in

Sosialisasi Keamanan Informasi, Plt Sekda Demak Tekankah Data Pribadi Aset Berharga

Sosialisasi Keamanan Informasi, di Ballroom Wakil Bupati Demak Lantai 1, pada Rabu (16/7/2025). (Foto : demakkab.go.id)

 

 

HALO DEMAK –Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, berbanding lurus dengan insiden siber, yang bahkan dapat membahayakan penggunanya.

Hal itu disampaikan Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Demak, Umar Surya Suksmana, dalam Sosialisasi Keamanan Informasi, di Ballroom Wakil Bupati Demak Lantai 1, pada Rabu (16/7/2025).

Kegiatan itu bertemakan “Implementasi Perlindungan Data Pribadi”, diikuti perwakilan dari 27 OPD, 14 Kecamatan, 2 RSUD, dan 56 Desa se Kabupaten Demak.

Menurut dia, perkembangan teknologi menawarkan banyak kemudahan. Tetapi di balik kemudahan dan manfaat itu, terdapat pula sejumlah masalah yang dapat membahayakan pengguna, salah satunya adalah pencurian data pribadi.

Upaya menggugah kesadaran akan berbagai ancaman terhadap data pribadi inilah yang dibahas dalam Sosialisasi Keamanan Informasi ini.

“Tujuan pelaksanaan kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga data pribadi. Kemudian memberikan pemahaman bagaimana cara melindungi data pribadi dari penyalahgunaan. Serta memberikan strategi dan trik dalam melindungi dan dan mengamankan data pribadi,” kata Umar Surya, seperti dirilis demakkab.go.id.

Narasumber dalam Sosialisasi ini Dony Harso, Sandiman Ahli Madya, Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Pemerintah Pusat Badan Siber dan Sandi Negara.

Tony Haryanto, Sandiman Ahli Muda, Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Pemerintah Daerah Badan Siber dan Sandi Negara.

Sedangkan Sekda Demak Akhmad Sugiharto saat membuka acara tersebut menyampaikan, data pribadi menjadi aset berharga yang perlu dilindungi.

Di balik manfaatnya, ada sejumlah masalah yang membahayakan penggunanya, mulai Insiden kebocoran data, pencurian data pribadi, penjualan data pribadi, hingga penipuan yang semakin sering terjadi.

“Penyalahgunaan data pribadi sendiri dapat disebabkan karena lemahnya sistem dan kurangnya pengawasan atau penyelenggara sistem elektronik serta faktor pemilik data pribadi yang tidak menjaga dengan benar dan sering mengupload data sembarangan. Akibatnya, data pribadi disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan mengakibatkan kerugian bagi pemilik data tersebut,”  tambahnya.

Data pribadi, seperti nama lengkap, alamat, nomor telepon, tanggal lahir, data keuangan, dan informasi lainnya, jika jatuh ke tangan yang salah, dapat menimbulkan kerugian yang signifikan bagi individu.

“Sebagai contoh penyalahgunaan data pribadi yang patut diwaspadai antara lain, Pinjaman Online (Pinjol), Skimming (Pencurian informasi kartu kredit atau debit), SMS Spam, dan masih banyak contoh lainnya yang berujung pada kerugian akibat data pribadi yang bocor”, jelasnya.

Ancaman Siber

Narasumber Dony Harso, Sandiman Ahli Madya, Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Pemerintah Pusat Badan Siber dan Sandi Negara, dalam paparannya menjelaskan ada tujuh ancaman siber di Indonesia yang prioritas, yakni elections security, cyber terorism dan cybercrime, data privacy breach, disinformasi social media, pelecehan dan eksploitasi anak secara online, kekerasan berbasis gender online, dan ancaman siber lainnya.

“Kondisi masyarakat di Indonesia ini 55,8 persen masyarakat tidak dapat membedakan email ya g berisi spam/virus/malware sehingga sangat rentan phising. Selanjutnya 45,8 persen masyarakat terindikasi tidak menggunakan antivirus. Kemudian 43,4 persen masyarakat terindikasi tidak melakukan backup data sehingga sangat rentan terhadap serangan ransomware”, kata Dony Harso.

Sementara Tony Haryanto menyampaikan selama Januari hingga Mei 2025, terjadi 328 insiden keamanan data. 318 berupa kebocoran data dan 10 ransomware serta lebih dari 19 juta data kredensial akun organisasi terpapar di darknet, tersebar di forum jual beli data, diskusi hacker, dan platform pesan instan, sehingga berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tidak berwenang.

“Kebocoran data banyak terjadi di sisi pengguna (endpoint), akibat malware information stealer, dump database dan kelalaian pengguna akibat serangan phishing dan social engineering yang semakin sering terjadi,” kata Tony. (HS-08).

Konferensi Internasional IRSA 2025 di Semarang Diikuti Belasan Peneliti

Dikukuhkan Jadi Ayah Genre, Bupati Kudus : Jangan Takut Bermimpi Besar