in

Ribuan Buruh Sritex Di-PHK Massal, Legislator Ini Sampaikan Keprihatinan

Perpisahan buruh Sritex pasca PHK massal setelah perusahaan tersebut diputus pailit oleh pengadilan. (Sumber : Tiktok iwanklukminto)

 

HALO SEMARANG –  Anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief menyoroti secara tajam penutupan PT Sritex dan PHK terhadap puluhan ribu pegawainya.

Ia menyampaikan keprihatinan yang mendalam, atas kondisi yang terjadi pada industri tekstil terbesar se-Asia Tenggara itu.

“Sebagai anggota Komisi VII DPR RI yang membidangi perindustrian, saya menyampaikan keprihatinan mendalam atas penutupan PT Sritex dan dampaknya bagi lebih dari 10.665 karyawan yang kehilangan pekerjaan,” kata dia di Jakarta, Minggu (2/3/2025), seperti dirilis dpr.go.id.

Dia menekankan bahwa PHK terhadap puluhan ribu karyawan, bukan sekadar angka, tetapi menyangkut masa depan semua keluarga yang bergantung hidup pada keberlangsungan industri ini.

Keputusan pailit ini, tentu menjadi pukulan berat, tidak hanya bagi pekerja tetapi juga bagi sektor tekstil nasional.

“Industri tekstil selama ini menjadi salah satu sektor strategis dalam perekonomian Indonesia, dan apa yang terjadi pada Sritex menjadi peringatan bagi kita semua akan tantangan besar yang dihadapi sektor ini,” kata anggota DPR RI dari Dapil Riau I ini.

Dalam menghadapi kondisi ini, kata Hendry, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan.

Pertama, pemerintah harus memastikan pemenuhan hak karyawan yang terkena PHK.

“Kami akan mengawal agar hak-hak pekerja, termasuk pesangon dan jaminan sosial, benar-benar diberikan sesuai ketentuan yang berlaku. Pemerintah juga perlu memastikan adanya skema perlindungan tenaga kerja bagi mereka yang terdampak,” kata dia.

Kedua, lanjut Hendry, pemerintah harus mengevaluasi kebijakan industri tekstil nasional.

Pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap daya saing industri tekstil nasional, termasuk dampak serbuan impor tekstil yang semakin melemahkan industri dalam negeri.

“Regulasi yang lebih berpihak kepada industri dalam negeri harus menjadi perhatian utama agar kejadian serupa tidak terus berulang,” ujarnya.

Ketiga, imbuh Handry, pemerintah harus mendorong solusi bagi eks-karyawan.

Pemerintah dan pihak terkait perlu menyiapkan program pelatihan ulang (reskilling & upskilling), agar para pekerja yang terdampak bisa terserap di industri lain atau memiliki keterampilan baru.

“Dukungan bagi wirausaha juga harus diperkuat, baik melalui akses permodalan maupun pelatihan usaha,” kata dia.

Keempat, lanjut Hendry, terkait masa depan industri tekstil nasional, kasus Sritex ini harus menjadi pelajaran berharga agar sektor industri tekstil dan manufaktur dalam negeri tidak semakin terpuruk.

Pemerintah, DPR, dan pemangku kepentingan harus bekerja sama dalam menyusun kebijakan industri yang lebih berkelanjutan dan kompetitif di tengah dinamika global.

“Kami di Komisi VII DPR RI akan terus mengawal perkembangan industri nasional agar tetap mampu bersaing dan memberikan kontribusi bagi perekonomian serta kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

“Kami juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mencari solusi terbaik demi masa depan industri nasional yang lebih kuat dan berdaya saing,” tutup Hendry.

Perpisahan

Sebelumnya, perpisahan penuh haru digelar manajemen dan seluruh karyawan Sritex di lapangan di depan pabrik tekstil itu, menyusul keputusan pailit yang dijatuhkan pada perusahaan tersebut oleh pengadilan.

Pada 18 Februari 2025, ribuan buruh itu memutuskan untuk tetap datang ke pabrik tetapi bukan untuk bekerja, melainkan bertemu untuk terakhir kalinya.

Dengan tetap mengenakan seragam kerja, mereka berkumpul dan menyanyikan lagu “Kenangan Terindah” yang pernah dipopulerkan Samson Band.

Melalui lagu itu, mereka meneguhkan bahwa masa-masa bekerja di Sritek merupakan moment-moment yang indah dan itu tidak akan terulang karena perusahaan itu telah pailit.

Dua putra Lukminto, mendiang pendiri Sritex Group yaitu Iwan Setiawan Lukminto yang merupakan Komisaris Utama Sritex dan Iwan Kurniawan Lukminto Direktur Utama Sritex, berbaur dengan para karyawan mereka yang kini terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Kekeluargaan ini yang harus terus kita jaga. Para kurator selalu membicarakan mengenai aset. Namun mereka lupa bahwa yang paling berharga adalah kita semua ini,” kata Dirut Sritex, Iwan Kurniawan Lukminto, seperti tergambar dalam video yang diunggal di akun Tiktok iwanklukminto.

Tak hanya Iwan yang nampak mengusap air mata, banyak buruh juga melakukan hal yang sama.

Ada yang menangis, ada pula yang saling rangkul sebagai tanda perpisahan.

Ada pula yang meninggalkan kenangan dengan saling menandatangani seragam satu sama lain, seperti ketika perpisahan sekolah.

Seragam yang telah ditandatangani itu menjadi sebagai sebuah cenderamata, untuk disimpan dan dikenang di kemudian hari.

Lebih dari 10 ribu karyawan Sritex sekarang sudah tidak memiliki pekerjaan, sementara Lebaran sudah semakin dekat.

Sementara itu diperoleh informasi, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dispenaker) Kabupaten Sukoharjo, menyebutkan jumlah karyawan di PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo  yang terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebanyak 8.475 orang.

Kepala Dispenaker Sukoharjo, Sumarno mengatakan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo sudah mempersiapkan informasi lowongan pekerjaan sebanyak 7.832 lowongan.

“Lowongan pekerjaan yang sudah di informasikan di Sukoharjo sendiri ada 7.832 lowongan kerja. Lowongan kerja itu ada di wilayah Kabupaten Sukoharjo dan sekitarnya,” paparnya. (HS-08)

Kemenag Buka Pasaraya Ramadan Competition

Menuju Lebaran 2025, Ini Imbauan Kakorlantas Polri untuk Pemudik