in

Warga Desa Traji Temanggung Gelar Tradisi Manten Lurah

 

HALO TEMANGGUNG – Malam 1 Suro menjadi waktu yang sakral bagi sebagian masyarakat Jawa, tak terkecuali bagi masyarakat Desa Traji, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung.

Di desa di lereng Gunung Sindoro ini, warga menggelar tradisi unik, yang telah ada sejak zaman nenek moyang.

Pemangku adat, budaya, dan tradisi Desa Traji, Yosef Heristyo Endro Baruno, menyampaikan ritual malam Suro di Desa Traji itu bernama “Manten Lurah Traji”.

Selepas malam, ratusan warga telah siap mengikuti jalannya ritual, dengan sebagian mengenakan pakaian beskap adat Jawa. Mereka berjalan berarak-arak dari desa menuju ke sebuah sendang yang disakralkan, untuk jalannya ritual Manten Lurah.

“Keunikannya memang setiap suro Pejabat Kepala Desa Traji, bersama istrinya didandani layaknya pengantin dalam ritualnya. Pengantin ini lalu diarak oleh warga menuju mata air utama, yang bernama Sendhang Sidukun, serta mata air lain sebagai sumber kehidupan,” kata dia, seperti dirilis Temanggungkab.go.id.

Di sana, mereka mengikuti acara doa bersama, kemudian berebut gunungan hasil bumi. Ritual ini tak lain adalah simbol kedekatan manusia dengan alam sekitar, termasuk mata air yang menjadi pusat kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Berdasar cerita turun menurun yang beredar dan mengakar kuat di masyarakat wilayah Desa Traji, tradisi Suran Manten Lurah, memiliki sejarah cukup melegenda.

Dahulu kala terdapat leluhur mereka yang bernama Kiai Sepanjang. Ia mencari istrinya yang hilang dan terpisah selama beberapa waktu, hingga akhirnya beberapa tahun kemudian istrinya tersebut kembali dapat ditemukan.

“Kiai Sepanjang dahulu pernah berjanji akan menggelar arak-arakan, apabila istrinya kembali ditemukan. Ritual ini pun kemudian telah berjalan ratusan tahun sampai sekarang,” katanya.

Yosef menambahkan, tak hanya dari Temanggung saja, namun banyak pula wisatawan dari luar daerah, bahkan mancanegara yang sengaja datang hanya untuk menyaksikan prosesi ritual tersebut. Lantaran, mereka percaya bahwa air dari Sendang Sidukun membawa berkah tersendiri apabila berhasil di bawa ke rumah, kendati harus berebut beramai-ramai.

“Banyak yang percaya tuah serta berkah air dari Sendang Sidukun ini. Pasalnya, dahulu lokasi ini juga pernah menjadi persinggahan salah seorang wali songo, yakni Sunan Kalijaga, sehingga diyakini memiliki karomah yang cukup tinggi serta memancarkan energi positif. Bahkan Desa Traji adalah salah satu pemukiman kuno yang telah ada sejak tahun 200 Masehi dan itu tercatat di salah satu prasasti peninggalan zaman lampau,” terangnya.

Puteri Andhini (35), pengunjung asal Magelang mengaku rela datang berdesak-desakan, hanya karena ingin dapat membawa pulang air yang terdapat di sendang. Ia percaya akan keberkahan air sakral tersebut dapat mendatangkan spirit positif bagi hidupnya.

“Kami percaya, air tersebut bisa digunakan untuk media penyembuhan hingga hajat tertentu, tentu saja berkat kuasa Tuhan Yang Maha Esa,” katanya. (HS-08)

Desa Giyono Temanggung Adakan Merti Dusun Napak Tilas Raden Trenggono Kusumo

Begini Tanggapan Pelatih PSIS Usai Kalah Dramatis Dari Arema FC