HALO KENDAL – Berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Kendal, dalam menekan angka stunting atau gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi. Selain gencar melakukan sosialisasi, juga menguatkan kolaborasi lintas sektor.
Kepala Bidang KSPK (Keluarga Sejahtera Pemberdayaan Keluarga) Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP2PA) Kendal, Sudarni mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan, KUA, Pengadilan Agama, hingga penyaluran CSR (Corporate Social Responsibility) Perusahaan untuk intervensi anak stunting dengan pemberian makanan tambahan.
Ia mengungkapkan, prevalensi Balita Stunting Kabupaten Kandal berdasarkan SSGI (Survey Status Gizi Indonesia) tahun 2022 adalah 17,5 persen. Kabupaten Kendal berada di urutan ke 8 dari 35 Kab/Kota se-Jawa Tengah.
“Indonesia di 2024 harus mencapai 14 persen, jadi kita masih punya PR (Pekerjaan Rumah) 3,5 persen. Sedangkan di Jawa Tengah prevelensi stunting 20,8 persen,” ungkap Sudarni, saat memberikan sosialisasi terkait stunting di Kantor Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Senin (23/10/2023).
Dijelaskan, dari 20 kecamatan se-Kabupaten Kendal, wilayah Kecamatan Kangkung menjadi yang paling banyak menyumbang angka stunting dengan angka prevelensi 20,44 persen atau 477 kasus. Sedangkan yang terendah ada di Kecamatan Kaliwungu dengan 5,43 persen atau 160 kasus.
“Beberapa inovasi percepatan penurunan stunting dilakukan seperti Sebunting (Sedekah Bulanan Penanganan Stunting). Diberikan untuk sasaran Audit Kasus Stunting (AKS) sudah terlaksana di DP2KBP2PA, dan beberapa kecamatan,” jelas Sudarni.
Selanjutnya ada Gerakan Sedulur (Sehari Dua Telur), yang gerakannya secara massif dimulai dari TPPS kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan dalam mengintervensi bersama untuk baduta stunting.
“Selain itu ada inovasi program Joko Ting-Ting atau Jogo Tonggo Kasus Stunting, sebagai pendampingan pengasuhan tetangga secara bergantian terhadap anak dengan kasus stunting yang tidak bisa diasuh oleh orang tua atau keluarga,” lanjut Sundari.
Kemudiam ada Program juga Bapak/Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS) dan CSR stunting mendampingi pengawasan pemberian PMT dengan memastikan PMT terasup oleh sasaran dan kolaborasi bersama seluruh Perguruan Tinggi Kesehatan di Kabupaten Kendal, organisasi profesi, kemasyarakatan dan organisasi.
Sementara, Dyah Siti Sundari selaku Widyaiswara BKKBN Provinsi Jawa Tengah mengajak masyarakat Kendal untuk menjaga pola hidup sehat dan menghindari hal-hal yang dapat memicu terjadinya stunting.
“Kasus stunting tidak bisa direcovery, namun bisa dicegah dengan asupan gizi yang mencukupi, mulai dari kehamilan. Bahkan, saat remaja, perempuan sudah dibiasakan untuk mengonsumsi makanan bergizi,” ujar Dyah. (HS-06)