in

Tragedi Ponpes Al-Khoziny, Legislator Singgung Lemahnya Kesadaran Penerapan Standar Teknis Bangunan

Tim SAR gabungan terus berupaya melakukan operasi pencarian dan pertolongan terhadap korban reruntuhan salah satu bangunan pondok pesantren Al Khozyni, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (30/9). (Foto : bnpb.go.id)

 

HALO SEMARANG – Anggota Komisi V DPR RI, Sudjatmiko menegaskan bahwa tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, harus menjadi momentum untuk memperkuat budaya konstruksi aman di Indonesia.

Menurutnya, insiden tersebut bukan semata peristiwa duka, tetapi juga cerminan lemahnya kesadaran, akan pentingnya penerapan standar teknis dalam pembangunan gedung.

Sudjatmiko menjelaskan, dalam perspektif teknik sipil, bangunan yang dirancang dan dibangun sesuai kaidah seharusnya tidak mudah roboh.

“Kalau semua tahap pembangunan dilakukan secara benar, mulai dari perencanaan, perancangan, sampai pelaksanaan, maka tidak akan ada bangunan yang tiba-tiba ambruk. Ini adalah soal disiplin terhadap prinsip keselamatan,” kata dia, di Jakarta, Minggu (5/10/2025), seperti dirilis dpr.go.id.

Politisi Fraksi PKB itu mengingatkan bahwa setiap kali terjadi bangunan roboh, publik kerap terburu-buru menganggapnya sebagai musibah alamiah.

Padahal, banyak peristiwa justru terjadi akibat kegagalan konstruksi. “Kita sering menyalahkan takdir, padahal akar masalahnya ada pada kelalaian manusia. Di balik setiap bangunan yang roboh, ada perhitungan yang salah, pengawasan yang abai, atau penggunaan material yang tidak sesuai standar,” ungkapnya.

Ia menilai tragedi seperti di Al Khoziny seharusnya membuka mata pemerintah daerah dan masyarakat terhadap pentingnya membangun dengan pendekatan teknis yang profesional.

Apalagi, bangunan pendidikan memiliki beban sosial tinggi karena menampung banyak orang dalam satu kawasan.

“Kegagalan konstruksi di pesantren bukan sekadar persoalan bangunan runtuh, tapi soal nyawa santri yang dipertaruhkan,” tegas wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Kota Depok dan Kota Bekasi ini.

Sudjatmiko menambahkan, dalam konteks sosial, masyarakat sering kali menganggap pembangunan cukup dilakukan dengan niat baik dan gotong royong. Namun tanpa perhitungan teknis, niat baik justru bisa berujung petaka.

“Kita harus mulai mengubah paradigma bahwa membangun bukan sekadar soal niat, tetapi soal tanggung jawab terhadap keselamatan,” katanya.

Ia pun berharap tragedi Al Khoziny menjadi pelajaran besar bagi seluruh pihak, termasuk lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan tenaga konstruksi.

“Bangunan adalah simbol peradaban. Kalau kita gagal menjaga kualitasnya, itu berarti kita gagal menjaga keselamatan masyarakat,” kata dia. (HS-08)

Polres Grobogan Amankan Doa Bersama di Klenteng Hok An Bio Purwodadi

Anggota DPR Minta Pemerintah Tak Tutup Mata terhadap Infrastruktur Pesantren