HALO SEMARANG – Suasana pembukaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 mendadak riuh ketika dua siswa sekolah dasar diminta menghitung menggunakan bahasa Jawa di hadapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Jumat (9/10/2026).
Keduanya sempat keliru menyebut urutan angka setelah melewati bilangan 20. Meski mengundang gelak tawa para tamu undangan, momen itu berujung kejutan manis, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menjanjikan hadiah sesuai permintaan masing-masing siswa.
Peristiwa tersebut terjadi di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Semarang, saat Taj Yasin yang akrab disapa Gus Yasin berbicara mengenai kebijakan Pemprov Jateng yang menerapkan penggunaan bahasa Jawa setiap Kamis.
Untuk menunjukkan pentingnya membiasakan bahasa daerah sejak dini, ia kemudian mengundang dua siswa naik ke panggung. Mereka adalah Lintang dari SD Negeri Grogolsari, Kabupaten Pati, dan Mayo dari SD Hj. Isriati, Kota Semarang.
“Coba menghitung 1 sampai 25, pakai bahasa Jawa,” ujar Taj Yasin yang hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Lintang dan Mayo pun mulai berhitung. Keduanya melafalkan angka demi angka dengan cukup lancar. Namun, ketika melewati bilangan 20, mereka keliru menyebut urutannya dengan mengatakan “loro siji”.
Kesalahan tersebut sontak mengundang tawa para undangan, termasuk Mendikdasmen Abdul Mu’ti yang turut menyaksikan momen itu.
Taj Yasin kemudian membetulkan hitungan keduanya sekaligus mengajari mereka urutan bilangan dalam bahasa Jawa. Suasana pun kembali cair ketika ia menawarkan hadiah kepada kedua siswa tersebut.
“Mau minta apa?” tanyanya.
Tanpa ragu, Lintang meminta sebuah sepeda. Sementara itu, Mayo memilih uang tunai sebesar Rp 2 juta.
Taj Yasin menyanggupi permintaan keduanya dan meminta ajudannya menindaklanjuti hadiah tersebut.
“Mas, nanti dikasih ya, Mas,” ujarnya kepada sang ajudan.
Janji hadiah itu langsung disambut kegembiraan kedua siswa. Lintang mengaku senang karena akan mendapatkan sepeda baru yang bisa digunakan untuk jalan-jalan.
“Senang dapat sepeda, buat jalan-jalan. Makasih karena sudah dikasih sepeda baru,” kata Lintang.
Berbeda dengan Lintang, Mayo berencana memberikan uang yang diterimanya kepada orang tua.
“Uangnya mau buat orang tua, terima kasih sekali,” ujar Mayo.
Momen sederhana tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pembukaan FTBI Jawa Tengah 2026. Di tengah suasana festival yang merayakan bahasa ibu, interaksi antara wakil gubernur dan dua siswa itu memperlihatkan bagaimana pengenalan bahasa daerah dapat berlangsung secara santai dan menyenangkan.
Festival ini merupakan bagian dari upaya pelestarian bahasa daerah sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa ibu. Penggunaan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari diharapkan tidak berhenti sebagai materi pelajaran, tetapi menjadi kebiasaan yang terus hidup di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
FTBI Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 diikuti 490 siswa SD dan SMP yang merupakan juara pertama dari tingkat kabupaten/kota. Mereka didampingi 70 guru dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Festival berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah dan kampus Universitas Ngudi Waluyo. Berbagai cabang perlombaan digelar untuk menguji kemampuan peserta dalam menggunakan dan mengembangkan bahasa daerah.
Cabang yang dilombakan meliputi menulis dan membaca aksara Jawa, membaca geguritan, menulis cerkak, mendongeng, berpidato, nembang macapat, hingga komedi tunggal.
Melalui festival ini, bahasa Jawa diharapkan semakin akrab dengan generasi muda, bukan sekadar sebagai warisan masa lalu, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang patut dijaga dan dibanggakan.(HS)


