HALO SEMARANG – Makanan Kupat Jembut sudah menjadi tradisi rutin hidangan di setiap lebaran syawal di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Sesuai namanya, Kupat Jembut sering kali mendapatkan komentar miring atau bahan candaan terkait penamaannya karena dinilai jorok.
Namun terlepas dari itu, dari segi asal-muasal tradisi kupat ini punya akar sejarah yang sangat kuat. Juwarti sesepuh di RW 1 Kelurahan Pedurungan Tengah ini menjelaskan betapa panjang sejarah kupat jembut di kampungnya. Wanita berusia 73 tahun itu adalah generasi paling lama di kampung tersebut dan tidak ada lagi kawan seangkatan yang tersisa.
“Tradisi ini sudah ada sejak saya kecil dan saya adalah orang terakhir dari generasi saya,” ujarnya saat ditemui dalam perayaan Syawalan, Senin (9/5/2022).
Kata Juwarti kupat jembut kurang lebih seperti kupat biasa yang di tengahnya dimasuki sayur-sayuran yang diurap dengan kelapa parut. Selain kupat jembut, ada juga yang menyebut dengan Kupat Sumpel.
Tradisi ini sempat berganti-ganti konsep yang awalnya hanya dibagikan di masjid dan dimakan bersama-sama. Namun lambat laun, karena anak-anak semakin banyak, dilaksanakan dengan cara berderet di sepanjang kampung seraya membagikan uang.
”Inti dari prosesi kupat jembut adalah untuk mengucap syukur dan menolak bala,” tambahnya.
Selain di Pedurungan Tengah, tradisi bagi-bagi kupat jembut juga dilakukan di Jaten Cilik yang masih satu kecamatan dengan Pedurungan Tengah. Di sini ada Munawir yang tahu lebih dalam mengenai asal-usul Kupat Jembut.
“Kupat ini sudah ada sejak tahun 1951,” terangnya.
Jadi ceritanya di tahun itu ada seorang warga yang pulang kampung akibat perang dunia kedua. Saat itu warga masih hidup dalam kesederhanaan dan tidak ada bahan baku lain selain tauge, kelapa dan lombok.
Namun setelah bulan ramadan warga ingin melakukan syukuran. Akhirnya karena yang ada hanya bahan baku tadi, terciptalah kupat jembut.
“Kalau dibuat kupat jembut kan langsung bisa dimakan tanpa membutuhkan banyak lauk pauk lainnya,” paparnya.
Tradisi ini terus dilakukan secara turun temurun. Pada tahun-tahun tertentu karena berbagai gejolak politik di Indonesia, mungkin sempat berhenti, namun setelahnya tetap diadakan.
Terkait penyebutan jembut, hal ini sebetulnya hanya spontanitas warga. Sebab memang dari bentuk mirip seperti organ kelamin perempuan.
“Tapi kendati demikian, bukan berarti sebutan itu dimaksudkan untuk pemaknaan yang jorok,” imbuhnya. (HS-06)