HALO JEPARA – Pemerintah segera menangani bencana longsor di Desa Tempur, kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Bencana ini tak hanya menyebabkan 8 rumah terkena longsor, tetapi juga memutus akses hingga wilayah tersebut sempat terisolasi.
Hal itu diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, saat meninjau longsor di Desa Tempur, Jumat (16/1/2026).
Dalam kunjungan itu Suharyanto juga melihat langsung rumah warga bernama Sujak (53) di RT 01 RW 01 untuk menyerahkan bantuan. Rumah itu rusak parah akibat terkena longsor.
“Dari informasi yang kami terima, ada 8 rumah yang terkena longsor. Kami di sini hadir atas perintah Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo melihat kondisi Desa Tempur yang longsor. Kami harap Pemkab Jepara segera merelokasi dan mencarikan tempat, dan kami siap membantu,” kata Suharyanto, seperti dirilis jepara.go.id.
Dia juga menginformasikan bahwa ada 3.600 warga Desa Tempur, yang terisoliasi akibat longsor.
Dengan kondisi tersebut, penanganan dan pemulihan ekonomi warga harus segera dibenahi, terutama mobilitas warga dan infrastruktur akses jalan.
“Penanganan longsor di Desa Tempur ini kan jangka pendek. Untuk jangka panjangnya, nanti dibuatkan beberapa rute untuk memudahkan warga beraktivitas,” ujarnya.
Sementara itu dalam rapat penanganan bencana dengan Forkopimda pada 12 Januari 2026 lalu, diketahui terdapat 8 Kecamatan terdampak bencana hidrometeorologi, meliputi Keling, Donorojo, Kalinyamatan, Nalumsari, Mayong, Bangsri, Tahunan, dan Kembang. Dampak terbesar terjadi di Desa Tempur, Kecamatan Keling.
Dalam acara kunjungan Kepala BNPB tersebut, hadir pula Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid; Wakil Bupati Jepara, Muhammad Ibnu Hajar (Gus Hajar); Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana; BNPB Provinsi Jawa Tengah; beserta Forkopimda.
Untuk sampai ke Desa Tempur, rombongan terpaksa naik trail karena jalan yang tidak layak untuk dilalui.
Buruknya kondisi jalan tersebut juga diakui Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid. Menurut dia, jalan menuju Desa Tempur bukan hanya tidak layak, tetapi juga membahayakan warga.
Menurut dia ada dua jalur alternatif yang bisa dilalui, lewat Desa Sumanding dan Kecamatan Kembang.
Jalur Alternatif tersebut pernah diajukan pada 2019-2021, tetapi sampai saat ini belum terealisasi.
Jika jalur itu milik Perhutani, Abdul Wachid akan berkoordinasi dengan Perhutani Provinsi Jawa Tengah dan Pusat, agar bisa digunakan meski harus sewa lahan.
“Untuk bencana di Jepara, Kepala BNPB siap membantu, baik itu jembatan yang terputus di Desa Tempur, logistik, dan yang lainnya. Sedangkan jalur alternatif, segera dibuat datanya dan diajukan, saya siap mengawal,” terangnya.
Kejadian longsor di Desa Tempur sejak Jumat, 9 Januari 2026, mengakibatkan warga 1.346 keluarga atau 3642 orang terdampak.
Berdasarkan kaji cepat (rapid assesment), akses utama dari dan menuju Desa Tempur terputus sepanjang 60 meter.
Sampai saat ini, ada 23 longsoran yang terjadi di Desa Tempur Kecamatan Keling. (HS-08)


