HALO SEMARANG – Tragedi kekerasan seksual di berbagai kota pada Mei 1998, diperingati dengan sajian rujak pare sambal kecombrang dan doa bersama untuk aktivis mendiang Margaretha Martadinata Haryono, Sabtu (23/5/2026) di Boen Hian Tong atau gedung perkumpulan Rasa Dharma di Jalan Gang Pinggir 31, Kranggan, Semarang.
Menurut Detti Artsanti, dari Badan Pekerja Komnas Perempuan yang hadir malam itu, tragedi Mei 98 bukan untuk dilupakan.
Terlebih kekerasan terhadap perempuan, diskriminasi, ujaran kebencian, hingga upaya membungkam suara korban masih terus terjadi.
Karena itu diperlukan upaya untuk terus melawan lupa. Bahkan upaya untuk terus mengingatkan publik bukan hanya tugas penyintas ataupun aktivis, melainkan menjadi tanggung jawab moral bersama.
Melawan lupa, berarti berani mengakui sejarah, sekaligus menjaga empati tetap hidup.
“Melawan lupa berarti memastikan generasi muda memahami bahwa demokrasi dan kemanusiaan, tidak hadir begitu saja, tetapi diperjuangkan dengan harga yang sangat mahal,” kata Detti.
Dia menegaskan bahwa tragedi 98 ini hanya menjadi catatan tahunan yang dibacakan tanpa makna.
“Seperti juga kita tidak ingin acara hari ini juga berakhir tanpa makna, tanpa kita tahu apa yang harus kita lakukan ke depan,” kata dia.
Maka dari itu dia mengajak agar ingatan akan masa-masa kelam itu, menjadi sebuah energi untuk terus membangun masyarakat yang lebih adil, lebih aman, dan lebih manusiawi bagi perempuan dan kelompok rentan lainnya.
“Komnas Perempuan percaya bahwa selama ini masih ada orang-orang yang bersedia mengingat, bersuara, dan berdiri bersama korban, dan harapan ini belum padam,” kata dia.
Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Perkumpulan Rasa Dharma dan seluruh pihak, yang terus menjaga ruang ingatan ini.
“Semoga peringatan di malam ini bukan hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga keberanian untuk terus meluang rupa. Karena… Ingatan adalah bentuk perlawanan dan kemanusiaan harus selalu dijaga,” kata dia.
Pernyataan senada disampaikan tokoh Tionghoa, sekaligus Ketua Boen Hian Tiong, Harjanto Halim. Menurut dia, tragedi Mei 98 tidak akan pernah bisa dihilangkan dari ingatan kolektif bangsa, betapa pun ada pihak-pihak yang berusaha mengaburkannya dalam catatan sejarah.
Namun di masa sekarang ini, sejarah kelam tersebut menjadi penyemangat bagi masyarakat untuk melawan kekerasan dan ketidakadilan pada perempuan.
Sebenarnya diperlukan upaya untuk memperkuat perempuan, supaya dapat melawan kekerasan.
Namun upaya-upaya semacam itu bakal menghadapi tantangan yang tidak mudah, antara lain karena adanya sistem sosial yang memposisikan laki-laki selalu lebih tinggi dibanding perempuan.
Walaupun demikian tetap diperlukan upaya bersama-sama, untuk melawan kekerasan, minimal dengan mencegah agar tidak terjadi.
Sementara itu, tragedi 98 di Boen Hian Tong Semarang, Sabtu (23/5/2026) juga diperingati dengan menghadirkan sajian rujak pare sambal kecombrang dan doa bersama untuk aktivis mendiang Margaretha Martadinata Haryono.
Harjanto Halim menuturkan bahwa sajian rujak pare sambal kecombrang merupakan pengingat betapa pahit tragedi 98 tersebut.
Dalam proses pembuatan sajiannya, pare mentah diiris tipis-tipis, dicuci bersih, lalu didinginkan menggunakan es batu. Selanjutnya, ditambahkan sambal rujak dan bunga kecombrang, untuk diulek.
Ketika dimakan, rasanya sangat pahit dan pedas. Harjanto menjelaskan kepahitan rujak pare menggambarkan betapa pahitnya peristiwa 98 itu dalam sejarah Indonesia.
Adapun bunga kecombrang menjadi simbol perempuan Tionghoa, dan sambalnya menggambarkan derita mereka sebagai penyintas pemerkosaan.
Dalam acara tersebut, peserta juga mendoakan mendiang Margaretha Martadinata Haryono atau Ita Martadinata Haryono, (21 Maret 1981 – 9 Oktober 1998) adalah siswi kelas III SMA Paskalis, yang kala itu berusia 17 tahun menjadi seorang aktivis HAM Indonesia.
Dia tewas dibunuh secara misterius, tak lama sebelum dia bersaksi di Sidang PBB, New York terkait pemerkosaan massal di Indonesia pada masa Reformasi. Ia ditemukan tewas di kamarnya di Sumur Batu, Jakarta Pusat. (HS-08)