HALO SEMARANG – Banjir yang melanda Kabupaten Grobogan, Demak, dan Kudus telah memunculkan rumour tentang bakal muncul kembali Selat Muria, atau selat kuno di sebelah selatan Gunung Muria.
Benarkah ? Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Wafid pun, melalui esdm.go.id menampik rumor akan terbentuk kembalinya Selat Muria yang telah hilang sekitar 300 tahun yang lalu.
Menurutnya, Selat Muria yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Muria, dahulu tidak mungkin terbentuk dalam waktu dekat.
Atau selat tersebut bisa terbentuk kembali, tetapi melalui proses geologi yang dahsyat, seperti gempa bumi tektonik dengan berkekuatan sangat besar.
Dia pun kemudian memberikan penjelasan, tentang kemungkinan terbentuknya kembali selat Muria, berkaitan dengan penurunan tanah (land subsidence).
“Di daerah pesisir Demak, kecepatan land subsidence diperkirakan berkisar 5-11 cm/tahun. Beberapa tempat di daerah pesisir memiliki elevasi yang lebih rendah dibanding muka air laut, sehingga bila terjadi banjir rob akan menjorok jauh masuk ke daratan,” kata dia.
Walaupun terjadi penurunan tanah di daerah Demak dan sekitarnya, Selat Muria bukan berarti akan terbentuk kembali dalam waktu dekat.
“Banjir saat ini yang lama surut, lebih dipengaruhi oleh iklim yakni curah hujan yang tinggi, adanya kerusakan infrastruktur,” kata Wafid, di Bandung, Sabtu (23/4/2024).
Wafid menjelaskan, tanggul dan kondisi lapisan tanah di bawah permukaan yang didominasi lapisan lempung lunak, cenderung bersifat impermeable, sehingga lama meloloskan air.
Dengan kata lain, tanah di wilayah tersebut memang tidak gampang menyerap air.
Selain itu, terjadinya banjir rob, juga menyebabkan genangan di daratan tidak mudah terbuang ke laut.
“Secara teori, Selat Muria mungkin saja terbentuk kembali, yakni apabila terjadi proses geologi yang dahsyat, misalnya terjadinya gempa bumi tektonik berkekuatan sangat besar yang menyebabkan terjadinya amblasan tiba-tiba (graben) dan mencakup areal yang luas,” kata Wafid.
Menurut Wafid, Graben Land Subsidence atau penurunan tanah tidak cukup sebagai faktor penyebab Selat Muria terbentuk kembali.
Jikapun terjadi akan memerlukan waktu yang sangat lama. Untuk skala waktu geologi, bisa mencapai ratusan sampai ribuan tahun, ditambah kecepatan penurunannya harus seragam mulai dari Demak hingga Pati.
Fakta di lapangan berdasarkan penelitian Badan Geologi, memperlihatkan terdapat perbedaan kecepatan penurunan tanah, di mana pada daerah pesisir lebih cepat dibanding daratan.
“Beberapa perkiraan faktor dominan kemungkinan akan kembali terbentuknya Selat Muria adalah terjadinya penurunan muka tanah yang besar yang juga disertai kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim serta terganggunya pola aliran sungai karena elevasi daratan lebih rendah dibanding muka air laut,” kata Wafid.
Selat Muria
Untuk diketahui, pada sekitar abad ke-16, memang terdapat selat di sebelah selatan pulau atau gunung Muria.
Pakar perikanan dan pengelolaan sumber daya pesisir dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip, Agus Hartoko, dalam artikel bertajuk “Data Satelit Rekonstruksi Berbasis Spasial dan Penemuan Fosil Pesisir Purba, Terumbu Karang, dan Moluska di Selat Muria – Jawa Tengah, Indonesia, menyebut keberadaan selat tersebut masuk dalam Kajian antropologi yang dilakukan De Graaf dan Pigeaud (1985), Perancis.
Seorang sejarawan , Lombard (1996) berasumsi bahwa Gunung Muria sebelumnya sempat terpisah pulau dari Jawa. Terutama pada masa sebelum abad ke-17, dipisahkan oleh sebuah selat.
Mengutip Lombard (1996) dan Kistanto et.all,.(2009), Agus Hartoko menyebutkan bahwa Demak, Jepara, Kudus, Pati, Juwana dan Rembang merupakan kota-kota yang penting pada masa itu,
Selanjutnya De Graaf dan Pigeaud (1985), berspekulasi bahwa Sungai Lusi atau muara Sungai Serang adalah muaranya terletak di selat Muria, yang sangat dangkal. (HS-08)