HALO SEMARANG – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencari penyebab kebocoran data DPT Pemilu 2024 milik KPU, dengan melakukan forensik digital.
Sebelumnya terjadi peretasan server milik KPU dan terdapat sedikitnya 250 juta data yang diretas dan dijual.
“Dalam penanganan insiden siber yang terjadi di KPU, BSSN sedang melakukan analisis dan forensik digital dari sisi aplikasi dan server, untuk mengetahui root couse dari insiden siber yang terjadi,” kata Juru Bicara BSSN, Ariandi Putra, Jumat (1/12/23).
Dia mengatakan nantinya BSSN akan melaporkan hasil forensik digital itu kepada KPU.
“Hasil investigasi serta perkembangan tindak lanjut dari dugaan insiden kebocoran data akan disampaikan langsung oleh KPU, selaku penyelenggara sistem elektronik,” kata Ariandi, seperti dirilis tribratanews.polri.go.id.
Sebeleumnya, sebuah akun Jimbo di situs peretasan BreachForums mengunggah data yang diduga bocoran dari situs KPU, Senin (27/11).
Akun ini menampilkan beberapa tangkapan layar dari situs pengecekan DPT, https://cekdptonline.kpu.go.id/.
Data yang dibobol, diklaim berupa nama, Nomor Induk Kependudukan (NIK), tanggal lahir, hingga alamat.
Jimbo menjual bocoran data tersebut, dengan harga 2 BTC atau US$74 ribu atau setara Rp1,14 miliar.
Temuan Polri
Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri, mengatakan memang ada temuan kebocoran data dari KPU. Indikasi kebocoran data KPU itu, ditemukan saat pihaknya melakukan patroli siber.
“Kebocoran data KPU kami temukan dari hasil patroli tim siber ya,” kata Adi Vivid, Rabu (29/11/2023).
Dirtipidsiber Bareskrim Polri Brigjen Pol Adi Vivid, mengatakan pihaknya langsung bergerak cepat mendalami indikasi kebocoran data KPU) tersebut.
Dari hasi pendalaman, tim menemukaan akun yang diduga membeberkan kebocoran data KPU tersebut.
Akun tersebut yaitu dengan nama pengguna @p4c3n0g3. Akun ini membeberkan informasi diduga seseorang menjual data-data dari KPU RI seperti NIK, NKK, hingga e-KTP.
“Ini kita sedang melakukan penyelidikan. Kita juga sedang koordinasi langsung dengan KPU,” ujar Adi.
Sebelumnya, geger adanya kabar dugaan peretasan data pemilih tahun 2024 oleh seorang yang mengaku sebagai hacker dengan akun dengan username Jimbo.
Di mana di dalam klaim data yang dipublikasi, peretas tersebut mengklaim memiliki data lebih dari 252 juta baris data penduduk dengan kueri NIK (nomor induk kependudukan), alamat, tempat tanggal lahir, hingga data TPS yang bersangkutan.
username Jimbo yang mengklaim memiliki data sebanyak 252.327.304 menawarkannya senilai 2 BTC atau sekitar Rp 572 Juta. (HS-08)