HALO KENDAL – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kendal mengalami peningkatan. Untuk menangani Pemkab Kendal menggelar rapat koordinasi penanganan demam berdarah di Ruang Ngesti Widhi Setda Kendal baru-baru ini.
Rapat koordinasi dihadiri Sekda Kendal Sugiono, Asisten Pemerintahan Setda Kabupaten Kendal, Kepala Kantor Kementerian Agama Kendal, para kepala perangkat daerah terkait, direktur rumah sakit di Kabupaten Kendal, para camat di Kabupaten Kendal, serta para kepala puskesmas dan sub koordinator penanganan penyakit DBD.
Saat memimpin rapat koordinasi, Sekda Kendal Sugiono menjelaskan, bahwa terjadi peningkatan kasus DBD di daerahnya pada tahun ini. Hingga Selasa malam (5/3) terdapat 130 kasus DBD. Bahkan, 14 orang meninggal dunia akibat terkena gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut.
“Ada 14 orang meninggal dunia dengan catatan semua di bawah usia 14 tahun. Maka, itu harus menjadi keprihatinan kita bersama untuk segera mengantisipasi atau meminimalisir terjadinya kasus tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut Sekda Kendal mengatakan, penanganan kasus DBD ini harus menjadi perhatian khusus semua pihak terkait. Rumah sakit tidak boleh menolak pasien DBD dan harus menyediakan tambahan tempat tidur bagi pasien.
“Untuk mengantisipasi hal tersebut, semua harus berkolaborasi dengan baik, termasuk para direktur rumah sakit tidak boleh menolak pasien DBD dan siap menambah bed atau tempat tidur bagi pasien, agar persoalan DBD ini segera bisa diatasi,” imbuhnya.
Sekda Kendal juga meminta kepada para Kepala Puskesmas harus mensosialisasikan terkait DBD kepada masyarakat, agar masyarakat tahu betul bagaimana kasus DBD saat ini di Kendal, bagaimana pertolongan pertama jika terkena DBD, bagaimana cara pencegahannya, dan jika sudah ada diagnosis untuk segera di rujuk di rumah sakit terdekat.
Dirinya juga mengimbau kepada semua instansi terkait, agar melakukan langkah – langkah konkret dalam penanganan DBD di Kabupaten Kendal, agar melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara serentak mulai dari tingkat dasawisma harus ikut melakukan pemantauan jentik nyamuk.
“PSN ini harus ditindaklanjuti dan dilaksanakan secara serentak oleh semua stakeholder, mulai tanggal 8-11 Maret 2024 di semua lingkup masyarakat, mulai dari lingkup sekolah dikoordinatori oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kemenag, dan UPTD Wilayah XIII dan PSN tingkat RT dikoordatori oleh Ketua RT setempat,” pesan Sekda Kendal.
Ia juga menugaskan para camat untuk melakukan monitoring terkait dengan PSN tersebut di wilayahnya masing-masing, apakah PSN itu benar-benar sudah dilaksanakan atau belum, sehingga pelaksanaan PSN ini dapat dilaksanakan dengan baik.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal, dr. Abidin menyampaikan, kasus terbanyak untuk angka kematian kasus DBD ada di Kecamatan Boja, namun untuk keseluruhan kasus tersebar hampir merata di setiap kecamatan, dan yang terdampak mulai usia balita, anak-anak, hingga orang dewasa.
“Adapun langkah yang sudah dilakukan Dinkes Kendal, dengan melakukan Fogging fokus di wilayah setelah melakukan penyelidikan epidemiologi. Dari hasil rapat koordinasi ini, akan segera ditindaklanjuti langkah-langkah konkret sesuai dengan arahan Sekda Kendal, dengan harapan kasus DBD di Kendal bisa segera mereda,” ungkapnya. (HS-06)