Selain itu, untuk melestarikan tradisi syawalan supaya menurun ke anak cucu dan digemari generasi muda, pihaknya juga menggelar berbagai kegiatan yang merangkul seniman dan musisi lokal Kendal.
“Konsep kami melestarikan budaya tradisi syawalan di Kaliwungu. Untuk menarik para pengunjung supaya datang dalam tradisi syawalan, kami menampilkan seni budaya yang ada di Kaliwungu, dan menampilkan asal-usul tradisi syawalan di layar lebar. Supaya anak cucu kita nanti bisa meneruskan tradisi ini,” ungkap Latif.
Dijelaskan, untuk bisa berjualan di tenda-tenda, maka pedagang dikenakan biaya sewa sebesar Rp 1.750.000 selama syawalan.
“Biaya segitu masih terbilang wajar, karena dengan kebutuhan desain modern, yang tentunya membutuhkan biaya yang sangat banyak. Diantaranya pembuatan panggung, sewa tenda, biaya kebersihan dan masih banyak kebutuhan lainnya. Konsep kami supaya tradisi syawalan tampak rapi dan bersih. Sehingga pengunjung maupun pedang bisa nyaman,” jelas Latif.
Sejumlah pedagang pun nampak antusias untuk ikut serta dalam meramaikan tradisi syawalan. Terlihat meraka langsung setuju dan mengaku nyaman dengan konsep yang dibuat pada syawalan tahun ini.
Seperti diungkapkan Dodik, salah seorang pedagang yang ikut meramaikan tradisi syawalan. Dirinya mengaku sudah sejak tahun 1987 selalu berdagang di acara Syawalan Kaliwungu. Ia pun setuju dengan konsep modern sekarang dan tidak keberatan membayar sewa tersebut.
“Setiap tradisi syawalan di Kaliwungu, saya bersama istri selalu ikut partisipasi menjadi pedagang. Karena selain mendapatkan untung, saya juga sekalian ngalap berkah dari tradisi syawalan. Ya harga sewa lapak Rp 1.750.000 wajar. Kalau keberatan mana mungkin saya jualan,” ungkapnya. (HS-06).