HALO SEMARANG – Obesitas atau kelebihan berat badan di kalangan remaja, mendapat sorotan serius dari Komisi IX DPR, dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU), di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (24/4/2025).
Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto menekankan, bahwa malnutrisi tidak hanya berupa kekurangan gizi, namun juga kelebihan gizi yang dapat menyerang semua kalangan, termasuk masyarakat miskin.
Selain malnutrisi, berbagai isu kesehatan lainnya juga dibahas dalam RDPU, terkait usulan perbaikan regulasi dan implementasi program kesehatan di Indonesia.
Dalam acara itu Edy juga merespons positif usulan FKM UI, terkait sinergi antar-kementerian seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Kesehatan, Badan POM, dan Kementerian Pendidikan dalam menanggulangi isu kesehatan.
“Usulan ini cukup komprehensif dan menjadi masukan penting bagi kami untuk disampaikan ke mitra kerja,” ujar Edy, seperti dirilis dpr.go.id.
Terkait program deteksi dini kanker serviks, Edy menekankan pentingnya pemerataan alat dan tenaga medis yang kompeten di seluruh puskesmas, terutama dalam mendukung kampanye pemeriksaan kesehatan gratis yang diusung pemerintah.
Selain itu, isu layanan kesehatan peduli remaja juga menjadi sorotan. Edy menilai perlunya edukasi dan pendekatan layanan yang lebih sesuai bagi generasi muda, termasuk mahasiswa.
Ia menyampaikan keprihatinan terhadap kesenjangan persepsi antar-generasi dalam pola pergaulan dan akses layanan kesehatan.
Persoalan akses layanan kesehatan melalui BPJS Kesehatan juga kembali disinggung.
Edy mengungkapkan bahwa meski cakupan peserta BPJS sudah lebih dari 90 persen, banyak masyarakat di daerah terpencil tetap kesulitan mengakses manfaat karena minimnya fasilitas kesehatan.
“Kita perlu membongkar persepsi lama soal kompetensi SDM di puskesmas. Jangan sampai puskesmas justru kekurangan tenaga hanya karena standar yang tidak sesuai konteks,” tambahnya, sembari mengkritisi sistem kapitasi yang dinilainya belum adil antara daerah dengan tantangan geografis berbeda.
Pihak FKM UI menyambut baik kesempatan ini. Seorang perwakilan dosen menyampaikan apresiasi atas ruang dialog tersebut, serta membuka peluang kerja sama lanjutan dengan Komisi IX DPR RI. Ia juga memperkenalkan mahasiswa S2 dari berbagai latar belakang dan daerah yang turut hadir dalam rapat.
Rapat ditutup dengan semangat kolaboratif untuk memperkuat kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah dan kebutuhan riil masyarakat. (HS-08)