in

Sidang Terbuka Dies Natalis IPB, Presiden : Jangan Takut pada AI

Presiden Jokowi berpidato pada Sidang Terbuka Dies Natalis ke-60 Institut Pertanian Bogor (IPB). (Sumber : youtube Sekretariat Presiden)

 

HALO SEMARANG – Presiden Jokowi mengajak semua pihak untuk tidak takut atau mengkhawatirkan keberadaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan perkembangan teknologi.

Sebaliknya, dengan adanya kemajuan di bidang teknologi itu, Indonesia harus bisa mengambil peluang dan memanfaatkannya, demi memajukan negara.

Suntikan semangat itu disampaikan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), saat berpidato pada Sidang Terbuka Dies Natalis ke-60 Institut Pertanian Bogor (IPB).

Presiden mengakui Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan krisis. Namun demikian semua itu harus bisa dimanfaatkan oleh Indonesia, dengan melakukan inovasi-inovasi besar sehingga bisa menjadi peluang bagi Indonesia.

Untuk itu, Presiden Jokowi menyambut baik perluasan disiplin ilmu di IPB, karena memang diperlukan multidisiplin ilmu untuk mengembangkan ekosistem pangan Indonesia, mulai dari manajemen dan pendekatan sosial, intervensi teknologi, sel stem, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), mahadata (big data), sistem robotik, dan sebagainya.

Presiden Jokowi meminta semua pihak tidak alergi dengan teknologi.

“Jangan alergi dengan teknologi. Jangan hindari perubahan teknologi, jangan takut dengan mesin cerdas, dengan AI,” kata Presiden, seperti dirilis laman resmi sekretariat Presiden, presidenri.go.id.

Jokowi mengungkapkan, dalam pertemuan G7, G20, dan ASEAN Summit, pemimpin semua negara peserta berbicara mengenai AI.

Dan banyak dari para pemimpin negara-negara itu “takut” atau mengkhawatirkan dampak dari AI.

Terlebih regulasinya belum ada, aturan mainnya belum ada, tetapi AI terus berubah-ubah.

“Artinya memang kita harus mengantisipasi dan bersiap diri. Sekali lagi, jangan takut dengan mesin cerdas, dengan AI,” kata Jokowi.

Pada akhir pidatonya, Presiden Jokowi pun berharap agar IPB bisa menjadi tempat untuk menghasilkan sumber daya manusia unggul, yang berkarakter baik. Presiden Jokowi meyakini IPB dapat mengambil peran itu.

“Saya ingin IPB jadi sasana untuk menghasilkan insan-insan unggul yang tidak hanya kompeten di akademik, tapi juga punya karakter yang baik, memiliki akhlak yang baik, yang cinta tanah air, yang punya optimisme tinggi, yang selalu ingin membantu sesama, dan saya yakin IPB University sangat bisa mengambil peran itu,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi juga menyinggung krisis pangan dunia, akibat peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya.

Krisis tersebut diperparaj dengan perubahan iklim seperti adanya ancaman Super El Nino, hingga karena situasi geopolitik di Ukraina-Rusia yang berkepanjangan.

Presiden pun menaruh harapan besar kepada IPB untuk melakukan inovasi dalam bidang pangan.

“Ini semua kenyataan yang harus kita hadapi, harus kita sadari, kita terima, dan yang paling penting kemudian kita antisipasi, apa yang harus kita kerjakan. Nah, ini tugasnya IPB, Pak Rektor. Urusan pangan ini sudah, serahkan ke IPB. Insyaallah rampung. Saya tunggu. Apa antisipasi kita, rencana dan pelaksanaannya harus seperti apa,” ungkapnya.

Lebih jauh, Presiden Jokowi setuju dengan konsep agromaritim yang inklusif dan berkelanjutan atau sustainable and inclusive agromaritime yang dikembangkan oleh IPB University.

Menurutnya, konsep tersebut bisa menjadi bagian penting dalam inovasi ekosistem pangan Indonesia.

“Namun, saya yakin upaya tersebut tidak bisa diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Tidak bisa monodisipliner, tapi harus interdisipliner, dan bahkan transdisiplin ilmu. Enggak bisa sekarang ini, semuanya saling mengait,” imbuhnya. (HS-08)

Pidato di Dies Natalis Ke-60 IPB, Presiden Singgung Ubah Krisis Jadi Peluang

Sebut Makhachev di Level Berbeda