warga.
Truk terguling, mobil rem blong, dan keluarga yang harus bolak-balik ke rumah sakit, semua gara-gara tanah yang tak kunjung rata. Tapi, setidaknya event hiburannya mendunia, kan? Hahaha.. Mosok…
Jamuan Makan Lantai 8
Lanjut ke postur APBD 2026 yang baru dirancang. Dari total Rp 1.635 triliun itu, porsi terbesar mengalir ke belanja langsung dan kegiatan operasional, bukan ke infrastruktur yang bisa dirasakan masyarakat.
Saat dibedah lebih dalam, mungkin banyak yang lari ke event-event serupa festival wayang. Tahun depan, rencananya ada lagi pesta-perta yang diharapkan bisa menarik wisatawan.
Belum lagi biaya operasional harian Wali Kota yang bikin mata melotot, seperti jamuan makan prasmanan di lantai 8 Gedung Moch Iksan, kompleks Balai Kota. Setiap hari lho.
Lantai itu, yang akses liftnya dibatasi ketat seperti VIP room di klub malam, jadi markas Wali Kota dan Tim Percepatan dan Pengendalian Pembangunan Kota Semarang (TP3KS).
Lalu siapa yang makan? Bukan para pelajar, tukang sapu jalanan, tukang becak, dan pedagang asongan, tapi tim inti, mitra, atau mungkin tamu istimewa yang datang membawa proposal event baru.
Belum ada angka resmi yang bocor, tapi bayar prasmanan harian untuk puluhan orang itu pasti bukan recehan jika ditotal selama setahun, mungkin cukup untuk tambal sulam jalan kecil di pinggiran kota.
Dan jangan lupa soal kenaikan anggaran rumah tangga Wali Kota yang dikabarkan melonjak tajam, meski detailnya masih samar seperti kabut pagi di Gunung Ungaran. Dari tahun ke tahun, biaya itu naik, katanya untuk mendukung kebutuhan operasional pemimpin yang harus “layak” di mata publik.
Lalu layaknya seperti apa? Atau mungkin yang enggak layak adalah jalan yang aman untuk rakyat.
Coba kita zoom out: kota dengan APBD segede gaban itu seharusnya bisa alokasikan Rp 60 miliar untuk pelandaian turunan Silayur tanpa harus jual patung wayang yang ada di Jalan Pahlawan. Kurangi saja pos anggaran yang tak bersentuhan dengan isu kerakyatan.
Sementara event-event itu bertebaran seperti balon pesta ulang tahun, warga Ngaliyan masih harus deg-degan setiap melewati Jalan Silayur, apalagi saat beriringan dengan kendaraan besar.
Satu sisi kota berpesta, sisi lain berjuang melawan kekhawatiran.
Pemimpin bilang anggaran ketat, tapi kok banyak event hiburan dan pengadaan mobil baru bisa lolos verifikasi? Mungkin karena mobil baru dan pesta bisa difoto untuk mejeng di media sosial, sementara jalan rusak hanya jadi meme di grup WhatsApp.
Ironi ini seperti wayang sendiri: di balik layar, ada tangan-tangan yang memainkan gerakan, memilih mana yang naik panggung dan mana yang tersembunyi di kegelapan.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)