HALO WONOSOBO – Sebanyak 3.000 santri PPTQ Al-Asy’ariyyah, melakukan napak tilas untuk berziarah ke makam KH Muntaha Al Hafidz, di Deroduwur, Wonosobo, Minggu (24/07/2022).
KH Muntaha Al Hafidz atau dikenal sebagai Mbah Mun, adalah seorang ulama asal Wonosobo, yang mendapat sebutan pencinta Al-Qur’an sepanjang hayat. Sebutan tersebut disematkan, karena sebagian besar waktu dalam hidupnya, digunakan untuk mendalami dan menyebarkan ajaran kitab suci umat Islam tersebut.
Lurah PPTQ Al-Asy’ariyyah Kalibeber, Fariz Ahmad, mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka HUT Ke-197 Wonosobo, menyambut Haflah Khotmil Qur’an Al-Asy’ariyyah Kalibeber Ke- 45, serta Haul Haji Ke-18 Mbah Mun.
Dalam kegiatan itu, para santri berjalan kaki sejauh delapan kilometer, dari pesantren menuju makam KH Muntaha Al Hafidz. Acara serupa rutin dilaksanakan setahun dua kali, yaitu setiap menjelang Ramadan dan menjelang Tahun Baru Hijriah.
Lebih lanjut Fariz Ahmad mengatakan tujuan napak tilas, juga agar para santri, dapat mengambil ibrah atau pelajaran berharga, dari nilai-nilai perjuangan Mbah Mun, terutama dalam pendidikan dan kemasyarakatan.
“Kami dan para santri melakukan napak tilas ke makam Mbah Mun, agar santri dapat meneladani dan mengambil ibrah nilai perjuangan Mbah Mun, yang pada zamannya sangat luar biasa,” kata dia, seperti dirilis wonosobokab.go.id.
Menurut dia, sebagai generasi muda yang beriman dan bertaqwa, santri memang dituntut meneladani nilai perjuangan leluhur.
Makam Mbah Mun dipilih, karena dia merupakan tokoh sentral di Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah Kalibeber, juga tokoh berpengaruh di Wonosobo dan Indonesia.
Ia juga menjelaskan, hubungan antara PPTQ Al-Asy’ariyyah dengan tokoh maestro Al-Qur’an tersebut tak dapat dipisahkan.
Sejak berdirinya, tempat pendidikan non formal tersebut berkembang sangat. Hal itu dapat dilihat dari perkembangan dunia pendidikan Ponpes yang dari waktu ke waktu semakin baik dan dikenal banyak masyarakat.
“Kiprah beliau terhadap perkembangan dunia pendidikan di Al-Asy’ariyyah memang tak dapat dipisahkan, karena pada masa pengasuhannya Ponpes berkembang pesat yang dapat dilihat dari jumlah santri yang semakin banyak berguru di sini,” tambahnya.
Antusias para santri sangat terasa begitu kental. Di samping itu, masyarakat sekitar juga antusias dengan menyediakan aneka makanan dan jajanan secara cuma-cuma. Jumlah kloter pemberangkatan sebanyak 30 kloter yang terdiri dari 12 putera dan 18 puteri. Mereka berdoa di makam secara bergantian.
Napak Tilas di Makam Mbah Mun diharapkan para santri terus dapat meneladani nilai perjuangannya seperti turut merasakan perjuangan menuntut ilmu dengan berjalan kaki dan belum adanya kendaraan yang dulu dilakukan oleh Mbah Mun. (HS-08)