HALO PURBALINGGA – Purbalingga memiliki potensi ekraf yang kuat. Selain ratusan pelaku ekonomi kreatif, di daerah ini juga terdapat beragam komunitas, seperti CLC (film), Afdega (fashion), kerajinan batik, knalpot, hingga komunitas fotografer dan videografer.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Purbalingga, Sadono ketika memberikan sambutan dalam acara Sosialisasi Penilaian Mandiri Kabupaten / Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) di TWP Purbasari Pancuran Mas, Kamis (4/12/2025).
Sosialisasi diikuti para pelaku ekonomi kreatif dari berbagai subsektor, sebagai langkah awal untuk memetakan potensi unggulan dan memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Purbalingga.
Dalam sambutannya, Sadono menyampaikan bahwa berdasarkan pendataan, terdapat 385 pelaku ekonomi kreatif di Purbalingga yang tersebar dalam 11 subsektor.
Mereka di antaranya fashion sebanyak 108 pelaku, kriya 60 pelaku, pertunjukan 97 pelaku, fotografi 27 pelaku, film/animasi/video 25 pelaku, dan lainnya. Namun demikian, Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Purbalingga belum terbentuk.
“Tahun 2024 kami telah menginisiasi Perda Nomor 14 Tahun 2024 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Perbup Nomor 52 Tahun 2025 tentang KEK. Targetnya KEK Purbalingga terbentuk pada 2026 dan kita mulai berproses menuju Kabupaten Kreatif,” kata dia, seperti dirilis ekraf.go.id.
Sementara itu Direktur Fasilitasi Infrastruktur Kementerian Ekonomi Kreatif, Fahmi Akmal yang hadir secara daring, menyampaikan bahwa PMK3I bertujuan mengidentifikasi kondisi ekosistem ekonomi kreatif di suatu daerah secara komprehensif.
“Kegiatan ini merupakan gerbang awal dalam merumuskan kebijakan ekonomi kreatif yang tepat sasaran dengan pendekatan bottom-up, sehingga pemerintah daerah dapat melihat potensi unggulan yang perlu diprioritaskan,” kata dia.
Fahmi menambahkan bahwa hingga saat ini 85 kabupaten/kota di Indonesia telah mengikuti uji petik, dan 41 di antaranya sudah ditetapkan sebagai Kabupaten/Kota Kreatif. Ia berharap Purbalingga dapat segera menyusul dalam waktu dekat.
“Penetapan bukanlah akhir, tetapi justru awal dari upaya pengembangan yang lebih sungguh-sungguh. Dengan label tersebut, terdapat tanggung jawab besar untuk terus meningkatkan ekosistem kreatif di daerah,” tegasnya.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Kirno dan Yuliana dari Tim Pengembangan Kabupaten / Kota Kreatif Kementerian Ekraf dan Muhammad Yamin, akademisi FISIP Unsoed.
Dia memaparkan konsep Pemerintah, Akademisi, Pengusaha, Komunitas, Media, Lembaga Keuangan (Hexahelix) sebagai fondasi penguatan ekosistem ekonomi kreatif.
Para peserta memperoleh pemahaman mengenai proses menuju Kabupaten Kreatif, cara pengisian borang penilaian mandiri, tahap uji petik, serta strategi pengembangan subsektor unggulan.
Ketua Afdega Purbalingga, Tio Wicaksono, mewakili subsektor fashion, menyampaikan harapannya terhadap kegiatan ini.
“Saya berharap para pelaku kreatif selalu diperhatikan dan difasilitasi agar bisa berkembang. Dengan adanya PMK3I, kami berharap Purbalingga memiliki arah pengembangan yang jelas dan terukur, sehingga subsektor unggulan bisa menjadi kekuatan ekonomi daerah,” ujarnya.
Melalui sosialisasi PMK3I, Pemkab Purbalingga menunjukkan komitmennya untuk memperkuat fondasi ekonomi kreatif, membangun ekosistem yang kolaboratif, dan menyiapkan langkah-langkah strategis agar Purbalingga dapat segera menjadi bagian dari jaringan Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia. (HS-08)


