in

Gereja Blenduk Direhabilitasi, Begini Sejarah Bangunan Cagar Budaya Ikon Wisata Kota Lama

Suasana petugas melakukan upaya rehabilitasi bangunan cagar budaya Gereja Blenduk di Kawasan Kota Lama, baru-baru ini.

SALAH satu bangunan ikon wisata Kota Lama yakni Gereja Immanuel atau dikenal Gereja Blenduk kini makin memikat wisatawan yang berkunjung ke Kota Semarang. Sebab beberapa waktu terakhir bangunan Gereja Blenduk masih dilakukan proses rehabilitasi dari Kemeterian PUPR. Nampak beberapa petugas melakukan upaya perbaikan bangunan cagar budaya untuk memperbaiki kerusakan yang ada, sehingga bisa difungsikan lagi dengan lebih optimal.

Dari pantauan di lapangan baru-baru ini, di sekeliling bangunan tempat ibadah yang khas karena bentuk bagian atas berbentuk cembung seperti kubah, yang dalam bahasa Jawa disebut “Mblenduk” itu juga dipagari pembatas dengan seng.

Selama dalam proses perbaikan tersebut, otomatis ditutup sementara untuk kunjungan wisatawan. Wisatawan yang ingin foto di depan gedung pun menjadi terbatas.

Salah satu pengunjung, Wildan mengaku cukup tertarik dengan bangunan bersejarah yang ada di Kawasan Kota Lama Semarang tersebut.

“Kalau di sini seperti masuk ke lorong waktu, seolah berasa di masa zaman Kolonial Hindia Belanda. Ini sangat menarik untuk menggali sejarahnya seperti apa saat masa itu,” katanya.

Menurutnya, potensi wisata sejarah di Kota Semarang sangat tinggi untuk bisa mengundang banyak wisatawan untuk datang ke Semarang, khususnya Kota Lama. “Sayangnya, kebanyakan wisatawan itu lebih menyukai datang ke lokasi gedung gedung cagar budaya untuk berfoto,” imbuhnya.

Meski ada juga beberapa pengunjung yang terlihat mendatangi restoran-restoran/kafe yang juga bertebaran di pusat kota peninggalan yang disebut little Netherland ini.

Sejarah Gereja Blenduk

Berdasarkan sejarah, Gereja Blenduk ini berdiri sejak tahun 1753 dengan nama Nederlandsche Indische Kerk atau Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel dan merupakan gereja tertua di Jawa Tengah.

Pada awal pembangunannya, gereja ini sebetulnya berbentuk menyerupai rumah joglo. Tapi seiring waktu, tepatnya pada tahun 1787, bangunan gereja direnovasi dan di tahun 1894, dibuatlah atap gereja ini berbentuk cembung (mblenduk) dan ditambahkan pula dua menara. Di dalam maupun di luar gedung banyak spot berfoto yang instagramable dan dijadikan background foto wisatawan.

Jika ingin berkunjung ke Gereja Blenduk, lebih baik kunjungi saat tidak ada ibadah dengan jadwal kunjungan pada hari Senin – Sabtu dari pukul 09.00 WIB– 16.00 WIB. Dan hari Minggu pukul 13.00 – 16.00 WIB. Untuk bisa masuk ke dalam, wisatawan boleh masuk dengan dikenakan biaya HTM sebesar Rp 10 ribu sebagai pemeliharaan gedung.(HS)

SPAM Semarang Barat Jadi Contoh Sukses Implementasi Skema KPBU

Kemenag dan Lemhannas Sinergi Rancang Penguatan Prinsip Kebangsaan