HALO SEMARANG – Tim search and rescue (SAR) K9 Polri dan Basarnas, menemukan 5 korban yang tertimbun puing bangunan, akibat gempa di Turki beberapa waktu lalu.
Penemuan tersebut didapat pada operasi pencarian 14 Februari 2023 waktu setempat di Hatay, Turki.
“Berdasarkan laporan, Tim SAR K9 yang tergabung dengan Basarnas, menemukan 5 korban yang tertimbun reruntuhan bangunan dalam keadaan meninggal dunia,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol Ahmad Ramadhan, Rabu (15/2/23).
Jenazah pun langsung dibawa ke rumah sakit, untuk dilakukan identifikasi. Sementara, pencarian korban akan dilanjutkan hari ini.
Menurut Karo Penmas, dalam proses evakuasi, tim gabungan harus menghadapi tantangan suhu udara yang sangat dingin, yakni 2°C.
“Namun proses pencarian dalam situasi aman terkendali, kondisi personel dan K9 dalam keadaan sehat,” jelasnya.
Sementara itu, emergency medical team (EMT) dari Indonesia juga sudah memulai mendirikan Hospital Field di Hassa, Hatay, Turki.
Sebanyak dua tenda yang rencananya akan didirikan tim bantuan kemanusiaan korban gempa Turki tersebut.
“Target kerja tim EMT hari ini berdasarkan laporan, minimal tenda komando dan tenda pelayanan berdiri, bisa melakukan pelayanan rawat jalan,” kata Brigjen Pol Ahmad Ramadhan, Selasa (14/2/23).
Ia menegaskan, tenda yang didirikan berukuran 12×6 meter. Pendirian tenda ditargetkan selesai dalam kurun waktu 3 hari.
Selain itu, menurut Karo Penmas, beberapa kebutuhan yang akan dibagikan kepada korban gempa di sekitar Hospital Field sudah mulai didatangkan.
“Beberapa barang logistik telah di loading di area sekitar Hospital Field, Hassa,” ungkapnya.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, Selasa (14/2/2023) menerangkan kloter pertama 62 tenaga medis dari Indonesia telah diberangkatkan pada 11 Februari 2023 dan kloter kedua juga sudah diberangkatkan pada 13 Februari 2023 sebanyak 181 personel.
“Mereka akan ditempatkan kira-kira satu bulan, kemudian akan kirim tadi itu tenaga pengganti yaitu dokter-dokter dan perawat dan ahli kesehatan yang berkaitan dengan penyakit-penyakit menular yang biasanya akan terjadi setelah sekitar satu bulan kejadian bencana,” ujar Menko PMK, usai bertemu dengan Presiden bersama Kepala BNPB Suharyanto.
Lebih lanjut, Muhadjir mengatakan, bantuan dokter-dokter dan tenaga perawat di bidang ortopedi akan ditempatkan di Turki dan Suriah selama satu bulan. Setelah itu, dokter dan perawat khusus penyakit menular akan diberangkatkan ke sana.
“Terutama untuk pertolongan pertama yaitu SAR dan tenaga medis untuk pertolongan pertama dibutuhkan dokter-dokter ortopedi, bedah ortopedi, dan pada berikutnya nanti Insya Allah setelah tim pertama ini ditarik, akan kita kirim tahap kedua kemungkinan yaitu dokter-dokter yang khusus dan perawat, ahli kesehatan yang menangani penyakit-penyakit menular,” jelas Muhadjir.
Muhadjir mengatakan bantuan tenaga kesehatan khususnya di bidang ortopedi akan ditempatkan di Turki dan Suriah selama satu bulan. Setelah itu, dokter dan perawat khusus penyakit menular akan diberangkatkan ke sana.
“Kemudian akan kirim tadi itu, tenaga pengganti yaitu dokter-dokter dan perawat dan ahli kesehatan yang berkaitan dengan penyakit-penyakit menular, yang biasanya akan terjadi setelah sekitar 1 bulan kejadian bencana,” tuturnya.
Untuk bantuan logistik, Menko Muhadjir meneramgkan, Pemerintah Indonesia berencana akan mengirim bantuan pada 20 Februari 2023. Sebanyak 4 pesawat kargo akan mengangkut bahan pangan, peralatan yang dibutuhkan, termasuk selimut dan pakaian
“Pokoknya yang sesuai dengan permintaan dari Pemerintah Turki dan Pemerintah Suriah,” imbuh Muhadjir.
Berdasarkan data terakhir, korban jiwa di Turki mencapai 31.643 orang dan di Suriah 4.574 orang.
Diketahui, WNI yang meninggal dunia akibat gempa Turki ada 2 orang, sedangkan 123 orang WNI telah dievakuasi dan saat ini berada di shelter KBRI Ankara.
“Secara teknis saya belum mendapatkan informasi apakah (WNI yang meninggal dunia) harus dibawa ke Indonesia atau cukup dimakamkan di sana, saya belum mendapatkan informasi tapi ini menjadi domain dari Kementerian Luar Negeri,” terang Menko PMK.
Muhadjir juga menyebut pemerintah belum memutuskan apakah akan memberikan santunan bagi WNI yang menjadi korban jiwa dari musibah tersebut. Dia akan terlebih dahulu berkomunikasi dengan Mensos Tri Rismaharini.
“Apakah itu perlu ada santunan dari Pemerintah Indonesia atau tidak, nanti akan saya bicarakan dengan kementerian teknis, ini di bawah tanggung jawab dari Kementerian Sosial. Nanti saya akan konsultasi, akan saya sampaikan pada Bu Risma,” tambahnya. (HS-08)