in

KKMP, Gerakan Baru dari Kampung-Kampung Semarang untuk Membangun Ketahanan Pangan yang Lebih Adil

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dalam kunjungan kerjanya ke Gudang Logistik KKMP di Kelurahan Sampangan belum lama ini.

DI sebuah gudang sederhana di Kelurahan Sampangan, beberapa tumpuk karung beras tersusun rapi, pekerja hilir mudik, dan papan bertuliskan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) terpampang di dinding. Dari tempat inilah, sebuah gerakan besar tengah dimulai—gerakan yang digadang-gadang sebagai wajah baru ketahanan pangan Kota Semarang.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyaksikan langsung geliat itu ketika berkunjung ke Gudang Logistik KKMP beberapa waktu lalu. Dengan nada penuh optimisme, ia menyebut program KKMP sebagai “terobosan penting dalam membangun sistem distribusi pangan yang mandiri, terjangkau, dan berpihak pada warga.”

“Target kami adalah berdirinya 177 gudang atau gerai KKMP di seluruh kelurahan. Saat ini sudah ada 38 koperasi yang berjalan, dan hasilnya sangat signifikan bagi ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Apa yang terjadi di 38 KKMP perintis itu bisa digambarkan sebagai perubahan besar yang tumbuh dari langkah-langkah kecil. Dengan total modal Rp448 juta, koperasi-koperasi berbasis kelurahan tersebut kini memiliki 4.566 anggota aktif—sebuah angka yang menunjukkan tingginya kepercayaan warga pada upaya kolektif.

KKMP Gedawang menjadi salah satu contoh paling mencolok. Dari sekadar pusat distribusi bahan pokok, koperasi itu kini berkembang menjadi ruang belajar ekonomi, tempat warga berdiskusi, bereksperimen, bahkan merintis usaha bersama.

“Mereka tidak hanya menjual beras atau minyak goreng. Tetapi juga menjadi pusat inovasi. Ada pelatihan kewirausahaan, ada pencatatan keuangan digital, dan ada budaya gotong royong yang kembali menguat,” kata Agustina Wilujeng.

Gerakan KKMP menciptakan perubahan nyata, dari harga pangan yang lebih stabil hingga lahirnya peluang kerja baru di tingkat kelurahan. Yang paling terasa adalah semakin pendeknya rantai distribusi. Warga bisa mendapatkan bahan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau tanpa harus bergantung pada tengkulak atau pasar besar.

Pemerintah melihat setidaknya empat dampak utama, akses pangan merata dengan harga ramah kantong, ekonomi lokal menguat karena lapangan kerja tercipta, distribusi lebih efisien dan transparan, komunitas semakin berdaya melalui kepemilikan bersama.

Untuk menjaga agar roda koperasi tidak sekadar berputar tetapi melaju lebih kencang, Pemkot Semarang menyiapkan strategi pendukung. Ada pendampingan manajemen, bantuan permodalan, program digitalisasi, hingga kemitraan dengan berbagai lembaga.

Pendampingan intensif dilakukan agar pengurus koperasi tak hanya semangat mengelola, tetapi juga terampil melakukan pencatatan, pengadaan barang, dan pelayanan anggota. Sementara integrasi digital disiapkan untuk mempermudah transaksi, stok barang, hingga laporan keuangan.

“Ini bukan proyek satu-dua tahun. Ini fondasi jangka panjang,” katanya.

Peluncuran 177 KKMP menjadi fase penting dalam rencana besar Pemkot Semarang untuk menciptakan sistem ketahanan pangan perkotaan yang mandiri dan resilien. Pembangunan gudang-gudang KKMP di seluruh kelurahan akan memperkuat rantai pasok, mendekatkan akses pangan, sekaligus menjadi ruang kolaborasi warga.

Setiap KKMP dirancang bukan hanya sebagai tempat penyimpanan, tapi sebagai simpul ekonomi baru—tempat warga berkumpul, belajar, dan tumbuh bersama.

“Keberhasilan 38 KKMP perintis ini menjadi blueprint kami untuk kelurahan lain. Kalau ini berjalan, kita bukan hanya bicara distribusi pangan, tapi kemandirian kota,” tegas Agustina.

Melalui KKMP, Semarang sedang menulis bab baru dalam sejarah pembangunan ekonominya: membangun ketahanan pangan dari kampung-kampung, dari warga untuk warga. Sebuah gerakan yang tidak hanya menghadirkan beras di meja makan, tetapi juga harapan di tengah masyarakat.

Dengan model kerakyatan, kolaborasi lintas pihak, dan semangat gotong royong yang kembali menguat, kota ini menegaskan diri sebagai pionir dalam membangun sistem pangan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.(HS)

BRI RO Semarang Salurkan KUR Rp 14,02 Triliun, Dorong Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Mulai 2026, Tak Ada Lagi Guru Honorer di Semarang: Semua Diangkat Menjadi PPPK