Dirinya bertemu terakhir pada Jumat (27/10/2023) ketika korban sedang latihan menjadi petugas upacara. Hanya saja saat itu korban sempat mengeluhkan sakit.
“Korban jadi petugas paduan suara, keluhkan pusing, saya minta untuk istirahat, setelah latihan anak ini masih ikut pelajaran sampai selesai,” ujarnya, Jumat (4/11/2023).
Lalu pada dua hari pekan depannya, korban tidak masuk sekolah dengan keterangan izin sakit. Izin tersebut dikirim melalui pesan WhatsApp.
“Izinnya sakit panas dan kepala pusing, saya jawab di chat itu, semoga cepat sembuh,” bebernya.
Beberapa hari selanjutnya Siti keget mengetahui kabar korban meninggal dunia. Ditambah informasi-informasi di media yang menyebutkan korban meninggal tak wajar. Akibat kejadian ini, ia menjadi syok sehingga meminta kepada para anak didiknya untuk bercerita ketika terjadi apapun.
“Tentu syok, makanya saat ini saya minta ke anak-anak lainnya kalau ada apa-apa untuk cerita,” bebernya.
Disisi lain, ia belum mengenal korban secara detail lantaran baru tiga bulan mengampu sebagai wali kelas. Dalam komunikasi kegiatan belajar mengajar di kelas, korban lebih sering bersikap pasif.
Untuk kemampuan belajar, korban termasuk murid dengan kemampuan standar atau tidak termasuk murid yang menonjol.
“Anaknya cenderung pendiam, tidak aktif, baru mau menjawab ketika ditanya,” paparnya.
Hal demikian diungkapkan pula oleh teman-teman korban.
“Saya tanya ke teman sebangkunya, korban ini orangnya tertutup, pernah cerita hanya soal sepeda listrik,” tuturnya.
Lebih lanjut, polisi sementara telah memeriksa keluarga korban meliputi ayah korban berinisial S, ibunya NF dan kakanya DSW. Ayah korban bekerja sebagai tukang pikul ikan saat malam hari di Pasar Kobong. Ibunya bekerja di toko beras dan kakaknya bekerja di pabrik plastik.
“Kemarin kan sudah ada tiga saksi yang kita periksa, hari ini rencananya saksi yang mengantarkan orangtua korban ke rumah sakit, tapi saksi itu hari ini libur,” ucap Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Semarang, Iptu Tri Harijanto, Kamis (2/11/2023). (HS-06)