in

Rachmat Gobel Sebut Bonus Demografi Jadi Beban Jika Hanya Jadi Pasar Produk Impor

Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan (Korinbang) Rachmat Gobel. (Foto: dpr.go.id)

 

HALO SEMARANG – Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan (Korinbang) Rachmat Gobel, mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar.

Hal itu bisa menjadi kekuatan bagi Indonesia apabila diberdayakan dengan sebaik-baiknya

“Jika tidak (diberdayakan-Red), maka jumlah penduduk yang besar akan menjadi beban yang sangat besar pula,” kata Gobel, di Jakarta, baru-baru ini.

Ia mengungkapkan bahwa jumlah penduduk yang besar, berarti ketersediaan tenaga kerja yang besar, apalagi Indonesia sedang berada dalam fase bonus demografi.

Ini berarti jumlah tenaga produktif sangat besar. Selain itu, jumlah penduduk yang besar berarti jumlah pasar yang besar.

“Jumlah penduduk yang besar ini yang bikin ngiler negara lain, untuk menjadikan Indonesia sebagai target pasar mereka,” kata Gobel.

Berbagai negara pasti akan menggunakan segara cara, untuk memanfaatkan bonus demografi Indonesia, demi kepentingan mereka.

Jika pertahanan Indonesia mudah ditembus dan dibanjiri produk impor, maka banyak kerugian yang menimpa Indonesia.

“Ini seperti memberi makan buaya, yang kemudian mencabik-cabik kita sendiri. Ini namanya kebodohan yang berulang,” kata dia.

Ada lima kerugian yang diungkapkan Gobel, akibat Indonesia menjadi negara pelahap impor.

Pertama, uang Indonesia untuk membiayai pekerja dan keluarga negara lain. Kedua, pekerja Indonesia kehilangan lapangan pekerjaan.

Ketiga, jika produk impor tersebut digunakan untuk proyek pemerintah maupun BUMN, maka dana negara dan dana APBN digunakan untuk membiayai negara lain.

Padahal negara dengan susah payah mengumpulkan pajak, bahkan Bea Cukai dihujat netizen akibat pengetatan masuknya barang dari luar negeri.

Keempat, akibat tidak terserapnya tenaga kerja karena industrinya kebajiran impor maka Indonesia kehilangan potensi tenaga-tenaga kreatif karena mereka menganggur. Kelima, akibat pengangguran yang meningkat maka kemiskinan pun meningkat.

“Mereka kemudian harus mendapat bansos maupun pembiayaan jaminan sosial yang  ditanggung negara, yang semuanya menggunakan dana APBN. Jadi akibat jebolnya tanggul impor, Indonesia rugi berlipat-lipat,” tegasnya. (HS-08)

Minimalisasi Pemilih Hantu, Anggota DPR Ini Usulkan Surat Keterangan Kades Jadi Pengganti Akta Kematian

3.060 Rumah Sakit akan Implementasikan Kelas Rawat Inap Standar