in

Satgaswil DIY Densus 88 Anti Teror Polri Gelar Pencegahan Radikalisme Remaja di Kota Yogyakarta

Satgaswil DIY Densus 88 Anti Teror Polri, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah KPAID, menggelar Seminar Sosialisasi Deteksi Dini dan Penanganan Terorisme di Aula Bima Balai Kota Yogyakarta, belum lama ini. (Foto : Tribratanews.polri.go.id)

 

HALO SEMARANG – Satgaswil DIY Densus 88 Anti Teror Polri, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah KPAID, menggelar Seminar Sosialisasi Deteksi Dini dan Penanganan Terorisme di Aula Bima Balai Kota Yogyakarta, belum lama ini.

Kegiatan ini diikuti 120 kepala sekolah dan guru bimbingan konseling SMP MTs se-Kota Yogyakarta sebagai garda terdepan pengawasan radikalisme di lingkungan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Budi Santoso Ansori, menyoroti peran strategis sekolah di era teknologi.

“Kemajuan teknologi memberikan dampak siginifikan bagi pendidikan. Sekolah menjadi tempat utama mengawasi anak muda setiap hari, sehingga kolaborasi dengan Satgaswil DIY Densus 88 dan Wali Kota Yogyakarta krusial untuk pencegahan proaktif radikalisme,” tegasnya.

Kasatgaswil DIY Densus 88 menyampaikan pemetaan ancaman yang menunjukkan penurunan aksi teror di DIY berkat program pencegahan, meski Indeks Potensi Radikalisme nasional naik 11,7 persen pada 2023.

Radikalisme dimulai dari intoleransi menuju terorisme, menyebar via medsos dan game online, dengan bullying sebagai faktor kerentanan utama.

“Bullying membuat anak rentan adiktif konten radikal. Kami ajak kepala sekolah dan guru kolaborasi sebarkan edukasi bahaya bullying serta paham IRET di sekolah,” ujarnya.

Kepala KPAID Yogyakarta, Silvy Dewayani, menambahkan aspek psikologis bahwa emosi tak terkendali dan frustrasi jadi celah radikalisasi.

“Guru harus peka kondisi sosial siswa, bentuk mental kuat untuk hadapi tekanan. Penguatan mindset positif lewat kurikulum, advokasi sosial, dan pengawasan gadget krusial cegah pornografi, cyberbullying, hingga propaganda radikal,” katanya.

Ia serukan sinergi orang tua, guru, dan stakeholder seperti DP3AP2, Dinsos, Kemenag, serta Kesbangpol.

Seminar ini jadi strategi komprehensif pencegahan akar rumput, memutus rantai radikalisme agar lingkungan sekolah aman dan kondusif bagi generasi muda. (HS-08)

Kemenpar Promosikan Destinasi Wisata di Banyuwangi dan Bali ke Empat Benua

Gubernur Ahmad Luthfi Sebut Jawa Tengah Mampu Jadi Pusat Gerakan Petani