HALO SEMARANG – Suasana kegiatan pengibaran bendera Merah Putih untuk memperingati Hari Kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia yang digelar di halaman D’Kambodja Heritage, Jalan Diponegoro No.45 Semarang terasa spesial. Sebab, pagi itu nampak tak hanya diikuti oleh seluruh karyawan dan staf, namun juga melibatkan sedikitnya 22 murid berkebutuhan khusus (disabilitas). Mereka berasal dari Yayasan Bina Bunda milik desainer kondang Anne Avantie.
Anne Avantie bertindak sebagai inspektur upacara, sementara murid-murid Bina Bunda bertindak sebagai petugas upacara mulai dari pembawa acara, pembaca teks Proklamasi, pembaca pembukaan UUD 1945, pembaca teks Pancasila, pembaca doa hingga tim paduan suara.
Meski sambil duduk di atas kursi roda, mereka terlihat bersemangat dan tampil percaya diri sehingga dapat menjalankan tugasnya masing- masing dengan baik. Seluruh peserta pun mengikuti upacara bendera dengan penuh khidmat dan meriah.
Sedangkan sebagai petugas pengerek bendera merah putih, pemimpin upacara, komandan pleton hingga ajudan pembina upacara merupakan Paskibraka Kota Semarang 2023 yang tergabung dalam Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Semarang 2023. Menariknya, para karyawan saat upacara mengenakan pakaian tradisional, dan kostum perjuangan zaman kemerdekaan.
Pemilik D’Kambodja Heritage, Anne Avantie menjelaskan, upacara bendera peringatan Hari Kemerdekaan ke-79 ini adalah sekaligus upacara bendera yang ke -12 kalinya yang digelar. Yang mana inspektur upacaranya yakni Anne sendiri.
Anne mengatakan dirinya tidak ingin membeda-beda antara satu sama lainnya. Dengan melakukan upacara bersama murid-murid Bina Bunda bisa mengekpresikan talentanya. Anne juga percaya mereka bisa melakukan seperti yang orang lain lakukan meski dalam keterbatasan .
“Yayasan Anne Avantie ini sudah berdiri 25 tahun. Hari ini menjadi hari yang bersejarah bagi anak-anak kami, sekolah kami namanya Bina Bunda sekolah talenta anak berkemampuan khusus ini sudah berdiri cukup lama. Dan ini bukti mereka bisa,” jelasnya, usai memimpin upacara bendera.
Menurutnya, dengan memberikan kesempatan anak-anak disabilitas menjadi petugas upacara maka kepercayaan diri mereka akan tumbuh semakin besar. Serta mempertebal rasa cinta kepada tanah air.
“Awalnya saya ragu, tapi ketika saya ajak mereka menjadi petugas ternyata mereka antusias dan sangat percaya diri,” katanya.
Bagi Anne, dengan mendirikan sekolah bagi anak berkebutuhan khusus adalah sebuah panggilan hidup. Bahkan, baginya masih banyak tugas besar menanti untuk bisa mencerdaskan anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.
“Mereka ini sekolah rutin. Ada hari tertentu itu pelajaran bagi tuna rungu, daksa dengan handicraft, main musik, dan talenta lainnya dari mereka selalu dibina selama belasan tahun. Jadi mereka tidak demam panggung. Bahkan ibunya kami libatkan jadi karyawan di perusahaan kami,” ungkapnya.
Salah satu murid Bina Bunda, Bintang yang bertugas sebagai pembaca doa, mengaku senang dipercaya sebagai petugas upacara. Meski ia mengalami kesulitan dan menghafal naskah doa namun saat upacara berlangsung penampilannya patut diapresiasi.
“Latihannya hanya dua kali. Dan memang latihannya harus tenang juga tidak boleh cepat-cepat bacanya, agak deg-degan awalnya tadi tapi bisa lancar,” papar Bintang.
Salah seorang tim paduan suara dari Bina Bunda, Vero mengaku tidak ada kesulitan dalam membawakan berbagai lagu kemerdekaan dalam upacara. Meski hanya dua kali berlatih, Vero dan timnya berhasil menyanyikan lagu kemerdekaan dengan lancar.
“Tadi saya nyanyi lagu kemerdekaan ada Gebyar-Gebyar, Indonesia Raya dan lagu lainnya juga,” pungkas Vero. (HS-06)