HALO SEMARANG – Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak TNI untuk mengusut secara transparan, kasus kematian Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh para seniornya.
Puan meminta agar seluruh proses hukum terhadap para tersangka dijalankan secara objektif dan transparan.
“Segala tahapan, mulai dari penyelidikan hingga penyidikan, yang kini telah menetapkan 20 tersangka, harus dipastikan berjalan adil dan sesuai prosedur,” kata Puan, beberapa waktu lalu, seperti dirilis tribratanews.polri.go.id.
Puan juga meminta agar para pelaku dijatuhi hukuman yang memberi efek jera.
“Apa yang menjadi penyebab dan bagaimana prosesnya nanti, harus diberikan hukuman yang memberi efek jera sebaik-baiknya,” tegasnya.
Selain itu, dia menekankan pentingnya evaluasi internal di tubuh TNI, untuk mencegah terulangnya kekerasan oleh prajurit senior pada juniornya.
“Hal seperti ini tentu tidak boleh terulang lagi. Hubungan antara senior dan junior seharusnya tidak didasari oleh tindakan kekerasan, tetapi harus dibangun atas dasar saling hormat dan menghargai,” kata Puan.
Diperiksa
Sebelumnya, Subdetasemen Polisi Militer IX/1 Kupang telah memeriksa sebanyak 20 prajurit dalam rangka penyelidikan kasus kematian Prada Lucky.
Mereka diperiksa sebagai saksi untuk mengungkap secara terang benderang dugaan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal.
Wakil Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana, Letkol Inf Amir Syarifudin, menyampaikan bahwa para prajurit tersebut sejauh ini masih dalam kapasitas sebagai saksi.
“Selama ini informasi yang kami terima, sekitar 20 orang telah dimintai keterangan. Tapi dalam kapasitas sebagai saksi, bukan tersangka,” kata Amir, beberapa waktu lalu.
Meski begitu, Amir menyatakan bahwa kepastian ada tidaknya pelanggaran akan ditentukan setelah proses investigasi rampung. (HS-08)