Setelah berhasil didekati, selanjutnya seperti biasa, Adi membujuk ODGJ supaya mau dipangkas rambutnya dan dimandikan.
Setelah rambut dipangkas dan dimandikan, kemudian Adi mengganti baju ODGJ dengan baju baru, sehingga terlihat bersih.
Adi menjelaskan, dirinya bersama tim telah melakukan kegiatan ini sejak tahun 2007 silam, dengan turun ke jalan mencari ODGJ untuk dibersihkan. Dan selanjutnya dibawa ke rumah sakit jiwa atau dikembalikan kepada keluarganya.
“Aksi seperti ini sudah saya lakukan sejak 2007. Cuma kalau untuk konten itu baru kita lakukan sejak Pandemi Covid-19 kemarin. Ya mulai sekitar tahun 2020-an lah,” jelasnya.
“Kita tujuannya adalah untuk membantu mereka agar bisa pulang bertemu keluarganya. Seperti bapaknya tadi telah menyebutkan namanya siapa, asalnya dari mana. Besar harapan kami bisa mengantarnya pulang,” imbuh Adi.
Adi mengaku, banyak kesulitan yang dihadapi saat menangani ODGJ karena dirinya harus berhadapan dengan berbagai karakter.
Namun dengan mengikuti irama dari ODGJ sendiri dan tanpa pola baku, akhirnya ODGJ bisa diajak berinteraksi dan menuruti apa yang disampaikannya.
“Kalau lari ya sudah kita tunggu kesempatan lagi. Kalau yang galak ya biasanya kita peluk, kita ajak salaman dan sebagainya. Dan rata-rata setelahnya mereka juga mau,” imbuhnya.
Pada kesempatan tersebut, Adi yang juga pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden Joko Widodo, atas dedikasi mereka sebagai penggiat sosial penanganan ODGJ mengaku, sudah ada sekitar 600 ODGJ yang ditanganinya.
“Kalau di Kabupaten Kendal ini sudah sekitar delapan orang ODGJ yang kita tangani. Tapi yang kita bisa antar ke keluarganya baru satu orang,” bebernya.
Adi berharap, para ODGJ yang ada di jalanan bisa masuk rumah sakit jiwa tanpa ditanya identitas maupun kartu penjamin, misalnya BPJS. Sehingga bisa mendapatkan penanganan dan perawatan yang memadai.
“Yang menjadi harapan kami, ODGJ bisa masuk rumah sakit tanpa ditanyai KTP nya mana, BPJS nya mana dan lain-lain. Mudah-mudahan, nanti ada solusinya,” ungkap Adi Sinau Hurip. (HS-06).