in

TNI Polri di Seluruh Indonesia Gelar Nobar Wayang Orang Pandawa Boyong

Jajaran TNI, Polri, dan Pemkab Sleman, di Mapolresta Sleman DIY, nonton bareng pergelaran wayang orang dengan lakon Pandawa Boyong. (Foto : korem072-tniad.mil.id)

 

HALO SEMARANG – Pergelaran wayang orang dengan lakon Pandawa Boyong yang diperankan oleh Panglima TNI Laksamana TNI H Yudo Margono, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, dan seluruh Kepala Staf TNI, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu (15/1/23) malam, dijadikan acara nonton bareng (nobar) di daerah.

Salah satunya seperti yang digelar di Mapolresta Sleman, Daerah Istemewa Yogyakarta.

Kegiatan itu dihadiri pula oleh Dandim 0732/Sleman Letkol Arm Danny Arianto Pardamean Girsang, Kapolresta Sleman AKBP Achmad Imam Rifai, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo dan Forkopimda Kabupaten Sleman.

Di sela-sela nobar, Dandim 0732/Sleman, Letkol Arm Danny Arianto Pardamean Girsang, menyampaikan bahwa nonton bareng (nobar) ini sebagai momentum silaturahmi Pemkab Sleman, TNI, dan Polri.

Melalui acara semacam ini, Dandim menyampaikan harapan, sinergitas Forkopimda Kabupaten Sleman akan terpelihara dengan baik serta penuh semangat dalam membangun daerah, bangsa dan masyarakat.

Menurut dia, nobar wayang orang ini juga sebagai upaya merawat nilai-nilai budaya Nusantara.

Terlebih wayang orang yang dimainkan para petinggi TNI Polri, tentu membawa banyak pesan moral dan pesan perjuangan, dalam rangka merawat dan membangun negara.

“Tayangan nobar ini berlangsung serentak di seluruh Indonesia, diharapkan pesan-pesan moral dan perjuangan yang diperagakan dalam wayang tersebut dapat menjadi refrensi kepada kita semua yang hadir dan nonton malam hari ini,” kata dia, seperti dirilis korem072-tniad.mil.id.

Melalui kegiatan nobar ini, diharapkan sinergitas serta silaturahmi TNI, Polri. dan Pemerintah Kabupaten Sleman semakin erat demi negara dan masyarakat.

Sementara itu, seperti dirilis tni-au.mil.id, acara nobar juga digelar Komando Operasi Udara I (Koopsud I), beserta jajaran di Gedung Roesmin Noerjadin Makoopsud I.

Pergelaran Wayang Orang dengan judul Pandawa Boyong bercerita tentang perjuangan Pandawa yang merupakan lambang kehidupan. Cerita ini juga masyarakat untuk lebih memahami, menghayati, dan mengamalkan semangat serta nilai-nilai Pancasila, yang diwakili oleh masing-masing sosok Pandawa Lima.

Kegiatan nobar juga digelar di ruang Auditorium lantai 7 gedung Presisi Polda Sumsel.

Seperti dirilis humas.polri.go.id, Laksamana Yudo Margono, di kalangan seniman memang dikenal juga sebagai sosok Laksamana Budayawan. Ini karena dirinya selama ini memberikan perhatian lebih dalam melestarikan seni budaya warisan leluhur nenek moyang.

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi, mewakili Kapolda Sumsel Irjen Pol A Rachmad Wibowo, seusai menyebutkan kegiatan nobar ini diikuti seluruh personel TNI / Polri sampai satwil jajaran, sebagai wujud sinergitas TNI Polri dalam usaha menjaga kelestarian budaya, termasuk wayang orang, menjadi semakin penting untuk dilaksanakan di tengah serbuan pengaruh budaya asing sebagai dampak dari globalisasi hasil kemajuan teknologi informasi dan digital.

Dirinya bertekad untuk ambil bagian dalam usaha melestarikan berbagai kekayaan budaya bangsa melalui tindakan-tindakan yang nyata, ujarnya.

“Bangsa Indonesia seharusnya lebih memilih wayang sebagai tontonan sekaligus tuntunan dalam kehidupan. Tetapi, pada kenyataannya saat ini rakyat (masyarakat red) kita, khususnya generasi muda, lebih mengidolakan tokoh-tokoh superhero produk negara lain dibandingkan tokoh-tokoh pewayangan. Ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk mengembalikan kecintaan masyarakat terhadap budaya sendiri,” kata Supriadi.

Menurut dia, lakon Pandawa Boyong ini mengisahkan babak ketika lima ksatria bersaudara boyongan atau pindah dari Alengka yang dikuasai Kurawa ke Astinapura.

Kepindahan itu untuk memerdekakan diri dari kekuasaan Kurawa. Mereka harus berperang melawan Kurawa yang jumlahnya jauh lebih besar, dengan punya persenjataan lebih banyak.

Namun berkat kesungguhan yang didasarkan niat baik, Pandawa dapat memenangkan perang, tambahnya.

Boyongan Pandawa ke Astina menjadi pesan moral kepada masyarakat agar lebih memahami, menghayati dan mengamalkan Pancasila.

Bahkan sosok dalam Pandawa Lima pun relevan dengan semangat dan nilai-nilai Pancasila. Puntadewa adalah simbol ketuhanan yang menjadi sila pertama dalam Pancasila.

Bimasena yang adil dan penuh rasa kemanusiaan, mewakili sila ke dua Pancasila. Arjuna mencerminkan semangat persatuan dan kesatuan yang dinyatakan dalam sila ke tiga Pancasila.

“Nakula menyimbolkan sila ke empat, yaitu permusyawaratan masyarakat. Sedangkan kembarannya, Sadewa simbol dari sila ke lima, keadilan sosial yang benar-benar adil,” kata Alumni Akpol 91 ini. (HS-08)

Kali Pertama Main Wayang Bareng Kapolri, Panglima TNI : Ini Luar Biasa

Ditemukan 115 Kasus Penyakit LSD, Ini Langkah Dispertan Kendal