in

Menengok Sentra Pengasapan Ikan di Bandarharjo Semarang yang Produksi Kuliner Mangut

Proses pengasapan daging ikan atau dikenal dengan kuliner khas Mangut di Sentra Pengasapan Ikan di Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara, Rabu (4/9/2024).

BELASAN cerobong asap mengepul ke udara. Begitulah sekilas pemandangan di lokasi Sentra Pengasapan Ikan atau kuliner ikan asap yang berada di pinggir Kali Baru Semarang, Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara, Kota Semarang.

Saat menyambangi kampung mangut atau salah satu sentra pengasapan ikan terbesar di Kota Semarang pada Rabu (4/9/2024) sekira pukul 09.00 WIB, terlihat pekerja yang didominasi para ibu sedang memproses ikan untuk diasap, mulai dari memotong bagian daging ikan, dan jeroan ikan untuk diolah sebagai pakan ternak.

Dalam proses pengasapan ikan atau yang dikenal dengan kulineran mangut ini, kurang lebih membutuhkan waktu 15 menit, setelah ikan yang sudah dipotong-potong dan ditusuk bambu dan siap untuk masuk di ruang pengasapan. Bahan untuk pengasapan yakni menggunakan tempurung kelapa kering. Kesibukan mereka dengan bagiannya masing -masing di sentra pengasapan itu dilakukan setiap hari, kecuali hari minggu yang mana pekerja memang libur.

Pada pukul 07.00 WIB, mereka sudah mulai melakukan tugasnya. Terutama ibu-ibu yang menyiapkan potongan ikan untuk dilakukan proses produksi diasap, sebelum dikemas untuk diambil konsumen/penjual eceran yang dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang maupun dikirim ke luar kota Semarang. Yakni hingga Ambrawa, Demak, Salatiga dan daerah lainnya.

“Untuk produksi ikan asap tiap hari, kecuali kalau hari Minggu memang libur. Dan banyak sedikit produksi dan sistem kerjanya di sini tergantung adanya bahan mentah ikan, dan jumlah permintaan dari pelanggan,” ujar Toyiah (45), salah satu pekerja saat ditemui di tempat usaha pengasapan ikan Pak Sunardi, baru-baru ini.

Yang paling banyak, kata dia, yakni pengiriman mangut adalah ke Ambarawa, rata-rata setiap harinya sampai 15 keranjang, per kerangjang berisi 10 kilogram.

“Dan juga diambil oleh para penjual (bakul) yang dipasarkan di pasar-pasar seperti Karangayu, Pasar Peterongan, pasar Masjid Agung dan pasar Johar,” katanya.

Jenis ikan yang diasap ada tiga, yakni manyung, tongkol dan ramadang.

“Kalau paling disukai umumnya ikan manyung dan tongkol, maupun jenis lainnya kadang sesuai selera,” tambahnya.

Sedangkan untuk waktu pengambilan ikan, baik ke Ambarawa dan para penjual/pedagang, umumnya setelah Magrib, dan diangkut dengan pick up, atau diambil tukang becak maupun datang sendiri.

“Setelah proses produksi pengasapan ikan selesai, karena di sini, dari awal kerjanya mulai pukul 03.00 WIB, biasanya oleh pekerja yang laki-laki, untuk pemotongan kepala ikan,” jelasnya.

Bahan ikannya sendiri, lanjut perempuan ramah ini, didatangkan sampai dari luar Semarang. Ada dari Jakarta, Pacitan dan Demak.

“Memang kalau dari Semarang sendiri tidak ada untuk bahannya,” ungkapnya.

Lalu untuk harga ikan asap dibandrol Rp 70 ribu per kilogram untuk jenis manyung, dan Rp 60 ribu perkilogram jenis tongkol dan ramadang.

“Perhari rata-rata produksi tiga jenis ikan itu, kurang lebih lima kuintal,” katanya, disela- sela aktivitasnya.

Senada dengan Ida (39) dirinya sudah belasan tahun bekerja di sentra pengasapan ikan, sehingga familiar dengan suasana yang ada.

“Kalau kerja disini, dari pagi sampai sore bahkan malam hari. Sedikit banyak kerjanya tergantung jumlah permintaan, pas permintaan banyak,ya sampai lembur pulangnya malam. Yang kerja di sini warga sekitar Bandarharjo, karena dulu memang turun-temurun awalnya dari rumah masing-masing, terus ditempatkan di lokasi ini untuk produksi,” jelasnya.

“Dulunya puluhan tempat usaha pengasapan ikan di sini, sekarang tinggal belasan, yang lainnya tutup. Kemungkinan, libur karena memang tidak ada bahan ikan, dan tidak ada lagi yang mau meneruskan usaha orangtuanya,” ungkapnya. (HS-06)

Pastikan Dokumen Ijazah Bapaslon Sah, Bawaslu Kota Semarang Lakukan Pengawasan Melekat

Polda Jateng Pastikan Proses Laporan Kasus Kematian Dokter PPDS Undip, Dorong Saksi Lain Speak Up