HALO BISNIS – Kebutaan memiliki risiko tiga kali lebih besar akan kemungkinan akan kehilangan pekerjaan. Selain itu, akibat kebutaan juga berisiko mengalami kecelakaan dan depresi. Bagi orang tua yang mengalami kebutaan, juga dua kali kemungkinan akan terjatuh.
“Kalau sudah jatuh tulang orang tua gampang patah. Perlindungan diri kita bukan APD, helm, utamanya adalah penglihatan. Jadi memakai helm pun, kalau penglihatan kita tidak cukup baik dapat masuk ke lubang,” kata Presiden Direktur JEC Eye Hospitals and Clinics, dr Johan Hutauruk, Sp.M(K) saat pembukaan Rumah Sakit Mata JEC-Candi @Semarang, Jalan Pamularsih Raya No 112 Semarang, Kamis (3/2/2022).
Johan melihat saat masyarakat hidup di era informasi. Artinya kalau ketinggalan informasi kemungkinan akan lebih terbelakang dari negara-negara lain.
“Makanya pemerintah menyatakan berantas buta huruf. Karena tidak bisa membaca akan susah mendapatkan informasi,” katanya.
Joha menjelaskan, berdasarkan sebuah penelitian yang ada, sebanyak 83 persen informasi masuk melalui penglihatan.
Kemudian, 11 persen melalui pendengaran, 3,5 persen melalui penciuman, dan 1,5 persen melalui perabaan dan test (rasa).
“Kita beruntung, tidak ada satupun di sini yang buta, sehingga bisa mendapatkan informasi melalui penglihatan sebanyak 83 persen,” terangnya.
Ia melanjutkan, berdasarkan penelitian yang lain juga menunjukkan bahwa kebutaan berkaitan erat dengan kemiskinan. Menurutnya, jika ingin memberantas kemiskinan, tapi tidak dibarengi dengan mengatasi kebutaan maka akan susah terwujud.
Ia mengibaratkan, satu orang buta akan membuat satu orang lagi tidak dapat bekerja karena harus menemani orang buta tersebut.
“Di berbagai negara, kebanyakan rakyat yang penglihatannya kurang baik, maka kemungkinan negara tersebut lebih miskin dari negara lain yang memperhatikan kesehatan mata,” urainya.
Karena kesehatan mata merupakan andalan setiap individu untuk meningkatkan kualitas hidup masing-masing serta secara bersama-sama juga meningkatkan kualitas hidup berbangsa dan bernegara.
Maka salah satu fokus JEC Eye Hospitals and Clinics, menurut Johan ialah meningkatkan penglihatan, karena akan meningkatkan kualitas hidup seseorang.
“Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan, orang yang kehilangan penglihatan tapi belum tentu buta (penglihatannya di bawah 0,1) tiga kali kemungkinan kehilangan pekerjaan,” terangnya.
Menurut Johan, hampir semua kebutaan yang terjadi di dunia dikarenakan katarak, hingga WHO menyatakan setiap negara harus menghitung atau menjalankan operasi katarak per satu juta penduduk. Pada 2019 lalu Indonesia telah melakukan sebanyak 2.500 operasi katarak per satu juta penduduk.
Sementara WHO menyarankan untuk mengatasi kebutaan minimal dilakukan 3.500 operasi katarak per satu juta penduduk.
Ia mencontohkan, Malaysia pada 2014 menjalankan operasi sebanyak 2.500 katarak per satu juta penduduk. Nepal juga demikian, bahkan untuk mengentaskan kemiskinan dan mengatasi kebutaan, pemerintah Nepal melakukan 3.000 operasi katarak per satu juta penduduk.
“Negara maju tidak perlu ditanya, Australia, Amerika Serikat pada 2016 rata-rata menjalankan 9.000 operasi katarak per satu juta penduduk,” terangnya.
Artinya dokter-dokter mata di Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Mereka masih banyak tugas untuk membantu pemerintah dalam mengentaskan kebutaan agar masyarakat Indonesia terhindar dari kemiskinan. Karena kebutaan berkaitan erat dengan kemiskinan.
Johan menyebut angka kebutaan di Indonesia hampir mencapai 3,5 juta jiwa. Sementara Nepal sudah tidak ada yang buta, Malaysia juga sama tapi masih ada yang mengalami gangguan penglihatan.
“Jadi angkanya cukup besar hampir 3,5 juta orang. Tugas pemerintah berat, kita harus membantu. Kita sebagai dokter mata, tugas kita mengatasi kebutaan,” imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Utama Rumah Sakit Mata JEC-Candi @Semarang dr Sri Inakawati, MSi, Med, Sp.M (K) menambahkan, prevalensi kebutaan di Jawa Tengah mencapai 2,7 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional yaitu 3,0 persen.
“41,3 persen pasien katarak di Jawa Tengah tidak mengetahui jika gangguan mata ini dapat disembuhkan,” katanya.
Oleh karena itu, Rumah Sakit Mata JEC-Candi Semarang akan terus mengedukasi masyarakat Jawa Tengah bahwa katarak dapat disembuhkan.
Ia mengatakan bahwa Rumah Sakit Mata JEC-Candi Semarang memiliki standar pelayanan internasional. Untuk memudahkan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, pihaknya menerapkan sistem <I>one stop service<P> (pelayanan komprehensif di satu lokasi) tanpa perlu ke luar negeri.
“Terdiri dari gedung tujuh lantai seluas 6.000 meter persegi yang berdiri di atas lahan 2.000 meter persegi. Kami targetkan 100.000 kunjungan pasien sepanjang 2022,” imbuhnya.(HS)